Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Tak Bisa Kulepaskan
www.google

Tak Bisa Kulepaskan

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 92

#TantanganGurusiana

             

Selamat pagi pembaca. Hari ini saya ingin jeda sejenak dari menulis fiksi. Hari ini saya ingin berbagi pengalaman nyata yang memang saya alami. Sebenarnya sejak kemarin saya ingin menuliskannya. Namun kemarin saya merasa masih ingin melanjutkan fiksi saya.

Pembaca, pertama yang ingin saya sampaikan adalah rasa syukur bahwa sampai hari ini masih mempunyai kesempatan untuk mencurahkan rasa dalam tulisan. Saya juga berterimakasih kepada para pembaca yang setia mengikuti cerita-cerita fiksi yang saya tulis, baik mereka yang meninggalkan komentar maupun kepada mereka yang menyempatkan diri memberikan jempol di setiap upload saya di FB MediaGuru Indonesia.

Saya juga berterimakasih kepada para trainer  yang bertugas sebagai editor maupun admin di MediaGuru Indonesia yang terus menerus melayani dan memberi semangat baik langsung maupun tidak langsung kepada kami, khusus diri saya, sebagai penulis pemula yang masih terus mengasah keterampilan menuju kepantasan untuk disebut sebagai PENULIS.

Hari ini, adalah hari ke-92 (sengaja menggunakan angka bukan huruf) saya menulis tanpa henti, itu adalah hitungan saya. Namun tidak seperti itu menurut aturan tantangan menulis di GuruSiana. Kenapa? Apakah saya dan GuruSiana beda pendapat? Tentu tidak, saya mana berani? He … he …

Apakah para pembaca masih ingat dengan posting saya tentang “Ketidaksengajaan Yang Fatal” …? Kalau lupa, saya ingatkan sedikit.

Di postingan itu saya menuliskan penyebab semuanya. Tanpa sengaja saya mendelet posting hari ke-27. Kecewa? Pasti! Menangis? Jelas! Saya pun berupaya meyakinkan semuanya bahwa saya masih simpan tulisan di hari ke-27 sebagai bukti bahwa saya memang tak pernah seharipun kosong menulis.

Namun peraturan ya tetap peraturan. Itulah serunya tantangan menulis di GuruSiana. Saya terpental di hari ke-27 dan harus menghitung ulang dari hari ke-1. Saya bukan tidak menerima peraturannya. Saya paham dan menerima dengan sangat sportif semua aturan main yang harus saya patuhi. Gagal posting, apapun alasannya, tetap harus menghitung ulang.

Namun, saya tidak mau merasa gagal. Oleh karena itu saya tidak menulis dari angka satu karena itu akan melemahkan semangat saya. Sakitnya tuh di sana sini! Jadi saya tetap melanjutkan ke angka 28 yang sebenarnya sama dengan hari ke-1.

 Aaaaaaaartinya! Meski menurut hitungan sebenarnya, saya telah menulis selama 92 hari tanpa henti, tanpa bolong, tanpa kosong. Mohon diingat dan dicatat ya? …Namun menurut hitungan GuruSiana, ya tetap saja saya masih kurang beberapa hari untuk sampai ke hitungan 90. Berapa harikah itu?

Ya! Saya harus menempuh 28 hari lagi ! AMAZING,kan? ini bener-bener Menden Mangan Semir ! Jujur saya ingin berhenti. Sungguh perlu perjuangan utnuk membagi waktu. di saat semua harus Work From Home saya malah harus melakukan banyak hal di sekolah. Pagi sampai siang saya harus ke sekolah menemani beberapa orang pembantu pelaksana untuk menata ulang taman sekolah (untuk hal ini, nanti saya ceritakan di episode lain mengapa saya menjadi penata taman sekolah).

Saya juga harus melaksanakan semua hal yang dilakukan para guru yang Work From Home. Padahal, target saya sebelumnya adalah mencetak buku ke dua yang akan segera disusul oleh buku ke tiga. Namun target saya tidak bisa saya penuhi maksimal. Pekerjaan membuat taman bukan masalah mengawasi pekerja, tapi saya jatuh terlibat di dalamnya. Ada rasa yang tak bisa saya jelaskan.

Harusnya, sejak diberlakukan WFH adalah keleluasaan waktu untuk memaksimalkan menulis, tapi nyatanya, saya malah terjebak di tumpukan tugas multi talent pengganti kata tugas serabutan. Lebih tepatnya, saya terjebak pada kegiatan yang tidak fokus alias ‘mblarah-mblarah’(bahasa jawa yang artinya kemana-mana gak jelas tujuan).

Mengoreksi tugas-tugas siswa melalui whatsapp sangat memusingkan kepala. Kenapa kok gak pakai aplikasi lain yang lebih mudah? Ya karena saya belum mengunduh aplikasinya. Seandainya saya unduh juga percuma karena saya masih harus belajar menggunakannya alias saya belum bisa … he … he …, satu-satunya aplikasi yang baru mau akan saya gunakan adalah ThatQuiz yang memang baru dipelajari bersama-sama di sekolah saya.

Di sela-sela itu saya harus tetap waspada dengan upload tulisan di GuruSiana. Ingin saya lepaskan, tapi tak mampu saya tinggalkan. Jadi saya tetap terus menulis meski terkadang merasa sangat lowbat.

 Terkadang saya berpikir untuk menentukan pilihan fokus. Saya harus fokus pada menerbitkan buku ataukah fokus pada meneruskan tantangan? Skala prioritas? Sepertinya itu tidak mudah saya lakukan karena bagi saya semuanya sama-sama mendesak.

Mungkin saya memang terlalu banyak keinginan sehingga gagal fokus. Semua ingin saya lakukan dan semua ingin saya selesaikan sehingga semuanya semakin gak selesai-selesai. Atau memang kebiasaan saya gak fokus ya? He … he …

Entahlah. Saya capek mikirnya. Yang jelas, inshaAllah saya akan terus menulis sampai hitungan tantagan GuruSiana mencapai 90 hari, yang artinya. Saya masih harus melanjutkan hitungan sampai pada hari ke hari 122 atau lebih. Entahlah, saya akan menulis sekemampuan saya.

Semoga semangat ini tidak luntur. Bismillah ….

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post