Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu (part 2)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 87
#TantanganGurusiana
Sebagai sebuah rumah tangga baru tentu saja Viona ingin mempunyai peralatan memasak sendiri. Kebetulan di sekolahnya ada kredit kompor gass, maka tentu saja dengan senang hati dia ikut bagian dalam mengambil kreditan itu.
“Kamu ndak usah iri dengan tetangga. Ngapain kamu beli kompor gass la wong sudah ada kompor biasa. Kalau ingin cepat ya pakai kayu. Kayunya kan banyak?” Kalimat ibu mertuanya terasa sakit yang nikmat di hati Viona.
“Ma’af, saya ingin mandiri Bu. Saya beli kompor gass bukan iri siapa-siapa. Saya tidak tahu tetangga memasak dengan cara apa karena saya belum pernah main ke tetangga. Lagi pula, kompor itu kredit kok,Bu.” Viona berusa menjelaskan.
Setiap kali ibu mertuanya datang, Viona ingin sekali dirinya lenyap agar tak ada bahan bagi si ibu untuk mengoreksi ini itu. Ujian skripsi itu mendebarkan, tapi lebih menciutkan hati Vio kala sang ibu mertuanya yang mengoreksi apapun yang ia lihat. Apalagi tentang Vio, tak ada yang benar.
Tak ada pilihan bagi Viona kecuali menikmati setiap detail ucapan tajam sang ibu mertua. Vio memilih menata setiap goresan menjadi catatan-catatan yang akan memicunya menjadi lebih baik demi mengambil hati sang ibu.
“Ibu belum mengenalku,” gumam Vio dalam hatinya.
“Hmmm …, oke Ibu, teruskan menguliti apa saja di diriku sampai kau bisa melihatku seperti yang kau mau. Sejak aku putuskan menikah dengan putramu, aku siap menjadi bukan diriku.” Viona menelan ludahnya beruang-ulang untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Ia hanya bisa melipat bibirnya agar bertahan tak nampak rapuh dengan buliran bening yang mulai mengaburkan pandangannya.
Vio paham sepenuhnya bahwa ia bukan menantu idaman di mata sang ibu karena Vio tak bisa memasak. Vio juga tak bisa melakukan hal-hal sepele di dapur. Apalagi membuat sambal terasi yang menjadi menu pelengkap utama di setiap sajian makan.
“Ealah …! Bikin sambel aja gak bisa. Ya … maklum, bu guru tangannya halus gak biasa kerja di dapur. Bisanya pake pembantu.” Ucapan itu seperti kaset yang diputar ber ulang-ulang di manapun acara makan. Satu, dua, tiga kali Viona merasakan sakit. Namun di kesekian kali, Vio mulai bisa menikmati tiap ucapan itu seperti nikmatnya sambal pedas yang sudah bisa ia buat.
****
Langit siang itu mendadak mendung. Di halaman rumah besar itu sedang menjemur jagung hasil panen raya. Semua berlarian menyelamatkan jagung yang mulai kering. Para pekerja, tak terkecuali seluruh anggota keluarga juga Viona harus turut serta dalam menyelamatkan jagung sebelum hujan benar-benar jatuh. Tak ada yang menyuruhnya melakukan itu.
Namun, Vio adalah perempuan yang sangat tahu diri. Ia siap menikmati semua perubahan sebagai konsekwensinya memilih suami yang ia pilih. Tanpa canggung ia mengambil sekop untuk membantu semua yang bekerja. Ia tak boleh lagi takut dengan sengatan matahari. Ia tak boleh lagi berpikir kukunya akan patah.
Perih tangannya mulai mengeras alias ‘mengapal’. Handbody tak mampu menghaluskannya. Lagi pula, Vio lebih suka telapak tangan yang ‘berkapal’ sehingga ia tak akan merasakan perih lagi. Sungguh bulan madu yang luarbiasa. Tidak menjadi dirinya adalah sensasi nikmat yang nyaman.
Vio mulai enggan berdandan jika tidak karena berangkat dinas. Toh nanti akan terkena terik matahari malah akan nampak seperti kepiting rebus. Vio mulai bisa minum dari botol tanpa gelas … gleg …gleg …gleg … tanpa tumpah adalah kebanggaan tersendiri. Semula ia kaget dan risih melakukannya. Ternyata ketika sangat haus di terik matahari, minum dengan cara seperti itu sangatlah nikmat.
Acara panen berhari-hari itupun usai. Sebagian hasil panen disimpan ke gudang atau lumbung. Sebagian yang lain telah diangkut truk untuk dijual ke pabrik atau para pengepul. Vio merasa lega, sebentar lagi jerih payahnya akan terganti.
He … he …, lagi-lagi Vio gagal faham. Ia belum sepenuhnya berhasil belajar. Ternya hasil panenan bukan milik suaminya. Tapi masih milik keluarga besarnya. Setiap anak akan memperolah bagian sendiri-sendiri dipotong ongkos dan modal tanam kembali. Tak apalah, sudah lumayan banyak.
Namun Vio tak terlalu berharap. Gajinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Tertanam di hatinya nasihat-nasihat ayah ibunya. “Jarum patah itu sudah tak memiliki fungsi, jika bukan milikmu, kau tak berhak memungutnya,”
Berbekal nasihat-nasihat itu, Vio tak pernah mengharap-harap meski dari suaminya yang seharusnya menjadi hak baginya menerima. Namun bagi Vio, meminta sesuatu lalu diberi, akan beda makna manakala menerima tanpa meminta. Apapun itu akan beda rasa. Meminta yang menjadi haknya adalah hal yang paling ia tidak suka.
Bulan-bulan pertama pernikahannya adalah neraka yang ia jelmakan menjadi surga. Setiap kali ia merasa hendak tumbang, ia kuatkan bahwa semua ini adalah konsekwensi atas pilihan yang telah ia genggam.
Seberapa tangguh Vio menggenggam bara di jemarinya yang tak lagi lentik?
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
