Cinta Semusim Bunga Tembakau (2)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 109
#menuju 365 hari
#TantanganGurusiana
Di penghujung perempatan terminal perbatasan, nampak seorang pemuda berambut gondrong.yang nongkrong di atas jok sepeda bermerk Honda. Dari tatapannya dia sedang menunggu seseorang yang akan turun dari angkot pedesaan.
Ayu melambaikan tangan, pemuda itu pun membalas dengan lambaian dan senyum rekah seperti biasa.
“Hai adikku cantik sekali kau pagi ini, tapi kau nampak agak kurang bersinar, pasti kau belum sarapan,” begitulah kebiasaan si Rendra yang disambut dengan senyum menyeringai si Ayu. Rendra tau persis jika gadisnya memang selalu pas-pasan di transport.
“Aku sudah sarapan kok Bang, aku belum lapar. Nanti saja jika sudah bertemu dosen aku pasti mau kau ajak makan.” Sahut Ayu menolak halus karena malu terlalu sering ditraktir makan.
“Ah, sudahlah adik, egois sekali kau ini. Kau boleh tak lapar, tapi Abang belum sempat sarapan. Abang buru-buru karena khawatir terlambat menjemput Kau,” jawab si Rendra tak pernah kalah.
“Kalau Abang terlambat, kan adik selalu menunggu, mana pernah adik ninggalin Abang?” jawab Ayu dengan nada meninggi.
“Abang khawatir nanti Kau diculik orang, matilah aku,” jawab Rendra mengedipkan mata genit. Ayu hanya membalas dengan cubitan mesra di pinggang Rendra.
Sejenak beban hati Ayu terhibur serasa tanpa beban. Bercanda ceria bersama kekasih yang sudah hampir enam bulan jadian, sejak kebersamaan pada KKN yang sebenarnya Ayu tak pernah ingin jatuh cinta padanya.
Entahlah, mungkin seperti kebiasaan para mahasiswa yang dilanda cinlok alias cinta lokasi. Saat melaksanakan Kuliah kerja Nyata bersama lalu bubaran jika tugas telah usai.
Tapi antara Ayu dan Rendra sepertinya tidak seperti itu, entah apa yang membuat Rendra begitu terhipnotis dengan tampilan Ayu, gadis yang amat sangat sederhana dan pas-pasan serta tidak pernah berpenampilan glamour seperti mahasiwa kebanyakan. Ayu tak pernah punya sepatu atau tas bermerk, Ayu tak pernah bersolek, hanya lipstick tipis murahan yang selalu ia gunakan supaya tak nampak pucat. Mungkin bagi Rendra yang suku Batak itu, justru tampilan Ayu yang sederhana itulah yang membuatnya sangat tertarik.
“Bang, adik gak bisa temenin Abang sarapan. Anter adik ke gedung tiga, setelah itu Abang boleh sarapan, Adik sudah janjian dengan dosen pembimbing jam sembilan, sekarang sudah kurang lima belas menit, Adik gak mau terlambat,” sekali lagi Ayu beralasan untuk tidak makan.
“Oke, beneran ya, Adik gak mau sarapan nih?” tanya Rendra menyakinkan.
“Nggak Bang …!” Jawab Ayu mulai melotot untuk menang dari rayuan Rendra yang lebih sering sulit ditolak.
“Aku tunggu Abang di sini saja,” jawab Ayu sambil melepas helm dan menyerahkannya ke Rendra.
“Kalau urusan dengan dosen segera selesai, aku mau ke kost-an Rina. Aku mau numpang shalat dhuhur di sana. Abang selesaikan dulu urusan Abang,” lanjut Ayu ingin segera mengusir pacarnya yang bandel itu.
***
“Ma’af Bu, sepertinya saya tidak bisa menyelesaikan skripsi saya tahun ini, saya berencana untuk terminal saja Bu,” Ayu memulai konsultasinya.
“Kendalanya apa?” tanya bu Zakiah serius.
“Saya bingung biayanya Bu. Transport untuk hadir ke sini saja bukan hal mudah bagi saya saat ini, rumah saya jauh bu. Saya memutuskan untuk tidak kost karena ibu saya sedang sakit. Saya ingin bekerja saja untuk mensuport ekonomi keluarga. Ekonomi keluarga kami saat sedang terpuruk Bu. Lagi pula, tiap kali ke kampus, sulit bagi saya menemui dosen pembimbing. Berat bagi saya jika harus bolak-balik selain berat di transport saya juga kepikiran ibu saya Bu,” Ayu menjelaskan sambil berlinang air mata.
“Bukankah jika Anda bekerja, ibu Anda gak ada yang jaga?” tanya bu Zakiah.
“Ada ayah Bu, lagi pula saya ingin membantu ekonomi keluraga,” jawab Ayu sambil menyeka air matanya.
“Dosen pembimbing Anda siapa?” Bu Zakiah melanjutkan pertanyaannya.
“Pak Dekan, Bu. Beliau sangat sibuk dan sulit ditemui”, jawab Ayu.
“Baik jika demikian, maka saya rekomendasikan Ayu untuk ganti dosen pembimbing. Saya ganti dengan yang selalu ‘standbye’ di kampus. Saya sendiri yang akan membimbing Ayu sampai skripsi selesai.” Jawab Bu Zakiah sangat jelas dan tegas.
“Sekarang, sebaiknya Ayu pulang, saya harap Anda selesaikan penelitian Anda. Keinginan Anda untuk terminal tidak saya ijinkan, itu hanya akan memperpanjang waktu, lagipula belum tentu setelah bekerja, Anda masih sanggup menyelesaikan skripsi Anda.” Bu Zakiah menasihati Ayu.
Akankah Ayu menjalankan nasihat dosennya? ( Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
