Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kulipat Rinduku (12)
www.google

Kulipat Rinduku (12)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 79

#TantanganGurusiana

“Apa untungnya kamu berteman lagi dengan Edy? Apa yang kamu inginkan? Apa manfaatya? Yang ada kalian akan terluka lagi. Yang ada istri Edy, juga Iwan akan cemburu jika tahu kalian berteman.” Seperti biasa Era memulai pembicaraan dengan ngomel-ngomel.

“Aku kan gak ngapa-ngapain Eng …, aku kan juga gak pernah jalan bareng apalagi berdua dengan mas Edy? Hanya sesekali berkirim pesan saling bertanya kabar dan mengobrol di telepon pada waktu-waktu senggang, di mana salahnya?” tanyaku datar.

“Salah! …, kita hidup di Negara Indonesia, yang kalo mau ditanya dari ujung barat sampai ke ujung timur, tidak akan ada yang menerima pertemanan antara laki-laki dan perempuan apalagi mantan pacar! Kamu sekarang masih bisa merasa biasa-biasa saja. Tapi lama-lama cinta kalian akan subur lagi. Apa gak kasihan Iwan? Anak-anak?” Kulihat Era semakin tidak sabar. Aku tahu dia sedang sangat mengkhawatirkanku.

Aku tahu semua orang akan marah padaku, tapi apa salahku? Aku dan Mas Edy hanya berteman. Meskipun jujur hatiku berdebar ketika Mas Edy menelponku. Aku mulai terbiasa berkirim pesan dan menelponnya hanya untuk sekedar bertukar kabar. Hanya itu. Tidak lebih. Tidak bolehkan aku dan mas Edy bersahabat?

“Mas, sepertinya yang dikatakan Era semuanya benar. Nggak sepatutnya kita menjalin hubungan apapun meski hanya bersahabat. Era khawatir nanti malah ….

“Terjadi hal-hal yang diinginkan?” mas Edy menyambung kalimatku. Tawa kami kembali pecah. Tidak ada obrolan penting di antara kami. Hanya seputar kejadian harian atau saling bercerita apapun kegiatan yang kami lakukan masing-masing.

Namun obrolan-obrolan biasa itu memang seperti air hujan yang menyiram kemarau panjang. Menjadi hal yang aku butuhkan, dan mungkin juga dibutuhkan mas Edy. Kami sekedar berbagi cerita di balik penat pekerjaan. Tidak lebih. Tapi kami sangat menikmati obrolan demi obrolan. Salahkah?

Aku sama sekali tidak mengganggu kegiatan mas Edy bersama keluarganya di rumah. Demikian pula dengan Mas Edy. Malah di antara kami bisa saling memikirkan satu sama lain jika ada masalah. Kami bisa saling memberi semangat. Mengapa di sebut salah? Toh kami masing-masing sama-sama menyadari jika kami punya tanggungjawab pada keluarga sendiri-sediri.

Menurutku, tidak salah kan? selama kami bisa menjaga diri dan keluarga masing-masing?

“Masih lanjut dengan Edy?” tanya Era menyudutkanku.

“Santai Eeng …,santai …, kamu lihat sendiri kan sampai saat ini semuanya baik-baik saja kan? Keluargaku tetap utuh. Keluarga mas Edy juga tidak terganggu. Jadi kami tidak ada dalam masalah, kan?” aku berusaha meyakinkan Era supaya gak marah-marah terus.

“Din, berapakali aku memberitahumu? Mumpung perasaanmu belum terbawa jauh. Sudahlah Din, cukupkan hubunganmu dengan Edy!”

“Eng, sudah berapakali pula aku jelaskan bahwa antara aku dan mas Edy tidak ada apa-apa. Kami hanya berteman biasa. Salahkah jika aku dan mas Edy hanya ingin menghirup sedikit kebahagiaan untuk berteman setelah kami dipisahkan demi istilah ‘kehormatan’ keluarga besar? Apa kamu tahu rasaku waktu itu? Aku nurut, aku mengalah …, kini aku berteman saja tidak boleh? Itu kejam Eng!” jawabku berkaca-kaca.

“Justru karena aku paham perasaanmu, Din! Jika kamu berteman dengan yang lain semisal si Budi, si Pur ataupun si Teguh dan semua laki-laki teman sekolah kita, atau bahkan seluruh laki-laki seluruh dunia, aku nggak masalah. Tapi Edy? Itu mantan pacarmu Din! Aku tahu bagaimana kamu sangat mencintainya sampai tak ada tempat bagi laki-laki lain waktu itu. Kamu menerima Iwan dengan setengah hati.” Kalimat Era kembali menyudutkanku.

“Ya sudah Din, aku sudah cukup memberitahumu. Aku sudah capek. Jika kamu tetap dengan pendirianmu itu ya sudah terserah! Jangan pernah anggap aku sahabatmu lagi!” Era mengancamku.

“Ngelamunin apa sayang?” Tiba-tiba suara mas Iwan membuyarkan lamunanku.

“Eh …, nggak apa-apa mas hanya sedikit bingung dengan kerjaan kantor. Mana yang harus aku selesaikan dulu. Semua sudah minta selesai segera,” jawabku agak tergagap di depan laptop yang masih menyala.

“Aku perhatikan akhir-akhir ini, Bunda sering melamun. Jika pekerjaannya berat, istirahat dulu lah Bun,” Kata mas Iwan sambil menyodorkan secangkir teh hangat. Dia pun memijit pundakku seolah ingin meringankan lelahku.

“Nggak apa-apa Ay, Bunda hanya sedikit bingung aja,” sahutku lemah. Untung saja mas Iwan selalu baik padaku. Kalau tidak, tak ada yang bisa menahanku untuk menyambung rasaku pada mas Edy.

Tanpa dimarah-marahi si Era aku sadar sepenuhnya jika aku akan mengarah pada sebuah kekeliruan. Tapi aku kan tidak ada maksud mengarah kesana? Aku hanya lebih bahagia dan merasakan hidup lebih berwarna ketika aku tahu mas Edy juga dalam keadaan bahagia. Apa aku salah? ( Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post