Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu (part 4)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 89
#TantanganGurusiana
“Perjalan ke rumah hanya dua jam, kalau suamimu nggak ada waktu nganter, biar ayah yang menjemputmu. Ayah masih kuat,” Ucap Ayah Vio dari balik setir. Ia nampak belum tega melajukan mobil tuanya melihat Vio berdiri di halaman gersang itu.
“Iya, Ayah …, nanti aku sampaikan. Tadi mereka tidak sempat pulang mungkin karena hari ini panen terakhir. Biasanya ada saja orang-orang nakal yang mencuri padi kami.” Kata Vio meyakinkan ayahnya.
“Ya itu karena kurang amal,” ayahnya masih menyimpan nada kurang nyaman terhadap keluarga suami Vio yang memang berbeda kebiasaan.
“Ayah …, ma’af hari ini tidak bertemu siapa-siapa karena memang sedang sibuk semua. Jangan khawatir, Vio janji akan pulang minggu depan, kalau tidak, inshaAllah aku pasti menelpon.” Ucap Vio menggelayut di pintu mobil ayahnya.
“Ya sudahlah, ayah dan ibu akan menunggumu pulang,” ucap ayah Vio sambil menyalakan lagi mesin mobilnya yang tadi dimatikan.
“Hati-hati ayah, hati-hati Bu! Daaa …ucap Vio sambil melambaikan tangan kepada kedua orangtuanya sampai mobil itu hilang dari pandangannya.
Vio menghela nafas panjang. Baginya tak mudah baginya meyakinkan orangtuanya. Vio amat sangat menyadari mengapa sikap ayah dan ibunya begitu. Pasti karena sangat sayang padanya. Vio juga menyadari mengapa ibu mertuanya masih menerima setengah hati, semua karena pasti perasaan sayang akan putra kebanggaannya.
Pernikahan bukan hanya masalah menyatukan dua hati. Akan tetapi menyatukan dua keluarga besar, bahkan menyatukan dua kebudayaan dan kebiasaan yang masing-masing menganggap dirinya adalah pihak yang ‘paling …’ atau ‘ter …’
Vio menatap dirinya di cermin. Wajahnya memang nampak khusut dan mulai tidak rapi dengan daster kedodoran yang ia kenakan. Benar saja jika ibunya menatap sedih. Wajar saja jika ayahnya curiga Vio tidak bahagia. Padahal Vio sedang ingin menikmati peran sebagai istri petani. Namun tindakan tidak memperhatikan panampilan tidak bisa dibenarkan. Ayah dan ibunya benar, jika perempuan harus tetap cantik baik di luar rumah apalagi di dalam rumah.
Vio mulai memperhatikan lagi make-up berjejer yang jarang ia gunakan. Dia memang sedang ingin diterima di keluarga besar suaminya. Tapi dia juga harus bisa menjaga perasaan kedua orang tuanya agar tak kecewa melihat kemunduran penampilannya.
Sejak itu Vio mulai rajin lagi merawat diri. Tetap melakukan kebiasaan lama dan menutupi wajah serta tangannya sebisa mungkin jika harus berada di bawah terik matahari. Vio menyadari dirinya harus bangkit dari rasa menyerah pada keadaan. Ia harus bisa mengambil hati orang-orang di lingkaran suaminya. Di sisi lain, ia harus tetap bisa menjaga penampilan agar orang tuanya percaya jika ia baik-baik saja.
“Waduh! ada artis!” ujar suara yang tak asing ditelinganya. Mbak iparnya nampak makin gerah kepanasan melihat penampilan Vio dengan penutup wajah lengkap saat ia hadir di sawah membawa kiriman makan. Vio sudah siap jika ia akan mendapat sindiran itu. Harus ia nikmati. Vio harus kembali menjadi dirinya sendiri.
“Ya Allah, hambaMu ini sangat yakin bahwa tak ada yang salah dengan takdir yang kau takdirkan untukku. Tak ada yang keliru atas jodoh yang kau siapkan untukku. Hanya rasa ego manusia yang merubah hal baik darimu menjadi hal yang buruk di hati manusia. Wahai Robb pembolak-balik hati, limpahkan rasa kasih sayang diantara kami …, aamiin …,” Do’a Vio dalam hatinya anpa menjawab maupun memperdulikan apa yang diucapkan mbak iparnya.
“Ini minumnya mbak,” Vio menyodorkan segelas air minum untuk meluluhkan lirikan tajam yang menguliti penampilannya. Ia pura-pura tidak tahu dengan sindiran maupun tatapan itu. Vio lebih memilih menghirup hembusan angin semilir persawahan dan memandang jajaran pegunungan biru nun jauh disana. Ada desiran tentram di hamparan luas persawahan siang itu.
“Ayo pulang,” kata mas Pur yang tak ingin menyaksikan ketidaknyaman itu berlanjut. Vio hanya menyegir dan mengiyakan saja ajakan suaminya. Ia merasa terbela dengan ajakan pulang itu.
“Besok-besok kalau mau ke sawah, ndak usah pakai kayak gitu lagi. Mending di rumah saja supaya tidak menarik perhatian pekerja, kamu kelihatan aneh,” ucapan mas Pur bersungut-sungut.
“Hmmmm …, bukankah yang aku lakukan sama seperti mereka? Bukankah mereka juga menggunakan penutup kepala dan wajah? Bedanya dengan mereka, aku hanya pakai kacamata hitam dan topi besar. Apanya yang salah? Huff … ayah benar, mereka tak mudah paham.” Gumam Vio dalam hatinya.
“Ya Allah … harus bagaimana aku? Di satu sisi aku ingin melebur menyesuaikan diri bersama keluarga suamiku. Di sisi lain aku tidak boleh mengecewakan orangtuaku. Ya Robb, tanpa pertolonganMu, tak akan mampu aku menyatukan hati mereka.”
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
