Kulipat Rinduku (13)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 80
#TantanganGurusiana
Menyaksikan kebahagiaan mas Edy bersama keluarganya adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Aku tidak cemburu pada istrinya karena aku bukan lagi siapa-siapa Mas Edy. Aku bukan kekasihnya. Demikian pula dengan Mas Edy, dia juga tidak cemburu kepada mas Iwan. Meskipun sejujurnya, di lubuk hatiku masih selalu tersimpan nama itu. Meskipun sejujurnya, ada desiran halus rasa hangat di hatiku ketika mendengar canda tawa mas Edy melaui handphone.
Apakah aku mulai ada rasa pada mas Edy? Bukankah aku sudah melipat rapi semua rasa? Meskipun aku tak sanggup membuangnya? Ah …, mas Edy. Kamu memang tak selalu ada di sampingku. Bahkan jika ada apa-apa denganku, kamu juga bukan orang pertama yang akan menolongku. Kamu bukan siapa- siapaku. Tapi mengapa degup jantungku lebih kencang jika mendapat sebaris WA mu?
Apalagi dengan mendengar suaramu, ceritamu membuat hidupku lebih hidup dan berwarna. Tidak datar-datar saja. “Mas Edy … Mas Edy …,” tak kusadari aku mengucap namamu. Hmmm …, ketarik nafas panjang untuk menghempaskan semua rasa ini. Aku harus bisa menaklukkan hatiku.
“Jeng …” ketik mas Edy singkat. Entahlah, kata sesingkat itu saja mampu membuatku serasa bersayap. Mengapa aku jadi nunggu-nunggu pesan mas Edy ya? Ah pasti karena terlalu terbiasa mengobrol jadi malah seperti sesuatu yang hilang jika sehari saja dia tak memberi kabar.
Hari ini hanya sekali itu dia memberiku pesan whatsapp. Setelah itu gak ada kelanjutan. Aku paling tidak suka menunggu. Tapi aku tidak mau jika aku menelponnya. AKu tidak ingin memanjakan perasaanku yang mulai lena.
Sudah hampir lima hari tanpa kabar. Apa yang terjadi? Mencari tahu tentangnya? Oh … no …no! aku memang mulai merindukannya. Tapi bukan rindu seperti dulu. Aku memang ingin tahu kabar tentangnya, Tapi bukan tipeku untuk agresif memanjakan penasaranku. Aku cukup bisa menahan segala rasa. Makanya aku menjadi marah jika orang lain berprasangka yang aneh-aneh tentang hubungan kami. Mungkin pikiannya terlalu negatif.
Hmmm … aku menarik nafas panjang lagi. Mengapa aku merasa seperti ada yang hilang? Ah sudahlah, tak perlu aku pikirkan. Aku tidak mau kalah dengan perasaanku. Sejauh ini aku mampu melewati semua sakitku. Selama ini aku mampu menahan kejamnya rindu merobek hati. Sekarang, tak perlu lagi merasakan sakit, tak perlu lagi merasakan kehilangan.
Ya, aku memang tidak sedang kehilangan apa-apa. Hidupku sudha cukup lengkap bersama mas Iwan yang selalu baik dan menjadi suami pelindungku. Aku merasakan mas Iwan sudah cukup sempurna untuk digantikan oleh siapapun. Mas Edy sekalipun.
Pikiranku mulai berkecamuk, beradu argumen masing-masing mencari pembenaran. Kepalaku menjadi sakit, taka da yang salah …, taka da pula yang bisa benar bisa kupahami di hatiku. Entahlah ….
Mas Edy mungkin memang hadir untuk menghilang. Keberadaannya mungkin memang mendapat tuga memberiku rindu fatamorgana. Dia hadir kemudian pergi. Hadir lagi dan pergi lagi. Kali ini aku tak akan mencari.
Aku harus fokus pada diriku dan keluargaku. Pada semua yang ada di hadapanku. Mungkin Era benar bahwa mas Edy memang tak pernah jelas untukku. Mungkin Era benar, bahwa lama-lama aku memang akan membuka lipatan rindu dan mungkin kali ini akan terkoyak lebih lebar dari bepuluh tahun silam.
“Bun, sepertinya kita butuh piknik ya Bun, sudah lama kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing,” kalimat mas Iwan membuyarkan termenungku.
“Ha??? …,” aku tergagap dan tidak bisa mendengar perkataan mas Iwan yang tiba-tiba duduk di sampingku di teras belakang rumah.
“Ayah melihat bunda akhir-akhir ini seperti jenuh, mungkin kita sedang butuh bersenang-senang ya Bun. Enaknya kita bermalam minggu di mana ya akhir pekan ini?”
“Biarkan anak-anak saja yang memilih,” kataku sambil memberi senyum seolah aku baik-baik saja. Aku berusaha bersikap senormal mungkin meskipun aku lebih menikmati kesendirianku. Aku hanya menyandarkan kepalaku di dada mas Iwan, sama seperti dulu ketika aku menunggu rindu pada mas Edy. Dan selalu sama, mas Iwan selalu dengan tenang dan sabar menemani galauku.
Mas Iwan tidak akan pernah mempertanyakan kenapa aku begini atau begitu. Laki-laki baik ini seperti siap menelan semua dukaku asal aku selalu ada bersamanya. Kali ini aku lingkarkan tanganku di pinggangnya. Kupeluk dia erat-erat, ingin aku menceritakan semua lukaku.
Ingin aku menangis meminta maaf atas rasa yang tak pernah bisa hilang. Tapi wajah mas Iwan selalu teduh, selalu damai …, aku merasa selalu dimaafkan sebelum aku meminta ma’af. Aku merasa mas Iwan selalu mersakan apa yang aku rasa tanpa aku berucap. Diapun selalu berupaya mengobati semua luka.
Ya Allah, berikan kesehatan dan keselamatan dunia akhirat pada imamku penyejuk hati ini ya Robb, kelembutannya menaklukkan hatiku.
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
