Kulipat Rinduku (16) The End
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 83
#TantanganGurusiana
“Bun …, sayang …, sudah jam empat subuh,” kudengar sayup di telingaku. Keningku terasa dingin. Ternyata mas Iwan telah selesai mandi dan siap untuk solat subuh. Ia yang menempelkan tangan basah di keningku.
“Hmmm …,” jawabku masih agak malas.
“Ayok Bun segera mandi dan solat, sebentar lagi matahari terbit. Sayang kalau kita tak menyaksikannya.” Kaata mas Iwan sambil menarik selimutku. Hehehe tentu saja aku bergegas bangun dan mandi. Kupejamkan mata menikmati kucuran shower membasuh seluruh hatiku. Sejuk airnya membuat ragaku kembali segar.
“Ayok anak-anak … kita ke pantai mumpung masih pagi. Kita mau lihat matahari terbit,” panggilku sambil mengetok pintu kamar mereka. Nanik membukakan pintu sementara si Iwed masih mendengkur di kursi. Isma dan Febri masih bermalasan.
“Kalian segera salat subuh ya, trus menyusul. Ayah sama Bunda duluan ke pantai,” kataku sambil mendekati si Febri yang merentangkan tangan minta dipeluk.
“Hmmm … sayangku ini yang cakep tapi masih bau …,” kupeluk putra keduaku yang masih ingin manja.
“Ayok, Nak … sayang … segera salat,” ucapku meniru kelembutan mas Iwan pada mereka.
“Kak Isma …ayok segera bergegas, keburu mataharinya terbit. Eman-eman kalau kita sampai di pantai kedahuluan matahari,” kucubit sayang anak pertamaku.
“Di kamar mandi masih ada tante Nanik Bun,”
“Kan bisa pakai kamar Bunda? Sana cepetan!” Seruku. Aku memastikan anak-anakku semua bangun agar tidak terlambat salat subuh.
“Jangan lupa mengunci pintu ya! Ayah dan Bunda jalan duluan,” Seru mas Iwan mengingatkan anak-anak. Kemudian dia menyeretku keluar dengan bertelanjang kaki menghirup sejuk pagi. Aroma pantai dan debur ombak seolah meleburkan kami pada rasa yang lebih menggelora dari sebelumnya.
Matahari mulai muncul dengan jinnganya yang memudar semakin cerah dan hangat memberi semangat dan harapan baru. Berbeda dengan jingga memerah yang semakin redup kemudian berganti gelap ketika matahari terbenam. Sama-sama indah, namun beda makna.
“Semoga hanya ada terbit matahari untuk bunda,” kata mas Iwan mebelakangi matahari seolah ia ingin menjadi bagian matahari terbit. Aku tak mampu berkata. Hanya kutundukkan wajahku, aku malu terhadap cintanya.
Dari mas Iwan aku belajar bahwa tak akan ada luka untuk cinta karena cinta selalu ingin memberi yang terbaik untuk yang dicinta. Cinta selalu memberi, cinta selalu ingin membahagiakan yang dicinta. Cinta selalu mema’afkan. Cinta hanya cinta. Tak ada alasan kenapa cinta.
Kuhirup wangi pasir pantai pagi dengan semilir angina yang sejuk merasuk relung hati. Kubiarkan kakiku tersentuh ombak silih berganti. Kubiarkan wajahku terkena pecikan buih putih yang hadir lalu segera sirna. Tak kan kuperdulikan lagi pesan apa yang barangkali terbawa angin …, tak akan ….
“Ayo Bun, Kita naik ‘speedboat’ bareng-bareng!” ajak anak-anak sambil memberikan pelampung untukku. Mereka juga memasangkannya. Meraka paksa aku suapaya mau, mereka hafal jika aku kurang suka bermain bersama. Namun kali ini aku ingin perasaanku lepas selepas-lepasnya.
“Huuuuuuuuuuu … huh ...!” teriakku menikmati deru ombak akibat laju ‘speedboat’. Ku lihat anak-anak nampak sangat bahagia. Merekapun sama, berseru gembira. Mas Iwan nampak waspada menjaga si Febri di ujung depan ‘speedboat’. Kebersamaan ini tak akan bisa digantikan.
“Laper, Bun!” seru ayah.
“Iya aku juga,” sahut anak-anak hampir serentak. Sementara ku lihat si Iwed tetap sibuk dengan kameranya memotret segala yang menarik hatinya. Ia juga mengabadikan momen-momen kebersamaan kami.
“Kita kembali ke penginapan dulu, ini sudah hampir siang. Kita ‘check ou’t jam dua belas siang nanti. Kita makan siang di perjalana pulang ya!” seru mas Iwan kepada semuanya. Ia seperti tak ingin berlama lagi di pantai. Ia ingin segera membawa kami pulang sebelum matahari bergeser ke barat. Ia seperti tak rela aku tersakiti jingga merah yang kemudian meredup menjadi gelap menyisakan membekukan hatiku.
Kulirik wajahnya yang berseri. Dia penakluk hati sejati. Tak pernah tumbang oleh kerasnya hatiku.
“Terimakasih sayang,” kali ini aku mengucapkannya benar-benar dari relung hatiku yang baru. Kebersamaan ini benar-benar membawaku kembali utuh. Ingin ku putar ulang waktu. Ingin kuhapus mas Edy dari kenangan masa lalu. Ku ingin mengubah cerita agar mas Iwan saja satu-satunya pria dalam hidupku.
****
Aku berangkat ke sekolah dengan semangat baru. Kulihat wajah mas Iwan semakin berseri dari sebelumnya. AKu merasa iapun telah bebas dari rasa selalu bersalah tak bisa membahagiakanku.
“Mas, maafkan aku tak mampu menunggumu
Maafkan aku atas ketidaksabaranku
Aku meyakini semua ini adalah garis yang harus kita terima
Akupun meyakini bahwa kau kini bahagia seperti diriku.
Tak pantas bagi kita menyakiti orang-orang yang dengan cinta mencintai kita.
Sekecil apapun rasa…
Setipis apapun desir mengalir
Adalah kekeliruan yang tak seharusnya
Bukan salahmu tak datang
Bukan salahku tak mampu menunggu
Bukan salah cinta diantara kita
Kitalah yang salah menempatkan cinta…”
Ku kirim pesan melalui whatsapp. Langsung kuhapus tanpa menunggu centang dua menjadi biru ….
(the end)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
