Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pasukan Bodrex SMPN 1 Balung

Pasukan Bodrex SMPN 1 Balung

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 96

#TantanganGurusiana

.

“Bu, hari ini saya tidak ke sekolah ya, masih mau merekap nila siswa,” whatsapp dari Bu Trisna pada hari Kamis pagi.

“Oke, Bu.” Jawab saya ringan karena saya merasa masih ada waktu jum’at sampai Minggu untuk menyelesaikan tugas yang sama meskipun saya mempunyai target pribadi menaklukkan tantangan menulis di Gurusiana dan target menulis lainnya.

Sementara, sejak diberlakukan Work From Home pada tanggal 16 Maret, saya masih ke sekolah setiap hari kecuali hari libur dan hari minggu mulai pagi sampai jam duabelas siang. Bukan untuk kegiatan belajar mengajar tapi untuk menata taman sekolah bersama team Pokja Taman.

Entahlah, tiba-tiba saya mendapat tugas sebagai koordinator pokja taman meskipun saya tidak punya keahlian menata taman ataupun paham tentang bunga. Saya hanya penggemar keindahan taman.

Sebenarnya tidak ada yang mengharuskan saya ke sekolah setiap hari. Saya hanya merasa kurang pas jika tidak mengawal pembentukan taman meskipun sudah ada konsep berupa gambar yang bisa dilaksanakan oleh lima orang pembantu pelaksana yang saya sebut “pasukan bodrex”

Jika saya mau, bisa saja konsep taman berupa gambar-gambar hasil ‘googling’ itu saya share di grup pokja kemudian saya cek hasilnya sewaktu-waktu saya sempat. Namun entahlah, ada rasa yang begitu kuat untuk mengikuti seluruh proses pembentukannya. Bukan berarti saya tidak percaya kepada para ‘pasukan Bodrex’ yang diketuai oleh Pak Mahbub. Mungkin karena hati saya ada di sana.

Saya merasa ada desir kelegaan hati tersendiri manakala bisa menyatukan konsep dengan kreativitas team pokja yang di damping oleh bu Hj. Susriyani dan Bu Vinike. Tak jarang ada perbedaan pendapat diantara kami, tetapi demi keindahan sekolah SMPN 1 Balung tercinta, kami berupaya menyatukan perbedaan itu menjadi sebuah karya indah yang di eksekusi oleh ‘pasukan Bodrex’ meski tak jarang kami menikmati kebersamaan ikut menanam bunga agar pekerjaan lebih cepat selesai atau sekedar membawa makanan ringan. Ada kebersamaan yang mengikat kami.

Perasaan selalu ingin mengawal ini semakin kuat manakala kami bekerja di tengah-tengah serba keterbatasan akibat tiba-tiba kita semua menghadapi pandemi Corona. Kami tidak mungkin mengerahkan siswa. Kami juga tidak bisa mengerahkan seluruh guru pada pokja masing-masing dalam program mewujudkan SMPN 1 Balung sebagai sekolah Adiwiyata.

Sementara itu, mau tidak mau, SMPN 1 Balung perlu membenahi diri agar bisa memenuhi syarat sebagai sekolah Adiwiyata. Tentu saja hal ini bukan urusan membalik telapak tangan. Semua adalah proses panjang berkesinambungan.

Oleh karena itu, SMPN 1 Balung dengan lahan sekolah yang luas akan memerlukan proses yang tidak singkat, terutama dalam penataan taman dan penghijauan. Sehingga pokja-pokja yang berkaitan dengan tumbuhan harus segera dilaksanakan. Diantaranya adalah pokja taman, pokja penghijauan dan pokja toga yang berurusan dengan menunggu tumbuh kembang tanaman.

Ketiga pokja ini berjudi dengan waktu apakah yang ditanam dan ditata sedemikian rupa akan hidup atau layu bahkan mati di hari-hari proses penataan berlangsung. Untungnya, di lahan yang sedemikian luas, bisa menjadi sumber tanaman bagi kami selain bunga-bunga yang dibawa oleh siswa pada saat jauh sebelum pandemic covid 19 melanda.

Kami memang memperoleh bantuan bibit tanaman dan pohon dari Balai Pembibitan. Namun apa yang sudah kami peroleh masih belum bisa memenuhi lahan yang sedemikan luas. Untuk meminta kembali ke Balai Pembibitan memang bisa, namun lagi-lagi terkendala situasi pandemic yang benar-benar memasung kebebasan bergerak.

Kami terus bergerak dengan menggunakan segala yang ada di sekolah. Membentuk taman dengan memanfaatkan genteng bekas. Memindahkan beberapa tanaman dan bunga menjadi bentuk taman cantik sesuai gambar. Meski tidak persis, tapi mirip, yang penting lebih indah dari sebelumnya.

Selain itu, kami juga memanfaatkan batu-batuan di sekolah sebagai hiasan taman. Tak lepas dari lirikan kami adalah rumput liar yang bisa ditata sebagai taman. Ini adalah ide dari bu Vin yang harus memutar otak memenuhi permintaan saya akan kebutuhan rumput. Beliau juga harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan tanah ‘uruk’ untuk menutup banyak bagian sekolah yang posisi tanahnya terlalu dalam.

Apakah kami bekerja tanpa proposal? Tentu saja tidak. Program Adiwiyata yang diketuai oleh ibu Lia, seorang guru muda namun memiliki kemampuan dan kemauan bekerja, telah membuat proposal yang meliputi seluruh jadwal kegiatan dan pendanaan. Semua sudah rapi dan siap bergerak. Bahkan ibu Lia dan team sudah berhasil mendatangkan bantuan bibit tanaman dan bunga. Namun, manusia hanya berencana dan Allah penentu segalanya.

Proposal tersendat keadaan. Kegiatan tak mungkin dilaksanakan menyeluruh. Tak ada bunga mahal, tak ada tanaman mahal, tak ada rumput mutiara. Namun saya sangat salut dan berterimaksih kepada Pak Mahbub, Pak Ahmad, Pak Fendik, Pak Selamet Satpam dan Pak Arto yang selalu bersemangat bahu membahu mewujudkan konsep taman menjadi wujud nyata.

Apapun yang harus kami hadapi, kami tetap bersyukur bahwa Allah senantiasa memberi kesehatan dan perlindungan kepada kami hingga saat ini masih bisa terus bahu membahu mewujudkan SMPN 1 Balung menjadi sekolah Adiwiyata. InsyaAllah …

Keterbatasan bergerak masih bisa kami atasi untuk saling bekerjasama dan berkoodinasi melalui media sosial yang sangat umum yaitu whatsapp. Tak masalah hape kami menjadi sering ‘lemot’ akibat kebanyakan grup. Baik grup kegiatan belajar mengajar maupun grup kerja dan grup keluarga karena keadaan memang memaksa dunia nyata pindah ke dunia maya.

Sekali lagi saya salut dan haru menyaksikan semangat ‘pasukan bodrex’ dalam bekerja mewujudkan taman-taman impian. Tanpa tangan kuat beliau-beliau yang bekerja dengan hati, konsep saya berupa gambar taman seindah apapun tak akan pernah terwujud. Terimaksih ‘pasukan bodrex’, semoga lelahmu lillah … aamiin.

Balung, 19 April 2020,

Edisi memenuhi tantangan menulis disaat setor nilai juga berteriak ‘deadline’

Bismillah … semoga semua selesai. Aamin YRA

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post