Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu (part 8)
www.google.com

Ijinkan Aku Mencium Surga di Telapak Kakimu (part 8)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 107

#TantanganGurusiana

Seiring bergulirnya waktu, Vio menjadi semakin kuat menghadapi ibu mertuanya maupun saudara-saudara iparnya. Vio terus berupaya menaklukkan hati mereka dengan segala kebaikannya meski tidak bisa seutuhnya berhasil. Pada saat-saat tertentu, Vio mesih merasakan goresan lidah setajam belati ke hatinya. Sejenak ia terluka, namun selalu bisa ia hapuskan dengan do’a dan harapannya bahwa suatu saat nanti kebahagiaan akan menjadi miliknya.

“Kalau nyetrika baju jangan satu persatu, bayar listriknya mahal,” kata ibu mertuanya di suatu hari pada saat dia datang menengok. Vio jadi heran, dari mana ibu mertuanya tau bahwa dia menyetrika baju satu persatu? Ah tidak penting siapa yang melapor.

“Ma’af, biaya listrik tidak terlalu banyak kenaikan kok bu, sebab saya yang membayar setiap bulan. Kisarannya hampir sama kok,” kata Vio berusaha menjelaskan dengan hati-hati.

“Ya meskipun begitu bukan berarti kamu bebas menghamburkan uangmu. Jangan sombong! baru PNS saja sudah sombong! Kalo aku mau, semua anak-anakku sudah aku jadikan PNS, nggak bakalan habis tanah sehektar kalo Cuma mau nyogok,” ucapan mertunya selalu tentang harta.

Kali ini telinga Vio serasa panas, karena menjadi PNS bukan hasil menyuap seperti yang dituduhkan mertuanya melainkan melalui perjuangan dan do’a-doa’ panjangnya beserta keluarganya.

“Ma’af Bu, saya menajdi PNS murni tanpa menyogok siapapun, orang tua saya mengajarkan saya untuk menjauhi hal-hal seperti itu,” tanpa terasa ucapan Vio meluncur beriring dengan airmatanya. Ia tidak rela pekerjaan yang ia banggakan disebut hasil menyogok. Entah kekuatan dari mana yang merasuki Vio, hari itu ia berkata lantang pada ibu mertuanya. Ia tak mampu menahan emosinya.

“Ya Allah, seberapa banyak upayaku memang belum pantas untuk mengharapkan surga. Dosaku masih terlalu banyak dan bertambah banyak. Aku hanya berusaha agar tak menambah dosa ya Rob …, namun hari ini aku tak mampu menahan lisanku pada seorang ibu yang telah melahirkan suamiku.

“Ma’afkan saya, Bu,” Viona segera merendahkan suaranya dan meraih tangan ibu mertuanya untuk minta ma’af.

“Ndak perlu minta ma’af, kamu memang tidak cocok untuk putraku. Kamu teralu pandai hingga bisa melawanku. Tanpa upayaku, kamu tidak akan bisa hidup di rumah besar seperti ini,” kata-kata ibunya selalu berakhir dengan kalimat keberatan jika Nia yang tinggal di rumah itu.

Di setiap ada celah untuk menyalahkan Nia, dia selalu mengundat harta. Nampak sekali jika belum ikhlas rumah itu ditempati putranya bersama istrinya. Padahal di rumah itu masih tinggal mantan suaminya.

Kejadian itu tentu saja membuat ibu mertuanya semakin tidak suka karena merasa dilawan. Sudah pasti akan keluar semua kosakata yang sangat tidak baik untuk didengarkan siapapun. Ibunya pulang dengan sekeranjang penuh omelan.

“Mas, saya mau bicara serius tolong di simak baik-baik,” ucap Vio sambil menyodorkan secangkir kopi di teras rumahnya, lebih tepatnya, di rumah suaminya.

“Masalah ibu tadi siang ndak usah diperpanjang, ibu memang seperti itu orangnya. Cuekin saja, ndak usah dilayani, ndak usah didengarkan.” Mas Pur mulai bicara seolah tau apa yang akan Nia bahas.

“Aku ndak bisa seperti mas Pur dan semua saudara-saudara mas Pur yang bisa cuek dan tidak perduli pada ibu,”

“Ya, kalau ndak bisa jangan mengeluh dengan sikap dan kata-kata ibu,” jawab mas Pur masih selalu santai menyeruput kopi hangat di hadapannya.

“Mas, sebaiknya ceraikan aku. Aku tidak cocok untukmu. Cari saja perempuan yang sesuai dengan harapan ibu. Aku menyerah Mas,” Vio mulai terisak dan sulit untuk bicara sebab dadanya penuh sesak.

“Selama ini aku sudah sangat berusaha untuk menjadi yang ibu inginkan. Aku abaikan semua rasa sakit kata-kata maupun tindakan ibu yang tak pernah bisa menerimaku. Aku bukan malaikat, Mas …, aku merasa sudah tak mampu bertahan. Daripada aku hanya akan menambah dosa.

“Lalu? Meminta cerai dari suami tanpa sebab yang jelas apa itu bukan dosa?” tanya Mas Pur sambil tetap tenang. Padahal Vio berharap suaminya akan memberi sandaran baginya untuk menangis. Tapi tak pernah terjadi, suaminya tak pernah memberi ruang untuk Vio curhat masalah ibunya. Entahlah, suaminya seolah tak mau tau sama sekali urusan tentang perempuan itu.

“Aku ingin pulang, aku kangen ayah ibu. Aku lelah di sini. Di mata ibu dan juga saudara-saudaramu kehadiranku seolah ancaman. Tak pernah ada hal baik yang bisa menembus hati mereka. Semua dariku tak bisa mereka terima. Dan mas Pur belum pernah sekalipun membelaku. Lalu apa yang bisa aku pertahankan?” suara Vio makin bergetar.

“Aku nggak pernah merasa selelah ini, Mas …, masalah apapun aku bisa menyelesaikan sendiri. Aku heran Mas Pur juga tidak pernah perduli dengan apa yang aku hadapi. Aku merasa Mas Pur juga tidak menyukai aku.” Ucapan-ucapan keputus asaan Vio mengalir bersama airmatanya yang semakin deras.

“Aku lelah …, aku tak akan mampu meraih surgamu apalagi ibumu. Aku hanya akan menambah dosa. Mas Pur salah memilihku …

(Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post