Ijinkan Aku Mencium Surga di Kakimu (10)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 111
#TantanganGurusiana
Akhirnya, mobil mas Pur memasuki sebuah halaman asri yang rindang rapi tertata dengan berbagai pohon buah dan bunga. Vio mulai membuka mata dan duduk tegak melihat ke sekelilingnya. Matanya nampak berbinar segar tidak seperti orang sakit.
Rumah besar itu nampak sepi, namun belum sempat Vio keluar dari mobilnya, tiba-tiba pintu ruang tamu terbuka.
“Alhamdulillah, anakku pulang” kata ibu Vio yang langsung menghampiri Vio yang dipapah berjalan oleh mas Pur. Kali ini Vio menolak digendong karena tidak ingin ibunya khawatir.
“Vio kenapa kamu Nak?” tanya ibunya keheranan melihat Vio berjalan harus dipapah suaminya.
“Dik Vio kurang sehat, Bu, sejak kemarin badannya lemas dan muntah terus,” jawab mas Pur.
“kalau seperti itu biasanya karena kelelahan, tifusnya pasti kambuh,” sambung ayahnya yang dengan sigap meyiapkan bantal-bantal di kasur Vio agar putri kebanggaannya itu segera berbaring dengan posisi bantal yang tinggi.
Selebihnya ayah Vio nampak memeriksa denyut nadi Vio dan suhu badan dengan menempelkan telapak tangannya di kening Vio. Ayah Vio memang terbiasa melakukan tindakan pertolongan pertama jika ada anggota keluarga yang sakit.
“Suhu badannya terasa sangat panas, sebaiknya kita panggil pak Tulus biar diperiksa,” kata ayah Vio sembari beranjak menuju pesawat telepon untuk menghubungi dokter.
“Jangan ke pak Tulus, Yah …, coba ke bidan Ismi saja.” ujar ibu Vio yang nampak tenang dan lebih paham dengan apa yang dialami putrinya.
“Kalau begitu ibu saja yang telepone!” ucap ayah Vio sambil menyerahkan gagang telepon. Sementara dirinya bergegas ke halaman belakang mencari bahan-bahan yang akan diracik menjadi ramuan obat tifus.
“Nak Pur, bu bidan masih menunggui dua pasien yang mau melahirkan. Jadi beliau tidak bisa datang ke sini, sebaiknya Nak Pur antar Vio ke sana saja. Alamatnya di dekat stasiun kereta, sebelum pasar kalo dari sini. Di Sebelah kiri jalan ada papan bertulis ‘Rumah Bersalin Bidan Ismiati’,” ibu Vio memberi arahan.
Tidak sulit bagi mas Pur untuk menemukan alamat bidan Ismi karena memang masih satu-satunya di desa itu dan kelihatan sebagai rumah yang paling luas karena sebagian difungsikan sebagai tempat bersalin.
“Ditunggu ya, Mbak, ibu masih ada di kamar pasien,” kata seorang asisten bidan yang bertugas mencatat pasien baru. Kemudia Vio menjalani pemeriksaan awal sambil menunggu bu Ismi.
“Loh …, ini Viona putrinya Kapten Baharudin, ya?” sapa bu Ismi yang memang sangat kenal dengan keluarga besar Viona.
“Kapan datang?” tanyanya lagi.
“Baru saja Bu ketika ibu saya menelpon ibu,” jawab Vio tersenyum.
“Berapa hari terasa mualnya? Sudah hampir seminggu Bu, Cuma tidak saya rasakan karena saya memang terbiasa mual jika Vertigo. Tapi kemarin badan serasa tidak bertenaga dan semakin mual, Bu,”
“Tekanan darahnya normal, suhu badan memang agak panas akibat flunya, minuim vitamin C saja, ” jelas Bu Ismi sambil menerima hasil tes dari asisten bidan.
“Ooooh …, kalau mualnya karena Vio mau dapat momongan ini,” ucap bu Ismi berbinar-binar bahagia.
“Alhamdulillah …,” ucap Vio bersyukur bahagia kemudian mencium tangan bu Ismi dan berpamit pulang.
“Masnya mana?” tanya bu Ismi sembari mengantar Vio ke luar ruangan.
“Itu, Bu …,” Vio menunjuk suaminya sambil melaimbaikan tangan memberi tanda supaya mas Pur mendekat.
“Selamat ya, Nak, mau jadi calon ayah,” kata bu Ismi menyalami mas Pur.
“Terimakasih, Bu,” ucap mas Pur mencium tangan bu Ismi yang sedikit lebih muda dari ibu mertuanya.
“Terimaksih, Bu,” ucap Vio lagi berpamitan.
“Salam untuk Ayah dan Ibu, ya!” Bu Isti melambaikan tangan pada Vio dan Mas Pur yang mulai meninggalkan halaman rumah bersalin itu.
Di perjalanan pulang, mas Pur nampak berbinar dan bahagia sekali, karena memang sudah hampir dua tahun menunggu kehadiran ‘momongan’ yang tak kunjung ada tanda-tanda.
“Bagaimana hasilnya? Apa kata bu Ismi?” ibu bertanya penuh penasaran.
“Alhamdulillah, Bu, ternyata ibu mau punya cucu,” jawab mas Pur dengan sangat bahagia.
“Alhamdulillah,” ayah Vio tak ketinggalan bersyukur sambil menyodorkan ramuan yang telah ia siapkan.
“Apa ini, Yah?” tanya Vio.
“Diminum saja, hanya parutan empu kunyit dan labu Cina ditambah madu,” jawab ayahnya tidak menjelaskan detail campuran ramuan. Viopun mulai meminum ramuan yang terasa segar namun agak tercium bau tanah.
Segelas langsung Vio habiskan, namun beberapa saat berikutnya Vio kembali mual. Ia meminta teh hangat saja, tapi sama semua membuatnya mual. Hari menjelang malam, berarti Vio sudah hampir duapuluh empat jam sejak kemarin ia tidak menerima asupan makanan atau minuman akibat mualnya.
“Kita bawa Dik Vio ke rumah sakit saja, Bu,” kata mas Pur khawatir. Ibunya mengangguk dan langsung bersiap-siap. Demikian pula dengan ayah Vio langsung memeriksa seluruh pintu memastikan semuanya terkunci dan lampu-lampu di setiap pojok halaman depan maupun belakang hidup.
Vio terpaksa harus dirawat inap di rumah sakit daerah karena kondisinya yang lemah tanpa asupan makanan sama sekali. Vio harus menerima asupan makanan melalui infus sampai rasa mualnya teratasi.
“Ayah pulang saja diantar nak Pur, biar ibu yang menjaga Vio di sini. Besok ayah ke sini lagi bawa mobil biar tidak merepotkan nak Pur,” kata ibu membagi tugas.
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
