Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika Matahariku Menangis ( part 2)

Ketika Matahariku Menangis ( part 2)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 95

#TantanganGurusiana

“Gini sebenarnya, Bun …, kata-kata bunda tadi membuat adek ingat yang terjadi di kelas. Waktu itu adek nanya sesuatu ke guru adek karena memang adek gak paham. Tapi sepertinya Misse gak paham dengan pertanyaan adek. Adek malah di ketawain seluruh kelas. Semuanya liat adek ketawa-ketawa. Misse juga ikut nertawain adek. Hari itu rasanya adek malu sekali, Bun.” Certita Chaca membuat keningku berkerut sekaligus sedih.

“Terus ?” tanyaku ingin membersihkan seluruh beban di hatinya.

“Ya aku sedih kalau bunda bilang aku gampang gak pede, itu membuat adek ingat peristiwa di kelas lagi.” ia kembali terisak.

“Sayang, ma’afkan bunda ya Nak. Bunda bilang seperti itu karena bunda ingin adek jadi anak yang pemberani yang hatinya gak gampang sedih. Bunda ingin kamu lebih percaya diri sayang.” Saya usap kepalanya sampai ke punggungnya agar ia segera tenang.

“Adek mau dengar cerita bunda?” saya bertanya sambil terus mengusap punggungnya. Chalisa hanya mengangguk pelan kemudian membalikkan badan menghadap ke arah saya.

“Dulu ketika bunda masih seusiamu, bunda pindah sekolah karena akung pindah tugas. Bunda pindah dari SD di desa ke kota. Bunda tidak punya sepatu bagus. Bunda tidak punya tas bagus. Uang saku bunda tidak sebanyak teman-teman bunda. Teman-teman bunda diantar dengan mobil bagus oleh orang tuanya. Sementara Bunda diantar dengan mobil kantor yang jelek.” Saya lihat putri saya mulai tenang.

“Apakah bunda malu saat itu?” tanyanya.

“Iya sayang, bunda sangat malu dan gak pede. Bunda nggak punya teman apalagi sahabat. Bunda hampir gak mau sekolah sebab bunda malu jika berada di kelas. Bunda juga sedih gak punya teman. Jadi, bunda sangat bisa merasakan kesedihan adek saat ini.” Saya mencium keingnya agar ia tahu perasaan saya.

“Mau minta sepatu atau tas baru nggak mungkin karena Akung dan Uti dulu sangat berhemat. Berhenti sekolah juga gak mungkin. Tidak ada pilihan untuk bunda kecuali harus menghadapi teman-teman bunda. Sejak saat itu bunda berhenti cengeng. Bunda berhenti nangisan, sebab air mata tidak menyelesaikan masalah. Bunda menjadi lebih rajin belajar. Bunda ingin tunjukkan bahwa bunda bisa menjadi yang the best diantara mereka.”

Saya menghela nafas, ingin rasanya menimang buah hati saya itu seperti bayi dan membuatnya terlelap di gendongan. Saya sangat khawatir jika apa yang dialaminya melemahkan rasa percaya dirinya.

“Adek paham kan yang bunda maksud? Jadi gini sayang …, adek nggak perlu takut nggak ditemenin. Mau apa aja yang penting adek nggak berbuat salah dan nggak nyalah-nyalah usil atau menyakiti teman baik perbuatan maupun perasaan. Salah dalam bertanya, ditertawain karena pertanyaan lucu, itu sudah biasa terjadi di sekolah. Bunda juga sering ngalami. Tapi bunda nggak malu, karena bunda tau teman-teman bunda yang lain juga nggak paham Cuma mereka nggak berani tanya. Cuekin aja ya?” Kulihat Chaca sudah tidak terisak lagi.

“Sayang, bunda sering bilang, kan? adek ini cantik, cerdas, kreatif, malah guru adek bilang kalau adek ni orangnya cerewet, suka bertanya dan baik pada semua teman. Jadi adek gak perlu takut nggak punya teman. Teman sejati itu adalah teman dikala suka maupun duka, saling membela satu sama lain seperti saudara. Tapi, Cha …, kamu nggak perlu merasa bergantung kepada teman maupun sahabat apalagi merasa takut ditinggalkan mereka. Paham sayang?” saya menatapnya dalam-dalam ingin memberi seluruh energy agar hatinya segera utuh.

“Sayang, kamu tidak perlu khawatir tentang temanmu. Kamu tidak perlu merasa nggak pede karena apa yang ada pada adek seharusnya bisa adek banggakan. Adek tuh hanya kurang mau mengasah kemampuan adek. Jika adek ingin tidak ditertawakan lagi, adek harus lebih giat belajar. Asah kecerdasan adek supaya bisa menjadi kelebihan adek.” Saya menggenggam tangannya untuk meyakinkannya.

“Sayang, jangan khawatir apa-apa lagi ya …, kita memang butuh teman nak. Tapi kita sebisa mungkin membantu mereka, jangan pernah bergantung pada bantuan mereka. Lakukan hal terbaik untuk diri kita dan orang lain. Jangan takut pada teman. Karena apa yang kita lakukan adalah tanggungjawab kita sendiri. Bukan teman …, Sekarang bubuk ya sayang. Semua teman adek pasti baik ke adek.” Saya memeluknya sampai Ia terlelap. Semoga hatinya selalu utuh. Aaamiin …

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post