Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu (part 6)
www.google

Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu (part 6)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 91

#TantanganGurusiana

“Mas …,”

“Hmm …, kok belum tidur? Ini sudah hampir tengah malam,” kata mas Pur sambil melingkarkan tangannya ke badan Vio yang tidur membelakanginya.

“Ada apa dik? Aku masih ngantuk,”

“Aku kepikiran kata-kata ibu, Mas,”

“Ndak usah dipikir nemen-nemen, ibu memang begitu orangnya, sudah tidur saja. Kita bicarakan besok pagi,” kata mas Pur yang kemudian terlelap lagi. Sementara Vio masih belum bisa melupakan kata-kata ibu mertuanya. Hanya soal membeli soto kenapa sampai pada urusan menempati rumah? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa di setiap kata adalah kebencian?

Pikiran Viona menahannya dari rasa kantuk. Vio penasaran megapa si Ibu demikian sengitnya setiap berucap dan bertindak. Demikian pula dengan anak-anaknya. Mengapa tidak ada aliran kasih sayang meski setipis kulit bawang? Benar-benar keluarga yang damai namun gersang.

Mas Pur, dan dua saudara iparnya tak pernah nampak mengobrol satu sama lain meskipun rumah mereka berjajar dengan satu halaman semen yang luas. Keseharian bersama hanya seputar pekerjaan sawah. Kebersamaan adalah ketika menjemur hasil panen.

Sementara jika ibu mertuanya datang, semua seolah tak merasakan kehadiran siapa-siapa kecuali Vio. Dia yang akan menemani mertuanya mengobrol, lebih tepatnya bukan mengobrol tapi menjadi pendengar omelan atau sangat lebih tepatnya lagi menjadi satu-saatunya sasaran emosi si ibu tanpa perlawanan.

Vio semakin menjadi heran, si ibu mertuanya sudah menikah lagi tapi masih sering datang dan bertingkah seperti di rumah sendiri. Mengomel tentang apa saja dihadapan dia semua tidak cocok, rapi kurang rapi. Bersih kurang bersih. Apalagi jika ada bapak mertua, si Ibu pasti mengeluarkan sindiran-sindiran yang sulit dipahami. Mereka tidak saling bicara.

“Ibumu itu aneh, gak tahu malu. Dia pergi dari rumah ini tanpa kabar. Sampai acara lamaranmu tanpa ibumu kan karena dia masih menghilang. Pulang-pulang dia menuntut Bapak cerai.” Cerita Bapak mertua Vio di suatu pagi ketika Vio membuatkannya secangkir kopi. Vio juga merasa harus mendengarkan cerita bapak mertunya.

Mangkane, Nduk, kamu ndak perlu heran kalau di sini semua ndak ada yang menggubris kehadiran ibumu. Semua sakit hati dengan tingkah polah ibumu memnyakiti bapak. Padahal semua kekayaan ini milik bapak.”

Sepertinya Bapak mertuanya ingin memberi signal untuk tidak terlalu menuruti kata-kata ibu. He … he … mana mungkin Vio mampu? Bahkan yang Vio inginkan adalah komunikasi yang baik di antara mereka meskipun sudah berpisah.

“Kalau gak karena ibu yang berjuang menyelamatkan harta Bapakmu, anak-anak termasuk kamu ndak akan bisa menikmati apa-apa dari Bapakmu yang ndak karu-karuan tingkah polahnya. Ibu ndak betah. makanya ibu lebih baik memilih jalan sendiri.” Kata-kata ibu mertuanya yang sering Vio dengar dengan berbagai versi meski intinya sama yaitu tentang harta.

Perlahan Viona mulai memahami apa yang pernah terjadi di keluarga besar suaminya. Selentingan-selentingan atau kasak-kusuk para saudara maupun tetangga tentang ibunya mulai menguak tabir kejadian masa lalu keluaga mas Pur. Rupanya ada juga tetangga yang menaruh dendam karena dulu suaminya juga pernah dibuat edhan, tergila-gila pada kecantikan si ibu mertua.

“Ku lihat sepertinya ibumu datang ya nduk kemarin sore?” tanya salah seorang tetangga depan rumah ketika berbelanja di mlijo langganan kami.

“Iya, Bu Lek,” jawab Vio mengangguk sopan.

“Gitu ngapain dia? Kok gak malu masih berani muncul ke sini padahal dia meninggalkan bapakmu,” ucap si bude penuh emosi. Mendengar itu Vio hanya tertawa nyengir gak paham mengapa begitu emosinya si Bu de. Vio hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian bingung mau belanja apa. Pikiriannya ambyar, makin pusing dengan keanehan orang-orang di rumah itu.

Vio mulai memaknai bahwa harta itu tak bisa membeli hati. Kasih sayang dan saling mencintai itu tidak bisa terjadi secara instant ataupun dibayar tunai. Tapi merupakan suatu proses panjang. Siapa menanam, ia yang akan menuai.

“Jadi beli apa mbak?”

“Ehm …, saya bingung mau masak apa mbak,” jawab Vio agak gelagapan. Ternyata dia termenung agak lama.

“Saya bingung milih menu apa hari ini,” lanjut Vio menutupi gugupnya lalu cepat-cepat ia memilih belanjaan tanpa mikir cocok apa nggak jika jadi masakan, yang penting milih bahan aja supaya nampak jika termenungnya tadi karena mikir apa yang dia pilih kemudian.

Belanjaan Vio menjadi agak banyak pagi itu karena dia memang sedang tidak bisa berpikir mau masak apa. Otaknya berpikir bagaimana cara menyatukan keluarga yang damai tapi gersang itu. Sementara hatinya terus merindukan pelukan kasih sayang ayah dan ibunya.

“Ya Allah …, pembolak-balik hati manusia. Hanya Engkau Ya Robbi yang bisa menyatukan mereka ke dalam jalinan kasih sayang keluarga. Hanya Engkau yang bisa merubah benci menjadi cinta Ya Robb….” Doa Vio dalam hatinya hingga tanpa terasa airmatanya mulai menetes di ujung bibirnya.

Dia terduduk bingung memandang seonggok belanjaan di meja dapur itu. Menjadikannya sangat cukup alasan jika airmatanya makin deras.

“Bu … kenapa dulu aku tak kau ajari memasak? Aku lelah Bu, aku capek … aku ingin ada ibu …, ini dimasak apa Bu …?Ternyata perkara memasak bukan urusan mudah ya Bu …, ma’afkan aku yang baru tahu rasa lelahmu” Viona menikmati tangisnya sendirian.

(Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post