Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu (part 7)
www.google.com

Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu (part 7)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke –105

#TantanganGurusiana

Apakabar pembaca, setelah lama terjeda kegiatan lain yang ingin saya bagi, kali ini saya ingin kembali melanjutkan cerita serial “Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu”.

Cuplikan cerita yang lalu:

“Bu … kenapa dulu aku tak kau ajari memasak? Aku lelah Bu, aku capek … aku ingin ada ibu …, ini dimasak apa Bu …?Ternyata perkara memasak bukan urusan mudah ya Bu …, ma’afkan aku yang baru tahu rasa lelahmu” Vio menikmati tangisnya sendirian.

(Bersambung …)

****

Vio menarik nafas panjang. Ia berusaha menegarkan dirinya sendiri. Dia tak ingin terlarut dalam kesedihan yang tidak akan menolongnya.

“Oke, stop menangis Vio! Ini adalah pilihanmu. Airmata tak akan menyelesaikan permasalahanmu. Meratap tidak akan membuatmu bisa memasak. Sekarang berpikir, harus diapakan sayuran itu.” Vio bergumam dalam hatinya dan berpikir bagaimana cara memasak sayuran di hadapannya.

Sejak hari itu Vio bertekad untuk belajar memasak. Dia harus bisa menata rumah lebih bersih, dia harus bisa mengatur barang-banrang lebih rapi. Vio harus lebih kuat melakukan semuanya. Tak boleh ada celah bagi siapapun yang bisa mengatakan dia hanya bisa pegang pena dan tidak mengerti urusan dapur dan mengurus rumah.

Vio mulai bangkit, dia membeli buku resep masakan, dia juga belajar memasak pada ibunya, pada sahabatnya, atau pada tetangganya. Vio terus belajar apa yang belum ia bisa hingga ia bisa memasak. Cela atas masakannya ia anggap koreksi yang akan membuat masakannya lebih enak. Dia menyimak, meniru dan sangat berupaya untuk bisa menjadi seperti yang diinginkan ibu mertuanya. Dia harus lupakan kuku cantiknya, tangan lentiknya harus menjadi tangan cekatan.

Waktu berlalu tanpa terasa, jatuh bangun sudah biasa. Vio mulai lebih pintar memasak, bahka sudah berani menerima catering sekolah ketika ada acara. Dan terbukti tidak mengecewakan. VIo mulai menikmati hoby barunya yaitu memasak. Dalam hati Vio mulai ada rasa bangga bahwa kini tidak boleh lagi ada ‘the nyinyiers’ yang akan mencela masakannya.

“Oke Ibu, aku kini bukan Vio yang kau anggap malas dan tidak bisa mengurus rumah. Menantumu kini sudah bisa melayani catering sekolah. Lihatlah ibu, rumah anakmu juga terjaga bersih dan rapi,” bisik VIo sambil tersenyum sendiri melihat dapurnya yang bersih dan rapi. Dia bernafas lega sambil berselonjor menikmati semilir angin di beranda dapur yang menghadap ke kebun papaya di belakang rumah mertuanya.

“Wuih …, enaknya nyantai,” suara seorang perempuan yang sangat ia kenal meski dari radius ratusan kilometer. Nadanya khusus, selalu meninggi di akhir kalimat dan tentu harus berefek menggores mak cress di hati siapapun.

“Ibu …?” ucap Vio kaget dengan kehadiran ibu mertuanya yang tiba-tiba.

“Ibu dengan siapa Bu? Tanya Vio sekenanya karena ia tau ibunya memang selalu datang sendiri. Belum pernah dia membawa suami barunya ke rumah itu, bisa perang dunia kali ya?

“Memang pernah aku ke sini dengan orang lain?” tukas ibunya tanpa menatap Vio yang mencium tagannya. Vio hanya menyengir tanpa berkomentar lagi daripada menimbulkan masasalah baru. Ia hanya mengikuti ibu mertuanya yang berjalan menuju kebun. Ia membawa keranjang dan mengambil beberapa papaya yang nampak mulai kuning.

“Kalau lagi nganggur, papaya-pepaya ini bisa kamu manfaatkan menjadi es papaya. Jadi perempuan jangan keseringan leyeh-leyeh (bermalas-malasan) sambil melamun.” Seperti biasa, ibu mertuanya mulai mengoreksi Vio yang kali ini sudah merasa lebih bisa santai ketika mendengarkan ibu mertuanya berbicara seperti penyiar radio. Vio sudah mulai kebal.

“Saya tadi baru istirahat, Bu. Sepulang sekolah belum istirahat langsung bersih-bersih dapur, sebentar lagi disuruh memasak untuk orang-orang di sawah yang sedang mengaliri air menggunakan mesin diesel.” Kata VIo mencoba menjelaskan.

“Halah! pekerjaan mengajar kan tidak seberat di sawah? Maasak, perlu istirahat? Yah …, maklum, kalau terbiasa manja ya begini ndak bisa capek sedikit. Ini pepayanya di kupas!” perintah ibunya judes seperti biasa. Perlakuan seperti ini biasanya akan membuat Vio berderai-derai air mata. Tapi untuk kali ini tidak lagi. Sudah terlampau sering ia disakiti dengan kata-kata, hingga kini sudah tak merasakan sakitnya lagi.

Vio mengikuti saja apa yang diperintahkan ibu mertuanya sambil terus berdo’a, ”Ya Allah …, semoga segala yang aku lakukan menjadi pahala bagi kedua orangtuaku. Rasa hormatku, sopanku, patuhku pada suamiku dan pada orang yang melahirkannya karena orangtuaku telah mengajariku tatakrama dengan kasih sayang.” Lagi-lagi Vio hanya berbicara dengan hatinya sendiri.

Vio menurut saja disuruh membuat es papaya. Padahal gajinya sudah cukup bahkan lebih jika hanya makan berdua. Bagi Vio, tidak ada salahnya nurut pada perempuan yang karenanya ia punya suami. Vio berkeyakian, menyenangkan hati mertuanya sama saja dengan menyenangkan hati ibunya sendiri, meski mertuanya tidak pernah nampak senang.

(Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post