Cinta Semusim Bunga Tembakau (3)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 110
#menuju 365 hari
#TantanganGurusiana
Dari jauh si Rendra melambaikan tangan yang dibalas dengan senyum rekah Ayu dan seperti biasa, Rendra nampak bergegas menghampiri Ayu.
“Bagaimana kabar adikku, sudah berhasil bertemu dosen?” tanya Rendra penasaran.
“Sudah Bang”, jawab Ayu singkat.
“Hasilnya?” tanya Rendra lagi.
“Aku ganti dosen pembimbing, Bu Zakiah sendiri yang akan menjadi dosen pembimbingku, aku disaranin selesaikan skripsiku, minggu depan harus sudah menemui beliau untuk konsultasi bab berikutnya.” Ayu menjelaskan dengan muka datar.
“Baguslah, artinya kita akan kerjakan semuanya bersama-sama. Adik akan lebih sering ke kampus, kan?” Komentar Rendra bersemangat.
“Tapi Bang …,” kata Ayu nampak ragu-ragu lagi.
“Ssst …! gak ada tapi.” Rendra mendekatkan telunjuknya hampir menempel di bibir Ayu yang membuatnya langsung membisu malu-malu.
“Aku tetap gak bisa ke rental sering-sering Bang, aku gak mungkin tiap hari ke sini, aku harus berhemat, aku juga harus jaga ibu,” jawab Ayu tertunduk.
“Adikku tetap semangat ya, tak perlu kau bersedih, Abang punya teman yang komputernya tidak usah disewa. Nanti kau ku temani atau bila perlu biar Abang yang ketik untuk adik.” Rendra selalu memberikan dukungan penuh untuk Ayu.
“Truss …? skripsi Abang sendiri bagaimana?” Ayu bertanya hampir melotot.
“Tenang adik, punya Abangmu ini pasti bereslah tak usah kau pikir, yang penting punya adik wajib segera selesai juga ya, tak perlulah kau pikir biaya rental, Ok?” Kalimat-kalimat Rendra selalu menenangkan.
Rendra seorang pemuda berbeda keyakinan nampak serius dan tulus jatuh cinta kepada Ayu. Semua yang dilakukannya membuat Ayu sering merasa semakin bersalah. Jauh di lubuk hatinya, Ayu merasa tidak mungkin bisa bersama Rendra, pemuda yang pelan tapi pasti terus mengikatnya dalam rasa cinta.
Ayu ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi selalu tak mampu karena semakin hari perasaannyapun semakin tak bisa lepas dari Rendra. Semakin Ayu menahan, semakin besar rasa cinta dia rasakan.
“Dorrr …!!!” suara Rendra membuyarkan lamunan Ayu.
“Apa yang kau pikir adik? Sudahlah …! kerjakan saja skripsimu, jangan hanya kau pikirkan.” Ucap pemuda penuh semangat itu pada gadisnya.
Sementara Ayu hanya menghela nafas panjang ingin melepaskan kegalauan hatinya yang tak pernah bisa ia ungkapkan. Semakin besar perhatian Rendra padanya, semakin dalam perasaan bersalahnya. Tapi semua terus berjalan tanpa ada yang bisa menghadang. Niapun pasrah pada waktu.
***
Waktu bergulir begitu cepat, Ayu yang hampir putus asa akhirnya bisa juga menyelesaikan skripsinya bersama Rendra dan Rina serta teman lainnya.
“Selamat ya Rin, telah selesai ujian skripsimu”, ucap Ayu sambil memeluk Rina yang baru keluar dari ruang ujian skripsi.
“Selamat untukmu juga ya Ayu”, ucap Rina sambil tersenyum haru. Merekapun tertawa sambil berpelukan, keriangan antara dua sahabat itu seolah meruntuhkan semua cerita sedih yang pernah mewarnai perjuangan jatuh bangun semua mahasiswa yang ingin lulus.
“Oh iya, bagaimana kabar Rendramu?” tanya Rina sambil celingukan mencari seseorang yang biasanya dengan setia menemani Ayu.
“Dia masih sibuk mempersiapkan diri untuk ujian skripsi tiga hari lagi. Temenin aku ke kampus dia yuk ...!” ajak Ayu.
“Ogah Ah! mau nemui pacar kok ajak-ajak? sana kamu sendiri aja!” jawab Rina sambil memonyongkan bibirnya.
“Hehehe …, tapi gak usah pake wajah bimoli gitu dong …, bibir monyong lima centi!” goda Ayu sambil berlari meninggalkan Rina yang hampir mencubit pipinya.
***
“Apa Rendra sedang di ruangan ini?” tanya Ayu kepada salah seorang mahasiswa yang sedang mengantri menunggu giliran masuk ruangan itu juga. Ayu hanya ingin meyakinkan dirinya bahwa Rendra ada di dalam.
“Iya Kak, Abang Rendra sedang di dalam, mungkin sebentar lagi selesai.” Jawab salah satu teman Rendra yang tak asing dengan Ayu. Ayupun kembali ke tempat duduknya dan dengan sabar menunggu sambil sesekali menengok pintu ruang dosen yang tertutup itu.
Akhirnya pintu dibuka dari dalam dan pandangan Rendra langsung tertuju pada Ayu yang sedari tadi menunggunya. Dia pun langsung menghapiri gadis desa sederhana itu dengan senyum cerahnya.
“Hai adik, bagaimana ujianmu tadi? Kalau aku lihat dari cerah wajahmu, sudah pasti ujianmu sukses, iya kan?” Cerocos Rendra mendahului Ayu yang belum mendapat kesempatan bertanya tentang hasil konsultasi terakhir Rendra dengan dosen pembimbingnya. Begitulah Rendra, selalu lebih cepat dalam memberi perhatian. Hal itu selalu membuat Ayu tak sanggup menahan rasa.
“Alhamdulillah Bang, semua lulus,” jawab Ayu riang.
“Puji Tuhan! Selamat ya Adik cantik!” Ucap Rendra sambil melingkarkan lengannya ke pundak Ayu, tentu saja Ayu kaget tiba-tiba ada dalam pelukan Rendra, pipinya merona merah.
“Ih …, Abang, malu ah!” pekik Ayu tertahan sambil sedikit mencubit pinggang Rendra sembari melepaskan diri. Seperti biasa Rendra selalu menggoda Ayu dengan kejutan riangnya. Ayu semakin tak mampu membendung cinta Rendra.
Meskipun pada suatu ketika Ayu merasa sangat bersalah, tapi di saat lain dia merasa bahwa semua akan berakhir, selama belum ada komitmen untuk menjalin hubungan yang lebih serius, biarlah semua berjalan. Pemikiran seperti ini selalu berkecamuk di hati Ayu. Namun selalu tak mampu untuk menjauh, perhatian Rendra yang begitu besar membuatnya larut dalam alur bimbang.
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
