Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu (part 3)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 88
#TantanganGurusiana
Enam bulan pernikahan telah Viona lewati dengan penuh pembelajaran hidup. Ia berjibaku dengan waktu untuk mengalahkan semua kata hatinya agar tak cengeng dan rapuh. Viona membulatkan hatinya demi meraih hati orang-orang di sekeliling suaminya. Damai tapi gersang, seperti itu Vio menilai hubungan antara suami dan orang-orang di sekelilingnya.
Berbanding terbalik dengan keluarga Viona yang selalu perduli satu sama lain. Viona mulai rindu suapan ibunya. Vio rindu suara bioala yang dimaikan ayahnya ketika bersantai bersama. Lagu mendayu ‘Timang-Timang Anakku Sayang” terdengar syahdu menenangkan hatinya …
Timang timang anakku sayang Buah hati ayahanda seorang Jangan menangis dan jangan merajuk sayang Tenanglah tenang di dalam buian
Betapakah hati kan riang Ingat kau begurau dan ketawa Mogalah jauh dari marabahaya sayang Riang gembira sepanjang masa
Setiap waktu ku berdoa Pada Tuhan Yang Maha Kuasa Jika kau sudah dewasa Hidupmu bahagia sentosa … (**(censored)**
Vio rindu halaman hijau rindang penuh bunga yang tak ia temukan di hadapannya. Sejauh mata memandang hanya hamparan luas tanah berselimut semen gersang berbatas tembok kering yang tak mampu lagi bercerita tentang panas kerontang. Lumutpun tak sempat tumbuh di sana. Tembok abu-abu berdebu.
Vio rindu angin semilir sejuk beriring gemirincing air mancur di depan jendela kamarnya. Bukan suara mesin diesel perontok padi yang menambah hirupan udara serasa makin panas.
“Ayah …, Ibu … ma’afkan anakmu lama tak berkabar dan tak pulang meski rindu. Anakmu tak ingin kau mendengar tangisku di ujung telepon apalagi menggenggam tanganku yang tak lagi lembut.
Aku tak mau ibu mengomel karena lama aku tak membalur tubuhku dengan lulur. Aku tak ingin mempersembahkan kesedihan. Aku tak ingin membuat kalian khawatir. Biarkan aku belajar tangguh. Ini hanya masalah waktu. Ini hanya masalah membiasakan diri, nanti semua akan menyenangkan.
“Assalamu’alaikum …,”
“Suara ibu!” gumam Vio bergegas ke pintu depan.
“Wa alaikumsalam …, Ayah …! Ibu …!” pekik Vio menubruk dan memeluk ibunya. Ia ciumi wajah teduh yang sangat ia rindukan. Kemudian ia berganti memeluk ayahnya. Membenamkan wajahnya yang tak berseri di dada ayahnya. Serasa tentram dan hilang segala beban rindunya.
“Mana suamimu?” tanya ibunya seraya mengikuti Vio menuju dapur.
“Di sawah, Bu. Semua masih belum pulang, nanti menjelang duhur biasanya mereka pulang untuk sholat.” Vio berusaha berbicara serenyah mungkin. Agar tak nampak kesedihan di suaranya.
“Kamu menyetrika sebanyak itu ?” tanya ibunya menatap heran tumpukan baju setempat tidur yang masih separuh selesai Vio setrika sejak pagi.
“Oh … iya, tukang setrikanya minta libur bu kalau hari minggu. Aku hanya setrika yang penting-penting saja kok, Bu. Hanya baju dinas dan baju-baju yang akan ku pakai keluar rumah.” Kata Vio sambil menggandeng lengan ibunya ke ruag tamu agar duduk bersama ayahnya saja. Vio tak ingin ibunya banyak bertanya tentang bagaimana cara Vio memasak ataupun mencuci.
“Apa saja yang kau kerjakan Vio?” Ibunya meletakkan kedua telapak tangannya di pipi kiri-kanan Vio degan lembut. Tatapan teduhnya seolah ingin membaca cerita di mata Vio yang berkaca-kaca. Tanpa kata, ibunya mendekap Vio ke dadanya. Vio menurut saja karena ia memang rindu pelukan itu. Vio menangis tertahan. Punggungnya berguncang.
“Sudah … sudah …, jangan menangis.” Kata ayah Vio menangkan keduanya.
“Makanya Vio, kalau ada apa-apa harusnya kamu menelepon. Jangan membuat ayah dan ibu khawatir. Biasanya kamu menelepon jika tak sempat pulang. Ini hampir satu bulan kamu gak kasih kabar apa-apa ke ayah dan ibu. Jika keadaanmu bahagia, ayah dan ibu tak masalah. Tapi jika sebaliknya bagaimana?”
“Ayah ibu datang kesini karena memimpikanmu tidak enak. Ayah dan ibu khawatir terjadi apa-apa denganmu. Sebab ayah tahu di sini pasti sangat berbeda dengan di rumah. Di sini orangnya akngkuh-angkuh.”
“Ssst …! Sudahlah ayah! Jangan nambah-nambahi pikiran Vio,” kata ibunya protes dengan apa yang diucapkan suaminya.
Sejak awal ayah Vio memang kurang setuju Vio menikah dengan petani. Pelamar Vio yang pertama ditolak karena seorang petani, yang menurut ayahnya, meskipun petani itu kaya sebagai tuan tanah, tak menjamin hidup bahagia. Ayahnya lebih suka mempunyai menantu yang pegawai Negeri meski tidak kaya raya.
Ayah Vio sangat fanatik dengan profesi pegawai negeri. Karena menurut hemat sang ayah, menjadi pegawai negeri itu hidup terjamin sejak lahir sampai pensiun. Semua di bayar pemerintah. Meski jarang yang kaya raya, tapi kehidupannya tenang.
“Ayah dan ibu menginap kan?” tanya Vio mengalihkan perdebatan ayah dan ibunya.
“Ayah dan ibu hanya sebentar. Setelah ashar kami pulang. Kalau kamu mau ikut, ayo siap-siap,” kata ayah Vio sambil menyeruput teh hangat di hadapannya.
“He … he … he …, Vio besok kan dinas, Yah. Kayak anak kecil saja pake dijemput.” Sahut Vio.
“Vio … sesibuk apapun menjadi istri, tetaplah berdandan.” Nasihat ayah Vio terdengar serius. Mungkin karena ayahnya melihat Vio tak biasa, tampak pucat dan kumal tanpa lipstik apalagi make-up. Jerawat Vio memang mulai nampak bertaburan seoalah ingin bercerita perjuangan demi perjuangan Vio di rumah suaminya.
“Jika lelah, pulanglah …, rumah tetap menunggumu kapanpun kau mau pulang,” ayahnya mengusap punggung Vio dan mencium keningnya.
“Jangan sembunyikan apa-apa dari ibu. Cerita saja, jangn lupa tetap luluran. Perempuan itu harus wangi.” bisik ibunya dalam peluk erat sebelum pulang. (Bersambung ...)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
