Cinta Semusim Bunga Tembakau (4)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 111
#menuju 365 hari
#TantanganGurusiana
“Kita mampir ke wartel dulu ya Dik, aku ingin menelepon mama di Medan,” ajakan ini hanya dijawab anggukan oleh Ayu.
“Hallo…,” terdengar suara perempuan dari seberang gagang telepon.
“Iya Hallo Martha, apa kabar adik!” sapa Rendra membuka percakapan.
“Baik Abang, Abang sendiri bagaimana?” jawab seorang perempuan dari seberang yang sepertinya masih belia.
“Ya seperti yang kau dengarlah, Abangmu ini baik-baik saja, oh ya, aku mau bicara dengan mama, penting,” kata Rendra meminta.
“Iya, ini mama sudah nunggu,” jawab si Martha adik perempuan Rendra.
“Hallo …?” sapa seorang ibu dari seberang.
“Hallo mama, apakabar mamaku? Baik-baik saja kan?” Balas Rendra penuh semangat.
“Mama sehat, kabarmu sendiri bagaimana? Sudah waktunya lulus Kau ya? Kapan wisuda?” tanya mamanya ingin banyak tahu.
“Itulah mama, aku menelpon untuk mengabari mama bahwa sebentar lagi aku akan ujian skripsi, do’akan anakmu ini lulus ya ma, sekaligus aku ingin memperkenalkan calon menantu mama,” kalimat Rendra serasa petir menghantam hati Ayu.
Sama sekali Ayu tidak menyangka bahwa Rendra akan seserius ini. Ayu ingin lari tapi tak mungkin, hati Rendra telah larut dalam rasa dan asa.
“Ini mama aku ingin berkenalan.” ucap Rendra membuat Ayu seketika berkeringat dingin, jemari lentiknya bergetar dan berlahan menerima gagang telepon, sesekali Rendra melingkarkan lengannya ke pundak Ayu sambil menatapnya untuk menguatkan.
“Bicaralah adik,” bisik Rendra ke telinga Ayu. “Ha … hallo ...,” suara Ayu serasa tercekik karena ragu dan gugup.
“Hallo Ayu,” terdengar suara seorang ibu yang dengan riang menyapa.
“Iya …, mama tahu nama saya?” tanya Ayu makin gemetar. “Pastilah mama tahu nama kamu meski kita belum sempat kenalan. Si Rendra sudah sering menceritakan tentang engkau kepada kami,” mama Rendra menjelaskan dengan penuh keakraban.
Kali ini Ayu tak bisa berkata apa-apa, airmatanya mengalir, dia terisak dan membenamkan wajah ke dada laki-laki di depannya, dengan sigap Rendra mengambil alih gagang telpon.
“Mama, kenalannya kita lanjut kapan-kapan saja ya ma! Calon menantu mama lagi terharu rupanya, biasalah ma …, cewek kan memang begitu, sedih menangis bahagiapun menangis.” Jelas Rendra pada mamanya.
“Abang, adik mau bicara.” ucap Ayu menahan air mata.
“Bicaranya harusnya tadi adik …, bukan sekarang, kalau sekarang sih waktunya makan, aku sudah lapar nih!” ajak Rendra tanpa sengaja selalu mengalahkan waktu dan tak memberi ruang bagi Ayu untuk mengungkapkan yang sebenarnya.
“Antar aku solat dulu ya Bang,” pinta Ayu.
“Oh ya, sudah waktu Ashar Ya?” tanya Rendra yang sudah mulai hafal waktu-waktu solat, bahkan dia sering mengingatkan Ayu untuk sholat jika waktunya tiba. Dia memang pemuda yang sangat pengertian dan penuh perhatian.
“Sholat di mana nih? di masjid apa di kost-kostan Rina ?” tanya Rendra.
“Di kost-an Rina saja, sekalian ambil baju-bajuku yang aku titip di sana supaya setelah makan nanti kita bisa langsung pulang,” kata Ayu.
“Ok, kita berangkat!” kata Rendra sambil mengangkat tangan hormat.
Selesai solat Ayu berpamitan pada sahabatnya, “Rin aku pulang dulu ya, tiga hari lagi aku ke sini untuk menggandakan sekaligus menjilid skripsiku, semoga kamu nggak bosan aku numpang di sini terus.” Ucap Ayu sambil memeluk sahabatnya.
“Cieeee …, yang skripsisnya selesai,” ledek si Rendra disambung tawa bersama, mereka ingat bahwa Ayu pernah berputus asa untuk menuntaskan skripsinya.
“Aku juga mau menjilid skripsiku,” Rina menimpali sambil melirik ke arah Rendra yang tersenyum lebar mirip menyeringai karena jadwal ujiannya masih tiga hari ke depan.
“Kalian langsung pulang?” tanya Rina.
“Sepertinya Abang masih mau ngajak makan,” jawab Ayu.
“Kalau Rina mau, boleh kok bergabung dengan kami,” sela si Rendra.
“Hmmmm …, nggak Ah! Aku gak mau jadi obat nyamuk.” Jawab Rina sambil monyong seperti biasa.
“Okelah kalo begitu, kami berdua pamit dulu ya? Daaaa …, Assalamu’alaikum ....” Ucap Rendra menirukan Ayu biasanya.
Rendra memang paling pandai menyenangkan hati orang lain, membaur dengan semua teman tanpa canggung. Maklumlah dia ketua organisasi mahasiswa asal Sumatera yang selalu ramah dan rendah hati sehingga bisa bergaul dengan mudah.
Sore itu Ayu dan Rendra seolah larut dalam kebahagian mereka. Rendra yang periang selalu membuat Ayu tertawa lebar dan lupa akan beban apapun di pundaknya. Ayupun tak sanggup menghentikan desiran rasa, melebur dalam kasih sayang Rendra.
Sosok pemuda dengan jiwa pemimpin yang nampak sangat bertanggungjawab itu hampir sempurna sebagai calon suami bagi Ayu. Namun sayang seribu sayang, Rendra berbeda keyakinan yang membuat Ayu tak mungkin memilihnya.
“Adik aku antar pulang sampai rumah ya?” tanya Rendra yang tak membutuhkan jawaban karena motornya terus melaju melewati terminal pertama tempat menunggu angkot. Hal itu menandakan bahwa Rendra sudah meluncur menuju jalan desa. Ya, jalan ke arah rumah Ayu di lereng pegunungan.
Matahari sore itu menambah indah pemandangan sepanjang perjalanan berkelok dengan hamparan hijau tanaman tembakau di kiri kanan jalan yang aroma bunganya turut menyaksikan cinta mereka. Hamparan pegunungan berjajar serasa dekat merentangkan tangan menyambut mereka berdua. (Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
