Ijinkan Aku Mencium Surga di Kakimu (12)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 119
#TantanganGurusiana
“Masih ingin cerai?” tanya mas Pur pada Vio yang perutnya mulai membuncit di bulan ke tujuh kehamilannya. Vio hanya tertawa sambil memukul suaminya dengan bantal. Vio tau suaminya hanya menggodanya, karena kini ia mulai memahami bahwa mas Pur diam karena tak ingin semakin merusak suasana mengingat akan sia-sia berdebat dengan ibunya, hanya akan menambah dosa.
“Sekarang aku lagi gak ngidam cerai, Mas …, aku lagi ngidam rumah baru,” kata Vio bergurau meski jauh di lubuk hatinya ia berharab sekali bisa memiliki rumah sendiri yang bisa ia atur sendiri sesuai keinginannya.
“Iya, pelan-pelan” jawab mas Pur datar. Vio bisa menebak pikiran suaminya yang tidak akan pernah merencanakan rumah baru, pasti mas Pur kepikiran ayahnya, siapa yang akan merawat? Meskipun rumah anak-anaknya berdekatan tapi keperdulian mereka kurang satu sama lain. Masing-masing sibuk mengumpulkan harta hasil sawah seolah dalam benak mereka taka da kebahagiaan lain kecuali urusan sawah.
Keberadaan Vio memang sangat berbeda dari yang lain yang terkadang membuat yang lain iri dengan kegiatan-kegiatan Vio yang saat ini memang lebih mendapat penjagaan mas Pur. Sejak hamil, ia dilarang bekerja apapun apalagi pekerjaan berat.
“Aku dulu hamil ya masih bisa mengerjakan banyak hal, ndak cuma makan tidur, dikit-dikit istirahat …, dasar perempuan manja” kata-kata ibu mertuanya mengagetkan Vio yang tertidur di sofa. Vio langsung terduduk, kepalanya agak pusing garaa-gara kaget. Dia perlu waktu untuk bangun dan menyapa ibunya.
“Ma’af, Bu, saya ndak sengaja tertidur barusan,” ucap Vio berusaha menyapa ibu mertuanya.
“Ya kalau memang sudah kebiasaan manja ya repot,” kata ibunya sewot. Sementara Vio memilih diam dan tidak merespon apapun yang dikatakan ibunya. Ia lebih fokus untuk belajar bersabar agar sang jabang bayi dalam kandungannya juga belajar bersabar.
“Kersane, Bu Lek, niku mpun kulo resiki” (biarkan, Bu Lek, tadi sudah saya bersihkan) kata mbak Satini yang sejak kehamilan Vio, ia dimintai tolong untuk membantu melakukan tugas membersihkan rumah termasuk memasak.
“Awakmu ora usah melok-melok!” (kamu ndak usah ikut campur) ujar ibunya hampir membentak. Entah kenapa juga ibu mertuanya masih ikut campur dengan urusan rumah tangga Vio, juga masih sering melakukan hal-hal yang harusnya sudah tidak boleh karena ia telah terikat pernikahan dengan laki-laki lain.
“Sudah beli kulkas baru? Punya uang jangn dihambur-hanburkan karena kerja di sawah itu gak gampang, harusnya ndak usah beli yang dua pintu,beli yang kecil kan sudah cukup buatmu,” selalu ada saja bahan untuk mencari kesalahan Vio.
“Ma’af, Bu, bukan dari uang panenan, Alhamdulillah saya ada rejeki dari sekolah.” Jelas Vio pada ibu mertuanya sambil saling pandang dengan mbak Satini yang sedang menyetrika.
“Ya mau uang apa saja harusnya dihemat, gak usah sok kelebihan uang, gak usah panas dengan tetangga.” Ibu mertua Vio makin sewot dengan jawaban Vio. Hmmm …, apa mungkin memang sudah tidak ada seberkas sinar di hati perempuan menor itu ya? Setiap kata selalu sinis dan menyakiti perasaan orang lain.
Vio tidak mau berkata apapun lagi, dia memilih diam meskipun hatinya sangat tidak nyaman dengan kata-kata ibu mertuanya yang selalu memojokkan itu. Vio memilih masuk kamar untuk istirahat.
“Jam segini sudah mau tidur? Hamil jangan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan!” tanya ibu itu dengan suara melengking.
“Ma’af, Bu, dokter menyarankan saya memang harus banyak istirahat,” jawab Vio masih dengan rasa hormat.
“Halllah! Dasar manja!” kata ibu mertuanya yang tak pernah mau terima penjelasan siapapun. Menghadapi orang seperti ini memang butuh kesabaran super. Vio telah banyak belajar dari banyak peristiwa bersama mertua perempuannya itu. Vio sering-sering menghela nafas panjang dan istigfar untuk menahan emosi. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan meraih pahala meski sangat sulit.
****
“Mas, apa tidak ingin punya rumah sendiri?” tanya Vio pada suaminya.
“Untuk apa? Ini kan rumah kita?” mas Pur balik bertanya.
“Ibu sepertinya tidak pernah rela jika rumahnya aku yang menempati. Tiap ibu ke sini selalu mengoreksi barang-barang, tidak boleh ganti posisi, semua harus tetap sesuai tatanan ibu. Aku tidak pernah benar di mata ibu,” Vio mengadu pada suaminya dan matanya mulai berkaca-kaca.
“Setangguh-tangguhnya niatku untuk bersabar, jika setiap kali selalu dicecar dengan kata-kata yang tidak nyaman, tentu saja akan melemah. Hatiku tidak terbuat dari batu, Mas. Bagaimanapun juga, aku punya perasaan yang juga ingin dihargai sebagai nyonya rumah di sini.” Lanjut Vio.
“Ya yang sabar, dicueki saja ndak usah di dengarkan,” jawab Mas Pur datar seperti biasa.
“Yang lain bisa cuek ke ibu, tapi aku mana bisa? Setiap kali ke sini yang dituju pasti rumah ini, yang menemui selalu aku. Jangankan menghindar, aku mau istirahat saja diomel-omelin terus, mana bisa istirahat? Aku ndak betah, Mas. Aku takut lama-lama aku terjerumus dosa melawan ibu.” Rajuk Vio panjang lebar.
“Mana mungin kita buat rumah dalam waktu dekat, kita kan perlu persiapan biaya yang matang?” kata mas Pur yang mulai nampak berpikir.
“Kita ngontrak aja ya?” usul Vio.
Akankah Mas Pur menerima ajakan Vio?
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
