Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu (part 5)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 90
#TantanganGurusiana
“Mas, akhir pekan ini aku ingin pulang. Aku kangen rumah.”
“Loh, kan kemarin bapak dan ibu baru dari sini?” ujar mas Pur tanpa menoleh sehingga dia tidak tahu wajah istrinya yang sangat sedih.
“Aku ndak apa-apa kok Mas pulang sendiri. Antar aku sampai terminal saja. Aku tak nelpon ayah supaya dijemput.”
“Terserah …,” jawab mas Pur menyeruput kopi di meja dapur.
“Jangan terserah, Mas, itu sama saja dengan mas Pur meyuruh aku mikir sendiri. Aku ini sedang meminta ijin karena aku menghormati Mas Pur sengai suami. Sebenarnya Mas, aku bisa kemana-mana tanpa di antar. Aku cukup mandiri tanpa siapapun sebelum ini. Jika aku minta antar bukan karena aku manja. Tapi karena aku memantaskan diri bahwa aku bersuami dan aku memantaskan sampean sebagai imam rumah tangga.”
Emosi Viona mulai naik. Dia merasa selama ini sudah berupaya sebaik mungkin tapi masih juga tak pernah bisa mengambil hati siapapun. Mas Pur suaminya juga tidak bisa dijadikan tempat ia mengeluh. Tidak ada pembelaan untuk Viona. Tak ada tempat di keluarga itu untuk saling bercerita. Keseharian hanya rutinitas.
Viona mulai ragu apakah dirinya akan mampu melewati semua itu ataukah ia akan tumbang seperti ibu mertuanya yang memilih keluar dari rumah dan memilih kehidupan lain?
“Astagfirullah …, mikir apa aku ini!” Vio menepis kegundahan hatinya dengan segera menyelesaikan pekerjaan mencuci piring. Sore itu serasa teramat gersang.
“Mas, kita ke rumah ibu ya sore ini, kita belikan soto dulu sekalian nanti untuk mekan malam,” Vio melirik suaminya yang enggan menjawab.
“Mas …, kita ke ibu ya?” ulang Vio.
“Hmmm …, bukannya aku tidak mau, tapi aku males bertemu laki-laki yang menghancurkan rumahtangga orang lain.”
“Mas …, bagaimanapun juga, ibu adalah orang yang melahirkan Mas Pur. Mau sampai kapan bersikap seperti ini? Aku tidak mau keadaan keluarga yang damai tapi gersang. Aku ingin Mas Pur bersatu lagi dengan ibu.”
“Kamu belum tahu siapa ibu, Dik …!” jawab mas Pur menerawang jauh sambil menghirup dalam rokoknya yang sisa hampir separuh.
“Tapi nanti kita jadi ke sana kan ya, Mas?” Vio pantang menyerah.
“Liat saja nanti.” Mas Pur masih nampak berat.
“Berarti aku langsung siap-siap sekarang ya Mas?” Viona mengabaikan ekpresi suaminya yang tidak berkenan. Ia langsung bersiap-siap berangkat. Melihat semangat Vio, mau tidak mau mas Pur mengikuti kehendak istrinya.
Dalam hati Viona sebenarnya ia juga tidak yakin bahwa suasana nanti akan mencair. Tapi dia tetap punya semangat untuk mencoba agar hati-hati beku bisa ia satukan. Ah Vio …, sepertinya terlalu percaya diri.
“Mas, nanti di rumah ibu, kalau ada yang membuat mas Pur tidak berkenan tolong jangan di depanku ya Mas. Hindari berselisih paham di depanku. Agar aku tetap bisa bersikap netral, ya …?” ucap Vio sambil mengelus tangan suaminya yang berotot.
“Assalamu’alaikum,” ucap mas Pur saat tiba di rumah ibunya.
“Wa alaikumsalam …, tumben mau ke sini? Masih ingat kalau punya ibu?” wanita itu selalu menyapa dengan membawa belati. Vio tidak merasakan sakit hatinya, ia lebih fokus memperhatikan mas Pur supaya tetap terkendali dengan ucapan-ucaoan ibunya.
“Saya bawakan soto Bu untuk makan malam bersama nanti.” Ucap Vio memecah kekakuan.
“Saya tata di meja ya, Bu?” Sambung Vio sambil melangkah ke dapur dan hendak menata meja untuk makan malam.
“Mana Bapak, Bu?” tanya Vio sok dekat hehehe …
“Bapak masih ke mushalla untuk solat magrib bersama. Kalian sekalian saja solat dulu. Supaya nanti bisa langsung makan bersama,” ujar ibu.
“Sotonya beli dimana?” tanya ibu mertua Vio membuka percakapan di meja makan.
“Tadi beli di depot perjalanan ke sini. Saya masih belum bisa memasak soto.” Jawab Vio sambil nyegir.
“Jangan terlalu sering beli, ini soto rasa micin, soto kan gampang buatnya.” Ucap ibunya mengoreksi soto pembelian tadi. Viona serasa tak mampu menelan tapi ia berusaha sesantai mungkin. Dia meminum seteguk air putih agar mampu menelan makanan yang serasa tak mampu ia lumatkan.
“Ma, bahas sotonya nanti saja. Kasih catatan resep bikin soto yang enak ke nak Vio,” kata suami baru si Ibu. Dia tahu suasana hati menjadi gerah akibat obrolan yang kurang bersahabat. Vio melirik suaminya yang ingin segera beranjak dari meja makan. Namun Vio menahannya dengan cubitan kecil di paha suaminya.
Tidak ada percakapan mengalir setelah itu. Vio mulai merapikan meja makan sementara papa baru dan suaminya menuju ruang tamu. Vio hendak mencuci piring,yang merupakan ritual wajib setelah makan.
“Jadi istri petani itu harus bisa masak. Jangan beli di warung tok! Kalau dulu cara ibu seperti kamu, kalian gak akan bisa tinggal di rumah sebesar sekarang. Itu semua jerih payah ibu.” Kalimat-kalimat ibu mertuanya serasa mantera yang otomatis tercatat dalam hatinya.
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
