Cinta Semusim Bunga Tembakau (1)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 108
#menuju 365 hari
#TantanganGurusiana
“Kriiiiing …!” Ayu sudah hafal siapa yang biasa menelepon pada jam setelah makan malam.
“Hallo adik, sudah makan malam?” suara riang itu sangat yakin jika Ayu yang akan mengangkat telepon. Dan memang selalu seperti itu. Dia tahu persis kalau gadisnya memang tidak kemana mana jika tidak sedang ke kampus.
“Sudah, Bang,” jawab Ayu agak malas.
“Adik sakit?” tanya Rendra penasaran.
“Nggak Bang, cuma lagi capek aja.” Ayu menjawab singkat.
“Oh, ya udah …, daaaa …, aku tutup teleponnya ya? Sepertinya aku mengganggu.” Begitulah si Rendra menggoda Ayu. Sudah tentu dia tau persis bahwa Ayu tidak akan rela jika telepon ditutup. Ayu tidak menjawab apa-apa, dia hanya tersenyum.
Kesedihan yang menyelimuti hatinya seketika sirna. Senyumnya rekah dengan keriangan sang pacar yang selalu menjadi penghiburnya. Namun keceriaan Ayu kali ini hanya sebentar, sesaat kemudian kembali sedih.
“Dik …, bicararah jika kau tak lagi sakit gigi,” kembali Rendra membuat Ayu tertawa meski sebenarnya Ayu sudah berlinang air mata.
“Abang, adik mau bicara”. Suara Ayu serak.
“Ampun Tuhan …! sedari tadi Abangmu berdiri di telepon umum ini kau kira sedang kasih makan nyamuk?, tega kali kau dik!” Begitulah logat bicara si Rendra. Seorang mahasiswa Batak. Kalau boleh disebut, Rendra salah selera jatuh cinta pada gadis desa yang berbeda fakultas, beda suku bahkan beda keyakinan.
“Bicaralah, Abang rela digigit nyamuk menunggu suaramu.” Suara Rendra membuat Ayu tetap tersenyum meski sedih.
“Adik ingin terminal sementara. Adik gak akan bisa wisuda bersama Abang. Adik gak akan bisa selesaikan skripsi dalam semester ini,” Ayu berbicara sambil terisak.
Sejenak pembicaraan telepon senyap. Tidak ada suara Rendra. Hanya terdengar nafas dalam, nafas yang berat bertanda di seberang telpon sedang berpikir.
“Adik jangan sedih, Adik gak boleh patah semangat. Adik harus tetap selesaikan skripsi tepat waktu. Abang besok ke rumah Adik Ya?” Suara Rendra terdengar khawatir.
“Nggak usah datang Abang, besok aku ke kampus, aku ingin bertemu dosen pembimbingku,” ucap Ayu masih sedih.
“Nah gitu dong”, ucap Rendra bersemangat.
“Tapi Bang ...,” sambung Ayu masih ragu.
“Ah sudahlah, tidak usah pakai tapi, besok jam delapan pagi aku jemput di tempat biasa, OK? Daaa … adiiiiik … met malem … Abang tunggu besok.” Telpon ditutup, Rendra sengaja melakukan itu supaya tak ada lagi alasan, supaya tak ada lagi keraguan Ayu.
Ayu belum sempat menjelaskan, bahwa kehadirannya di kampus besok untuk menemui dosen pembimbing bukan untuk berkonsultasi skripsinya melainkan berkonsultasi seandainya sementara ia meminta ijin terminal.
Setelah salat Isyak, Ayu menghampiri ibunya yang nampak pucat, terkulai lemah di sebuah dipan ukir kuno mewah dan besar. Sang ayah sedari tadi tak putus mengaji. Di atas sajadah yang terhampar di sudut kamar besar itu.
Ayu duduk pelan di samping ibunya yang sedang lelap. Ibunya kelelahan menahan rasa sakit perut akibat penyakit lambung yang didertitanya. Ayu selalu mengaji disamping ibunya dan hanya berhenti manakala ibunya terjaga kesakitan.
Sesekali Ayu melirik ibunya sambil terus mengaji. Kali ini dia tidak berani bersuara nyaring, ia tak ingin isak tangisnya terdengar oleh ayah maupun ibunya.
“Ayu,” bisik ibunya sambil memberi tanda supaya mendekat ke wajah ibunya.
“Iya, Bu”, jawab Ayu sambil segera mengusap air mata sembari mendekatkan wajah ke ibunya.
“Kamu nangis?” tanya ibunya sambil mengusap pipi Ayu.
Ayu tidak bisa bersuara, dia hanya menggeleng dan bergegas mengambilkan air hangat dalam wadah untuk mengopres perut ibunya. Cara itu untuk sekedar meringankan rasa sakit perut yang diderita ibunya.
Entah penyakit lambung yang bagaimana sehingga tak kunjung sembuh. Sudah dua bulan ini ibunya keluar masuk rumah sakit tapi selalu kambuh dan kembali ke rumah sakit.
Dokter selalu menasehati agar ibu memperbaiki pola makan dan dilarang berpikir terlalu berat. Namun hal ini yang tidak bisa dilakukan oleh ibu Ayu. Sejak dulu, ibu Ayu selalu malas makan, dan menjadi semakin sedih dengan keadaan terpuruk ini.
Terkadang di dalam hatinya, Ayu ingin marah kepada ibunya yang terlampau lemah dan semakin memperparah keadaan. Ayu sebenarnya menjerit dan ingin berputus asa. Akan tetapi dia harus kuat demi menjaga ibunya. Ayu harus memasak dan mencuci serta membersihkan rumah sejak tak ada lagi biaya untuk membayar asisten rumahtangga.
Mampukah Ayu menghadapi keadaan itu? (Bersambung)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
