Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kulipat Rinduku (14)
www.google

Kulipat Rinduku (14)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 81

#TantanganGurusiana

“Anak-anak ingin kita bermalam di pantai Bun, sebab mereka ingin bermain wahana laut saat pagi.”

Ok, Ay, Bunda siapkan semuanya ya? Mau bawa masakan apa?” tanyaku denga suara ‘secempreng’ mungkin agar tak nampak jika sisi ruang hatiku serasa ada yang kembali kosong.

“Oh Allah, ampuni aku. Utuhkan hatiku meski tak sempurna. Hilangkan ingatanku tentang mas Edy. Andai bisa ku memutar waktu, aku ingin mas Iwan saja yang mengisi hatiku sejak awal agar tak perlu aku merasakan rindu pilu ini.” Gumamku dalam hati.

“Tidak usah repot dengan masakan, Bunda. Ayah ingin kita benar-benar bisa beristirahat. Kita kan masih bisa pesan makanan di sana.” Kata mas Iwan selalu lembut.

“Ya Allah, beruntungnya aku dimiliki mas Iwan.” Gumamku lagi sambil memeluknya sekali lagi.

“Terimakasih ya Ay, selalu mengerti bunda.” Bisikku pada mas Iwan.

“Sssst! ..., aku yang berterimaksih karena Bunda juga mencintai ayah sepenuh hati,” kata- mas Iwan serasa mak jleb di hatiku karena aku tidak sepenuhnya seperti yang ia pikirkan. Aku merasa bersalah dan merasa malu dengan semua yang telah mas Iwan berikan. Aku merasa tak layak menjadi istri seorang yang berhati malaikat ini.

Sebenarnya, jika boleh memilih, aku ingin menghidari laut untuk bersantai sebab di sana aku tidak akan mampu santai. Senja laut tak nampak indah, tapi terasa jahat menyayat hatiku. Anginnya terasa tajam memporak porandakan lipatan rindu. Andai mas Iwan tahu, pasti dia akan akan halangi aku bertemu senja laut bersama anginnya. Mas Iwan pasti akan melindungiku dari derita itu.

“Aku ajak Nanik dan Iwed ya, Bun, supaya bisa rame-rame. Gak seru sewa ‘homestay’ jika gak rame-rame, lagi pula biar ada yang menemani anak-anak supaya kita juga bisa istirahat.”

“Terserah Ayah, kemanapun bunda ikut ayah,” kalimat ini aku ucapkan dengan penuh makna. Harus kupahamkan hatiku bahwa memang mas Iwan yang harus memenuhi seluruh hatiku. Mas Iwan yang sesungguhnyha memberiku seluruh rindu dan cinta.

“Ampuni aku ya Robb …, telah membiarkan hatiku lena. Aku telah jahat pada suamiku. BIsa-bisanya aku masih menyimpan rindu untuk orang lain …,” bisikku dalam hati. Ku hela nafas panjang untuk mengumpulkan seluruh kemampuan tenagaku menghadang semua rindu.

“Hati-hati Ayah, hati-hati anak-anak, salam untuk Akung dan Uti ya …,” ucapku sambil melambaikan tangan ketika mas Iwan dan anak-anak berangkat menjemput Nanik dan Iwed ke rumahku di desa. Aku memilih tidak ikut untuk mempersiapkan kebutuhan menginap. Aku tidak ingin larut dalam lamunan panjang, aku mulai memutar lagu-lagu yang bisa mewakili hatiku saja …, biasanya dengan seperti itu aku merasa sedikit lebih lega.

Sekian lama sudah kita telah berpisah Ku rasa kini engkau tak sendiri lagi Aku pun kini juga seperti dirimu Satu hati telah mengisi hidupku

Tak perlu engkau tahu rasa rindu ini Dan lagi mungkin kini kau telah bahagia Namun andai kau dengar syair lagu ini Jujur saja aku sangat merindukanmu

Memang tak pantas menghayal tentang diri mu Sebab kau tak lagi seperti yang dulu Kendati berat rasa rinduku padamu Biarkan kuhadang rinduku terlarang

Biar ku simpan saja Biar ku pendam sudah Terlarang sudah rinduku padamu (Sumber: Musixmatch)

Kubiarkan lagu itu mengalun berulang-ulang di hapeku sampai selesai pekerjaanku, sampai tak terasa lagi rindu di hatiku. Ku tumpahkan semua energy dan pikiranku hanya untuk keluargaku. Tak akan kurasakan sakit lagi …. Akan ku kebalkan hatiku dari rindu yang selalu menderu.

“Assalamu’alaikum …,” suara-suara yang semua ku kenal mulai memberi salam. Rupanya mas Iwan beserta anak-anak juga Nanik dan Iwed berhamburan masuk rumah.

“Wa alaikumussalam …,” jawabku bergegas menyambut mereka.

“Hayo semuanya mandi bergantian, kalian semuanya kecut, sejak pulang sekolah langsung berangkat lagi. Ayah juga segera mandi,” ujarku seraya kuserahkan handuk kepada mas Iwan agar segera mandi di kamar mandi yang memang kami khususkan di kamar. Ku lihat si Nanik langsung menuju kamar kak Isma anak pertama kami. Sementara Iwed adikku langsung menuju kamar adik Febri, anak kedua kami.

Nanik dan Iwed sudah hafal harus tidur di mana jika menginap di rumah kami. Mereka sudah terbiasa bersama anak-anak, apalagi jika kami ingin melakukan perjalanan ke luar kota, biasanya kami lebih suka rame-rame dan adikku si Iwed bisa dimintai tolong menyetir bergantian dengan mas Iwan.

“Hayooo! … segera berkumpul ke rang makan, Bunda sudah siapkan makanan kesukaan kalian semua.” Seruku memanggil mereka yang masih terdengar cekikikan ngobrol dan bercanda.

Sesaat kemudian kamipun larut dalam kehangatan keluarga di meja makan. Aku merasakan kehangatan ini tak akan tergantikan … tak akan pernah. Mereka terlalu berharga bagiku daripada sekedar sekeping hatiku yang bebal dan egois ini.

Aku nikmati semua ini senikmat-nikmatnya, kulayani keluargaku sebaik-baknya. Serasa kau ingin menebus kesalahan karena hatiku berbalut rindu tak jelas dan masih mengistimewakan masa lalu yang harusnya telah sirna bersama deburan ombak pesisir yang selalu ambyar terhempas karang …

Itulah rinduku … ambyar berulang ulang, sirna berkali-kali bagai ombak yang berulang datang dan sirna jutaan kali di tepi pantai. Pasang dan surut tak jelas ukurannya.

“Ya Allah, mampukan aku manaklukkan keliaran hatiku …,”

“Bunda diet?” tanya mas Iwan membuatku tergagap. Aku selalu tertangkap basah saat bengong kehillangan entah kemana rohku. Hanya jasadku yang ada di sampingnya. Aku hanya tertawa ‘nyengir’ di tertawakan mereka.

“Memangnya masih berhasil kalo bunda diet sekarang?” jawabku sewot melirik mas Iwan yang cengar-cengir melihatku manyun.

“Bunda tidak perlu diet. Bunda gak gemuk kok, Bunda hanya empuk …,” kalimat mas Iwan menggodaku diikuti tawa hangat kami saat itu. Akupun bisa tertawa lepas dan menyenggol manja mas Iwan.

Benarkah aku sudah bisa melupakan mas Edy?

(Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post