Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

IRI

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 99

#TantanganGurusiana

“Mak, sudah menyerahkan buku ke Pak Erwan?” tanyaku melalui pesan whatsapp.

“Belum, Mak, eh kok ‘podho’ yang kita pikir?”

“Hehehe …, kita kan memang sehati mak,” jawabku seperti biasa.

“Aku diajak bu Ifa Kencong 1 untuk bareng-bareng ke dinas Mak, nyerahin buku karya kita untuk melengkapi pojok literasi di dinas Jember.” Lanjutku.

“Kapan, Mak?” tanya bu Mimin.

“Besok ta, Mak?”

“Jam sembilanan pagi ya sebab aku masih ada tukang.”

“Oke, Mak, aku juga masih mau ke sekolah.” Jawabku bersemangat dan menyampaikan ke bu Ifa di Kencong satu.

“Sory, mak besok aku ternyata ndak bisa sebab ada acara download E-raport,” tulis bu Mimin lagi.

“Yowes, Mak, ndak apa-apa. Kalau besok, aku yo rodhok (agak) memaksakan diri juga.” Jawabku lega. Kemudian aku meneruskan pesan dari bu Mimin ke bu Ifa. Dan ternyata bu Ifa memilih menunggu kami untuk bisa berangkat bersama.

“Ya wes, bu kita berangkat bersama hari Rabu saja.” Tulis bu Ifa melalui pesan whatsapp.

“OK …,” jawabku singkat. Kemudian aku menyampaikan pesan bu Ifa ke bu Mimin karena mereka berdua memang belum pernah saling ketemu walau keduanya sama-sama teman seperjuangan baik di sekolah maupun di komunitas sagusabu.

Akhirnya kamipun siap berangkat. Sepanjang perjalanan terjadilah obrolan-obrolan yang ‘mblarah-mblarah’ diantara kami. Mulai dari masalah keluarga sampai pada kegiatan menulis.

“Berapa buku yang mau diserahkan ke pak Erwan Mak?” tanyaku pada bu Mimin.

“Empat, mak, dua buku antology dan dua faksi.” Jawabnya sambil mengeluarkan sebuah buku karya terkininya untuk diberikan padaku.

“Wah, Emmak memang membuatku selalu iri. Aku bawa satu buku Mak, buku dua masih swasunting belum berhasil aku tuntaskan. Mboh wes Mak, kalo di rumah ada saja kerjaan yang membuatku gagal duduk manis untuk menulis.” Jawabku curhat.

“Hehehe …, kalo aku kan orang merdeka Mak, jadi kapan aku mau menulis ya harus aku segerakan. Sebab kalo nggak, ideku keburu hilang. Biasanya tak tulis di hape, Mak.” Kata bu Mimin selalu santai menanggapi aku yang terheran-heran dengan hasil karyanya.

“Saya juga , Bu, di rumah saya ndak bisa buka laptop bu. Kebetulan saya menjaga ibu yang sudah sepuh dan selalu minta ditunggui sambil dipijiti. Jadi tangan kanan saya mijitin, tangan kiri saya mbales wa sambil juga menulis, Bu. Ya isenglah, ndak ada niat nulis, tapi kok ya muncul begitu saja.” Bu Ifa menimpali cerita bu Mimin.

“Ha, kayak gitu yang aku ndak bisa, bu Mimin biasa menulis di hape di manapun meski di sela-sela mengerjakan hal lain. Sedangkan Bu Ifa, bisa menulis sambil mijit orangtuanya meskipun pakai tangan kiri.

“Kalian memang hebat. Sedangkan aku ndak bisa yang seperti itu. Aku harus fokus menulis di laptop dulu tiap kali mau upload satu tulisan tiap hari” Kataku curhat lebih panjang lagi.

“Iya Bu, ketika ide muncul maka saya harus langsung tuliskan supaya tidak lupa.” Bu Ifa mulai bercerita tentang bagaiman idenya mengalir tapi ndak mau ikut tantangan gurusiana.

“Tu kan hebat, padahal dulu bu Ifa bilang jika tidak bakat dalam menulis cerita, tapi nyatanya sekarang malah banyak menulis tentang cerita bahkan berpuisi. Bukannya itu hebat dan perlu di iri?” Kataku meledek bu Ifa yang hanya dibalas dengan senyum setengah nyengir, hehehe ….

Sementara bu Mimin, nulisnya disebut iseng tapi sering menang dalam setiap kali lomba menulis yang diadakan oleh MediaGuru. Sampai sekarang sudah berhasil turut serta dalam penulisan dua buah antology, bahkan dua bukunya juga sudah berhasil terbit. Ndak salah kan jika aku iri?

Namun iriku tentu saja iri positif, aku ingin sesantai mereka jika menulis. Bisa mengalir seperti tanpa mikir, tetapi hasilnya selalu bagus. Itu kesanku pada bu Mimin sebagai penulis yang sama-sama belajar. Bedanya, bu Mimin sudah sejak masa SMA sudah berhasil menulis sedangkan aku baru tahun ini belajar menulis.

“Aku selalu iri padamu, Mak, pingin niru tapi ndak bisa,” kataku sambil menatap iri karena memang benar-benar iri merasakan diri ini tidak sefokus bu Mimin dalam menghasilkan tulisan. Aku selalu mblarah-mblarah alias bahasan kemana-mana. Hehehe …

Sedangkan bu Ifa? Ah dia kan hanya tidak mau saja mengikuti tantangan menulis. Padahal kalo dia mau, begh! bisa sepuluh buku dia hasilkan dalam hitungan hari. Buktinya, dia yang bilang ndak suka nulis cerita malah banyak menulis cerita. Kebayang nggak? Dia menulis kategori tulisan yang tidak dia suka, tapi bisa menghasilkan tulisan yang bagus? Apalagi kalau dia mau menulis hal yang dia suka, begh …, pasti yang lain mundur alon-alon (pelan-pelan).

Jadi Bu Ifa ndak bisa aku iri, sebab jelas ndak akan bisa ditiru, keahliannya nulis tanpa mikir…mengalir bagai air meskipun sambil mengerjakan hal lain. Bertolak belakang denganku yang harus duduk manis dan berpikir berjam-jam untuk menghasilkan tujuratus limapululuh lima kata, seperti malam ini. Heheh…

Balung, 22 April 2020.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post