Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kulipat Rinduku (15)
www.google

Kulipat Rinduku (15)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 82

#TantanganGurusiana

Matahari telah menghilang di balik bumi ketika kami tiba di tempat menginap di pesisir pantai. Aku bersyukur karena aku tak bertemu jingga cantik senja matahari, yang akan dengan kejam memporak porandakan lipatan rinduku. Dengan begitu aku mampu membulatkan hatiku hanya untuk keluargaku. Anak-anak aku berikan kebebasan berjalan-jalan bersama Nanik dan Iwed, sementara aku dan mas Iwan memilih berjalan di pesisir pantai menikmati hamparan laut bertabur gemintang.

Mas Iwan mengajakku duduk di sebuah tempat yang menjorok ke laut, seolah hanya ada kami di tengah indahnya percik ombak berhampar kerlip bintang. Sementara bulan berbenah berlahan muncul anggun berhias sinar lembut memberi samar cahaya menyulap isi dunia nampak lebih cantik. Bulan seolah ingin menina bobokan bumi yang ditinggal matahari.

“Bun …,”

“Iya Ay ….” Kusandarkan kepalaku di dadanya. Sementara mas Iwan memeluk hangat pundakku.

“Bun …, Ayah melihat bunda akhir-akhir ini sering melamun. Maafkan Ayah ya Bun, jika Ayah tak bisa sempurna menyempurnakan hati bunda.” Kata-kata mas Iwan membuat seluruh ototku serasa lenyap. Aku berusaha tak menangis agar nampak normal sebab jika aku menangis, mas Iwan akan semakin paham jika aku masih merasakan luka.

Entahlah, harusnya mas Iwan marah padaku. Harusnya ia tampar saja aku agar ringan rasa bersalahku. Kelembutan dan kasih sayangnya, cintanya yang selalu mema’afkan membuat aku semakin tenggelam dalam perasaan bersalah selama ini masih menyimpan rindu untuk mas Edy.

Sekuat apapapun aku menahan air mata, tangisku tetap saja pecah mendengar kalimat-kalimat mas Iwan yang selalu menyalahkan dirinya bahwa ia tak mampu membuat hatiku utuh.

“Ma’afkan Bunda Ayah …, ma’afkan jika bunda mengecewakan ayah. Semua yang bunda rasakan bukan karena salah ayah, tapi salah bunda sendiri Ay …, ma’afkan ya sayang.” Ucapku bergetar, sebab menyebut kata sayang adalah hal yang sangat jarang aku ucapkan, ada perasaan bersalah setiap kali aku harus mengucapkannya.

Jika bukan karena Mas Iwan, laki-laki lain mungkin akan merasa puas jika memaki –maki aku atau menamparku atau bahkan menceraikan aku. Namun mas Iwan tidak seperti itu. Selalu ada cinta dan hati untuk mema’afkanku. Ma sIwan selalu menjaga hatiku.

“Ayah yang tak sempurna untuk Bunda,” Bisiknya selalu mengalah.

“Bunda yang tak sempurna untuk ayah, Bunda yang banyak berdosa untuk ayah.”

“Tidak perlu meminta ma’af Bun, Tidak ada yang salah dari Bunda. Sudahlah, kita nikmati saja udara pantai ini,” Mas Iwan mengusap air mataku. Ia menarikku untuk berjalan kembali ke tempat kami menginap. Namun dia masih mengajakku mampir menikmati jagung bakar manis.

“Anak-anak apa sudah kembali ya Ay?” Mas Iwan menjawab dengan melihat jam tangannya.

“Masih jam delapan Bun, mungkin mereka butuh makan malam,” jawabnya sambil tolah toleh berusaha mencari anak-anak barnagkali masih ada di luar. Benar saja, mereka akhirnya bergabung dengan kami.

“Ya Allah, keluargaku sangat hangat. Bukankah mereka adalah keutuhan hatiku? Hmmmm … tak akan ada lagi air mata. Mereka adalah milikku yang sangat berharga. Suami yang sangat ber-akhlaq mulia, memuliakan istri adalah imamku. Anak-anak yang manis adalah kekuatan ikatan antara aku dan mas Iwan? Apa lagi?” Gumamku dalam hati.

“Mau langsung kembali ke penginapan apa masih mau jalan-jalan nih?” tanya mas Iwan, pemimpin rombongan.

“Ke hotel saja ya? Bunda ingin segera istirahat,”

“Langsung tidur sesudah makan nggak baik, Bun!” Seru si Febri anak keduaku yang memang lebih cerewet dan suka protes.

“Oke … terus kita mau ke mana?”

“Aku masih ingin jalan-jalan, Bun,” jawab anak sulungku.

“Aku juga mau jalan-jalan,” kata Iwed. Sememtara si Nanik langsung mengiyakan saja jika ia yang akan menemani ponakan-ponakannya. Aku dan mas Iwan memilih menunggu anak-anak dengan duduk santai.

“Bun, maafkan ayah tak memberi kesempatan pada bunda menikmati senja jingga pantai. Ayah tidak mau indahnya menyakiti hati bunda. Ayah tidak mau bunda bersedih karenanya lagi. Jingga matahari terbenam hanya akan menyisakan luka yang bersusah payah ingin ayah obati. Kini ayah ingin menghindari pemicunya. Oke Bun?” Mendengar kata-kata ini membuatku seperti hilang. Tak snaggup aku mengunyah jangung bakar manis.

Ucapan-ucapan mas Iwan penuh makna yang tersirat yang harus aku pahami mendalam. Mas Iwan selalu ‘so sweet’ memilih kata bermakna untuk menasihatiku. Tak pernah ia nampak marah. Tak mampu aku membalas tatapan mata teduhnya. Selalu ada selaksa ma’af untukku.

( Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post