Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Lengah dan Melemah

Lengah dan Melemah

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 106

#TantanganGurusiana

“Byuh …, tambah lagi yang positif?” komen bu Husnul pada postingan Pak Munip tentang Data Pantauan Covid-19 Kabupaten Jember.

“Jombang langsung dua, bapak dan anak dan sudah diisolasi di rumah sakit Lumajang,” lanjut pak Munip memberi keterangan.

“Astagfirullah …, apa punya ‘story’ dari luar kota atau punya tamu dari luar kota ya? Jombang dekat loh dengan kita,” lanjut bu Husnul khawatir.

“Kabarnya, ayah dan anak itu sedang menunggui si ibu yang di rawat di rumah sakit dan meninggal tapi bukan disebabkan Corona. Lah, pulang-pulang mereka berdua positif,” jelas Pak Munip.

“Setelah sehari sebelumnya, dua warga Jombang dinyatakan positif corona , kini ada dua warga Jember lagi yang positif Corona. Hal ini disampaikan Bupati Jember dr. Faida. Salah satunya adalah siswa SMP berumur 14 tahun asal kelurahan Kepatihan kecamatan Kaliwates. Berdasarkan update penyebaran corona tanggal 28 April 2020, ada tambahan dua warga positif Corona. Satu lagi adalah pegawai PTN asal Klungkung, Sukorambi.” Ketik pak Munip melanjutkan penjelasaanya.

“Ya Allah, diam di rumah itu benar-benar penting,” Bu Trisna memberi komentar yang kemudian mengunggah daftar yang positif, PDP, ODP, dan ODR. Saya ketik dengan huruf besar untuk memberi penekanan bahwa berdiam di rumah memang sangat penting.

“Semoga segera berlalu ya …, semoga keadaan segera kembali normal, kangen sekolah dan anak-anak,” imbuhnya.

Seperti itulah percakapan grup whatsapp guru-guru sekolah kami. Disamping membahas tentang kegiatan belajar mengajar setiap hari, di sela kejenuhan menelateni berbagai kendala mengajar online, kamipun saling mensupport dan memberi komen-komen lucu yang bisa sejenak merefresh pikiran.

Tak jarang kami membicarakan tentang kerinduan kami pada siswa. Kami juga berharap agar keadaan segera kembali normal. Tentu saja kami sebagai guru merasa mempunyai kewajiban untuk memberi pengertian sekaligus contoh-contoh tindakan yang baik dalam rangka mengurangi penyebaran virus Corona.

Tentu saja, saya sebagai salah seorang guru juga melakukan hal yang sama berupaya meng-edukasi keluarga maupun kerabat baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memahami apa yang sedang kita hadapi dan bagaimana seharusnya kita bertindak dalam keadaan menghadapi penyebaran virus covid-19 ini.

Namun disisi lain, saya merasa prihatin dengan masih banyak orang yang sangat acuh seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan yang sebelumnya sangat berdisiplin berdiam di rumah dan mengenakan masker jika terpaksa keluar malah mulai kendor. Mereka mulai beraktifitas seperti biasa seolah pandemi ini sudah berlalu.

Padahal, di bulan Romadhan ini, justru masih banyak pemudik-pemudik nakal yang menelusup dan berhasil pulang kampung dan tidak melapor bahkan ditutup-tutupi oleh keluarganya. Di saat-saat seperti inilah sebenarnya saat yang sangat mengkhawatirkan. Penyebaran virus yang tak nampak ini makin tak terkendali dengan kedisipilinan masyarakat yang sangat tidak bisa dijamin.

Belum lagi para anak-anak dan remaja yang melakukan kegiatan berjalan pagi secara bergerombol seperti biasa sebagai kegiatan musiman setiap bulan puasa.Tidak ada yang salah dengan kegiatan jalan-jalan pagi. Tapi mereka melakukannya dengan sangat tidak menghiraukan himbauan untuk melakukan ‘social distancing’ dan memakai masker.

Saya heran, mengapa para orangtua juga merelakan putra-putri mereka melakukan aktifitas seperti itu? Mengapa tidak diganti dengan kegiatan yang lebih bermanfaat? Semisal mengaji di rumah selepas salat Subuh, atau tidur saja tidak perlu melakukan hal-hal yang bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Mengapa ya, masyarakat kita terkesan sangat sulit dipahamkan? Menagapa di saat-saat rawan seperti ini mereka justru lemah dan lengah? Berbagai alasan akan muncul untuk membenarkan tidakan kelirunya. Kalau sudah ada kejadian, apalagi menimpa dirinya, baru teriak-teriak bahkan tak jarang menyalahkan pemerintah. Padahal, merekalah yang sangat sulit diajak bekerja sama oleh pemerintah.

Memang serba dilema dengan kebijakan untuk berdiam di rumah sampai keputusan pemerintah untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Menurut saya, jika ingin semua ini segera berakhir, maka alangkah baiknya jika semua bahu-membahu perduli dengan keadaan ini.

Para medis sudah jelas berada di garda depan perjuangan memerangi covid-19 ini. Maka kita, sudah seharusnya jika saling perduli dengan nasib saudara-saudara kita dengan cara yang sangat standar. Berdiam diri di rumah dan jika terpaksa keluar ya gunakanlah masker serta jangan lupa sering-sering mencuci tangan. Cukup dengan menjaga diri sendiri dan keluarga, maka perjuangan para medis secara tidak langsung sudah akan sangat terbantu.

Jangan lemah apalagi lengah. Permasalahan virus Corona ini bukan permasalahan ringan karena sangat sulit terdeteksi. Jangan lemah apalagi lengah, tetaplah berdisiplin sebelum keadaan benar-benar normal. Jangan lemah jangan lengah, marilah kita tetap berdisiplin melakukan hal yang sudah dianjurkan.

Jangan membuka celah untuk penyebaran Covid-19 gelombang kedua seperti yang diprediksikan. Melindungi diri sendiri sama artinya dengan melindungi orang lain. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Semoga musibah ini segera berakhir dan keadaan kembali normal. Aamiin Ya Robbal Alaamiin …

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post