Ketika Matahariku Menangis ( part 1)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 94
#TantanganGurusiana
Selamat pagi pembaca. Hari ini saya masih belum bisa melanjutkan cerita berjudul “Ijinkan Aku Meraih Surga di Kakimu” (part 7) Bukan maksud hati untuk tidak konsiten dalam mempersembahkan tulisan-tulisan saya. Tapi karena tiba-tiba saya merasa penting untuk berbagi kisah semalam.
Terinspirasi dari postingan ibu Istiqomah di FB Media Guru tentang bagaimana beliau berhasil mendorong putrinya sampai sukses menerbitkan novel pertamanya, membuat saya berpikir tentang putri saya Chalisa. Sewaktu saya membaca postingan ibu Istiqomah semalam, pas setelah saya mendengarkan curhatan anak saya dan saya merasa agak kesulitan meyakinkan hatinya.
Tadi malam pada saat saya masih sibuk bersama laptop saya, dia berbisik yang hampir tidak keluar suaranya. “ Apa Dek?” tanya saya mendekatkan telinga. Dia kembali berbisik dan tetap saja hampir tidak terdengar.
“Apa sih Dek?” saya mulai tidak sabar.
“Besok bangunkan lebih pagi ya, Bun,” katanya dengan ekspresi ragu.
“Oalah …, mo ngomong gitu aja kok bisik-bisik? Kamu ini kenapa sih? Kalo bunda perhatikan sering ngomong bisik-bisik apalagi di tempat umum, padahal yang kamu bicarakan bukan tentang orang lain dan bukan tentang sesuatu yang memalukan. Orang bicara itu yang jelas supaya yang kamu ajak bicara paham apa yang kamu maksudkan. Lagi pula ngapain malu lawong yang kamu bicarakan buka sesuatu yang memalukan dan bukan sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu atau sakit hati.” Kalimat saya panjang lebar.
“Bunda itu selalu ngomel kalo adek gak pede. Kenapa sih dek? Di sini hanya ada ayah dan bunda, ngapain bicara gitu aja harus bisik-bisik? Yang kamu hadapi masih ayah bunda kamu wes ndak pede, la gimana kalo di sekolah? Gimana adek mau bertanya atau menjawab pertanyaan guru jika adek gak pede gini?” Kalimat saya masih tetap panjang lebar.
Saya pun melanjutkan pekerjaan di laptop saya. Namun saya perhatikan Chalisa masih belum bisa terlelap. Dia nampak gelisah meski wajahnya ditutup boneka kesangannya. Dari caranya memeluk guling, saya tahu persis dia masih sulit tidur. Maka mau tidak mau saya harus tutup laptop saya dan harus menemani dia tidur ‘kelon’ untuk menenangkannya.
Chalisa memang sudah duabelas tahun, saat ini sudah kelas enam SD Islam Fullday. Dia memang sudah kami siapkan kamar sendiri. Namun saya dan Ayahnya masih belum bisa move on untuk melepaskannya tidur sendiri. Bagi saya, saat-saat menjelang tidur adalah saat-saat penting untuk berbagi cerita. Saya hampir selalu mewajibkan diri untuk ‘kelon’ mendengar curhatnya, atau menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang bagaimana ia bayi. Biasanya, saya akan bercerita dan menyelipkan nasihat-nasihat untuknya. Kalau tidak ikut terlelap, saya akan kembali bercengkrama dengan laptop saya.
Semalam, Chalisa masih belum bisa tidur meskipun saya sudah memeluknya. Saya tahu dia menahan terisak dengan membenamkan wajah ke bonekanya.
“Adik kenapa, Nak?” saya mulai bertanya sambil mengusap kepalanya.
“Kenapa masih menangis? Apa yang mengganggu pikirian adek?” saya terus bertanya sambil mengusap punggungnya. Dia masih tetap bersembunyi di balik bonekanya. Saya mulai duduk memperhatikannya.
“Sayang, adek kenapa Nak? Masih ndak mau cerita ke bunda? Adek punya rahasia dari bunda? Kalau adek tidak mau ‘kelon’, ya wes bunda tak kembali kerja lagi aja.” Saya mulai agak mendesak yang berhasil membuatnya memindahkan boneka ‘icebear’ dari wajahnya. Saya agak lega dan siap mendengarkan ceritanya.
“Bagi sedih adek ke bunda, Nak …,” saya ucapkan sambil mencium keningnya dan mengusap airmatanya.
“Kenapa menangis sayang? Ma’afkan kalau kata-kata bunda membuat “hati adek retak” (istilah diantara kami berdua untuk mengutarakan jika kami tersinggung atau sedih dengan perlakuan sikap maupun kata-kata diantara kami ketika saling ‘eyel’).
“Kata-kata bunda membuat adek ingat dengan peristiwa yang adek alami di sekolah,” tangisnya makin pecah.
“Kenapa? Adek dibully temannya lagi? gak ditemenin lagi? ber-ulang ulang bunda bilang ke adek, adek itu pinter. adek itu cantik, adek itu baik, adek juga disukai banyak orang. Apa yang adek ingin selalu Ayah Bunda usahakan. Apa lagi yang membuat adek selalu gak pede gini?” saya langsung tidak sabar karena memang sering putri saya mengalami hal seperti itu.
“Dengerin dulu, Bun,” kata Chaca membuat saya menarik nafas dalam menenangkan diri agar dia kembali melanjutkan ceritanya.
“Iya sayang, ma’af bunda terlalu khawatir,” saya memeluknya lagi untuk mendengar ceritanya mengalir bersama air matanya. Hati saya teriris disetiap buliran bening itu.
“Waktu kelas satu adek kan punya lima sahabat yang sangat akrab. Tapi saat naik kelas kan dipisah-pisah, sampai pada kelas enam ini sahabatan adek rasanya semakin tidak akrab lagi apalagi saat Sabita pindah. Tinggal Najwa yang jadi sahabat sejati adek. Tapi Wawa gak bisa bener-bener nemenin adek karena dia merasa tidak enak ke Silvi. Meskipun Wawa sangat dekat dengan adek, tapi di sekolah dia takut ke Silvi.”
“Itu cerita lama yang sudah adek tulis, kan? Kalau adek masih berputar-putar ndak mau bicara yang sebenarnya meskipun sampe besok adek gak akan tenang. Adek gak akan bisa tidur. Bundapun nggak akan tidur. Sebenarnya apa sih nak, yang membuatmu sangat terganggu dengan kata-kata bunda yang menyebutmu “gak pede?”
Kenapa Chalisa seperti begitu terluka dengan kata “kenapa adek gak pede?” Apa sebenarnya yang membuat hatinya serapuh itu?
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
