Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ijinkan Aku Mencium Surga di Kakimu (11)
www.google.com

Ijinkan Aku Mencium Surga di Kakimu (11)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 112

#TantanganGurusiana

“Ma’afkan Vio,Bu, maafkan Vio belum bisa membahagiakan ayah dan ibu malah sekarang merepotakan,” ratap Vio pada ibu yang sedang menyuapinya.

“Tidak ada seorang ibu yang merasa direpotkan anaknya, Vio. Nanti jika anakmu lahir, kamu akan tahu rasanya bagaimana perasaan seorang ibu. Andai saja bisa, seorang ibu pasti akan menggatikan sakit anaknya. Andai juga bisa, seorang ibu akan menanggung seluruh beban anaknya,” ibu Vio mengusap kening Vio dan menciumnya.

Vio semakin menangis meraskan belai kasih sayang ibunya, Sentuhan lembut tangan yang selalu menguatkan itu sudah lama ia rindukan. Namun Vio tak ingin menceritakan beban apapun yang telah ia hadapi dalam rumahtangga kecilnya. Ia tak ingin ibunya sedih, semua hanya masalah waktu sampai ibu mertuanya mengenal VIo denagn lebih baik.

“Ibu bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan, tapi tenanglah karena itu akan menguatkanmu kelak. Selama suamimu tidak mengusirmu, maka tetaplah menjadi yang terbaik. Allah tidak pernah tidur, Nak …, pasarahkan semua kepadaNya.” Ibu Vio menasihati denga penuh kasih sayang.

Vio menghela nafas panjang mencoba menahan isak tangisnya. Nasihat ibunya serasa nutrisi paling super pemberi kekuatan pada hatinya sehingga seluruh ototnya kembali pulih.

“Assalamu’alaikum …,” ayah Vio datang membawa semua pesanan ibunya. Ayah Vio yang sudah tua itu tetap nampak gagah dan cekatan dengan badannya yang masih tegap. Kehadirannya selalu membawa rasa nyaman terlindungi.

“Walaikum salam …,” jawab ibunya sambil mencium tangan ayah.

“Bagaimana keadaanmu, Nak?” tanya ayah sambil menempelakan telapak tangannya di kening Vio. Ia sedang memeriksa suhu badan Vio. Memang sudah menjadi kebiasaannya, setiap ada anggota keluarga yang sakit, ayahnya selalu sigap memeriksa kondisi kesehatan yang sedang kurang sehat. Bahkan kebiasaan ini ia ajarkan kepada seluruh anggota keluarga.

“Mana suamimu,” tanya ayahnya.

“Ibu yang menyuruhnya pulang tadi pagi, karena dia perlu memberi tahu pekerjanya urusan sawah,” jelas ibunya.

“Kondisi seperti ini kok masih mikir sawah,” ayah Vio sedikit menggerutu.

“Ibu yang nyuruh, Yah …, di sini kan ada ibu yang menjaga Vio. Lagi pula supaya ibu dan Vio bisa lebih leluasa kangen-kangenan,” ibunya selalu membela mas Pur untuk meluluhkan hatinya. Ibu paling bisa menjadi di tengah.

“Ma’afkan Vio, Yah …,” ucap Vio menggenggam tangan ayahnya.

“Vio tidak bisa membuat ayah bangga,” lanjutnya disertai buliran bening yang mulai menggelembung di sudut matanya.

“Tidak perlu meminta ma’af Vio, ayah selalu bangga apapun Vio. Ayah hanya tidak ingin kamu susah. Kamu bukan ibu rumah tangga biasa, tapi kamu adalah wanita karier yang juga mempunyai kewajiban pada Negara.” Ayah Vio menatapnya dengan penuh kasih sayang.

“Mengabdi pada suami itu memang wajib. Menghormati orang tua memang hal yang utama. Tapi lakukanlah semua tanpa melupakan dirimu sendiri. Perempuan tetap harus diperlakukan dengan terhormat, ia dinikahi bukan untuk dijadikan pembantu suami. Kamu harus tangguh, kamu tidak layak bersedih. Jangan takut siapapun kecuali kepada Allah. Patuhlah pada suamimu selama ia di jalan Allah,” ayahnya memberi wejangan sumber kekuatan baru bagi Vio.

Bersama Ayah-Ibunya Vio merasa kembali utuh. Hatinya kemabli sempurna tanpa luka maupun goresan. Vio sangat bersyukur terlahir dari orang tua yang selalu membimbingnya dengan penuh kasih sayang.

“Hmmmm …, senengnya yang bisa kangen-kangenan, bisa bermanja-manja lagi.” ucap perempuan yang sangat Vio kenal diikuti oleh mas Pur dibelakangnya.

“Walaikumsalam …, “ ucap ibu Vio meski besannya lupa memberi salam. Ibu Vio ingin menaklukkan lengking suara perempuan itu dengan tetap bersikap tenang. Sementara mas Pur langsung menghampiri Vio tak mau perduli dengan apa yang dikatakan ibunya. Mas Pur malah menunjukkan kasih sayang lebih daripada biasanya pada Vio.

“Ya begitulah mbak yu, kalau anak biasa dimanjakan. Sudah punya suami tingkah lakunya masih seperti bayi, ndak bisa apa-apa, ndak bisa kerja keras, lemah!” ucap ibu mertuanya selalu ketus.

“Anak saya memang tidak perlu bekerja keras, karena kami hanya mewariskan ilmu yang akan memberinya kebaikan,” kata ibu Vio terus berusaha tenang. Sementara ayahnya sudah bermuka masam.

“Kita mau punya cucu, Mbak Yu, kebetulan Vio memang punya sejarah sakit tifus jika kelelahan. Biar untuk sementara dia istirahat dulu, kasihan calon cucu kita.” Ibu Vio melembutkan suaranya memberi atmosfer ketenangan pada seisi ruangan membuat ibu mertua Vio hanya bisa menatap dingin dari sudut matanya yang gersang.

Entah apa maksud kehadiran perempuan itu, sudah kurang lebih dua tahun Vio mencoba menembus hatinya namun tak kunjung melunak. Sudah bisa dipastikan, di setiap kehadirannya selalu membawa hawa gersang. Kasihan juga sebenarnya, perempuan itu nampak tak pernah bisa bahagia.

Apa yang ia lihat selalu kegersangan, hingga kasih sayang tak mampu membelai kekerasan hatinya. Ia kesepian di balik gemerincing gelang emas di kiri kanan lengan kekarnya. Harta yang ia banggakan sebenarnya tak pernah bisa menyejukkan hatinya yang sepi.

(Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post