Ijinkan Aku Mencium Surga di Kakimu (13)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 126
#TantanganGurusiana
“Yang sabar, biarkan saja ibu seperti itu. Memang sudah watak ndak akan bisa dirubah. Meskipun kita punya rumah sendiri, ibu akan tetap seperti itu.” Ucap mas Pur masih berat untuk mengikuti pemikiran Vio yang dianggap hanya emosi.
“Mas, sudah dua tahun lebih aku berupaya memberikan sikap terbaik pada ibu, meskipun hatiku sering terluka, aku tetap mencoba kuat dan yakin jika ibu akan berubah seiring waktu jika tahu perlakuanku. Aku ingin ibu tahu jika aku menganggapnya seperti ibuku sendiri yang layak aku hormati dan aku perlakukan dengan sangat baik. Tapia apa buktinya? Sampai sekarang, bahkan sampai mau punya cucupun ibu masih tak bisa menerimaku.” Kali ini Vio nampak lebih serius mendesak mas Pur.
“Gini saja, kalau mas Pur belum cukup uang untuk membuat rumah sendiri dan keluar dari lingkaran ini, biarkan aku ngontrak rumah di sekitar sekolah supaya mudah bagiku dinas. InshaAllah aku mampu mandiri. Aku sudah tidak tahan lagi ada dilingkungan seperti ini. Aku ingin menunggu kelahiran bayiku dengan tenang Mas, lagi pula Mas Pur di sini kan tidak terlalu membutuhkan kehadiranku. Mas Pur bisa datang ke kontrakan kapanpun suka.” Vio berucap dengan sangat tegas dan tanpa air mata. Kali ini dia tidak dalam keadaan emosi, tapi benar-benar meminta agar suaminya keluar dari zona nyaman.
Vio mulai menunjukkan ketegasannya bicara sebab dia merasa sudah cukup berusaha. Kali ini, demi tumbuh kembang bayi dalam kandungannya, Vio ingin memastikan bahwa dirinya tidak terlalu mendapat tekanan. Dia ingin mengajarkan kebahagiaan pada bayinya.
“Dik, apa kata orang nanti jika kita keluar dari rumah ini dan mengontrak di wilayah ini juga. Kan lucu? Itu sama artinya kita mempermalukan nama baik keluarga besarku.” Kata mas Pur yang mulai galau dengan desakan istrinya.
“Demi nama baik, Mas tega membiarkan aku dan bayi dalam kandunganku ini tertekan oleh sikap orang-orang yang ndak punya hati? Ma’af, aku merasa tak mampu lagi. Kalau Mas tidak mau mencari jalan keluar, aku akan pulang ke rumah orangtuaku. Aku akan dinas dari rumah. Ayahku masih sanggup mengantar dan menjemputku. Mas Pur silahkan di sini, di zona nyaman menjaga nama baik keluarga Mas Pur.” Kali ini Vio benar-benar ingin menaklukkan suaminya.
Vio merasa sudah waktunya meminta perhatian lebih dari suaminya. Tidak ada maksud untuk tidak menghormati keluarga besar suaminya. Tapi setelah dipikir, Vio merasa bahwa suaminya harus ia tarik keluar dari zona nyaman keluarganya agar keberadaan keluarga kecilnya bisa benar-benar mandiri tanpa campur tangan orangtua maupun saudara agar lebih bisa menentukan arah keluarga maju dibawa kemana.
“Apa ndak ada jalan lain selain ngontrak?” tanya mas Pur.
“Ada, Mas, kita buat rumah.” Jawab Vio datar.
“Hmmm …, beri kesempatan aku berpikir ya, Dik. Jangan ‘grusa-grusu’ agar tidak salah langkah. Aku lebih suka membuat rumah daripada ngontrak.” Suatu kalimat yang membuat Vio sedikt lega karena suaminya mulai gelisah dan berpikir.
****
“Mas, ada teman sekolah sedang butuh uang, mau jual tanah. Harganya murah karena posisi tanah ada di perkampungan yang agak masuk.” Vio bersemangat mengabari suaminya, sejak mas Pur memberi lampu hijau untuk bisa mempunyai rumah sendiri, Vio tidak sungkan-sungkan mencari informasi tanah maupun rumah murah.
“Minta harga berapa?” tanya mas Pur.
“Kabarnya hanya duabelas juta, Mas. Liuasnya duapuluh empat kali enambelas meter. Posisi di pojok jalan kampung.” Vio menjawab dengan bersemangat.
“Punya siapa?” Mas Pur mulai ikut irama Vio.
“Punya pak de Ghozin, saudara mas Pur yang guru agama di sekolahku. Tadi di sekolah beliau ‘rasan-rasan’ mau jual semua tanah kaflingnya. Beliau butuh tambahan dana untuk biaya naik haji. Aku sudah bilang ke Pak de kalau berminat meskipun pak de bertanya-tanya mengapa aku masih mau beli tanah. Aku jawab untuk invest,” Vio menjelaskan dengan penuh semangat.
“Benar haganya segitu?” Mas Pur masih belum yakin.
“Nanti sore kita ke rumah pak de, sekalian lihat lokasinya, aku punya uang enam juta, Mas tinggal nambah setengahnya. Uang segitu kan kecil, Mas? Hasil panenan selama dua tahun kan sudah ndak keluar untuk apa-apa?” Ucapan Vio tertahan khawatir ia malah ‘ngundat-ngundat’ tidak pernah minta uang belanja sejak menikah.
Vio memang tidak pernah menuntut apa-apa karena dia merasa mampu untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Meskipun orang lain menganggap bahwa Vio sangat beruntung mempunyai suami yang keluarganya kaya raya. Ya begitulah, yang nampak dari luar memang kulitnya.
Ayah Vio benar, bahwa menikah dengan keluarga kaya tidak menjamin kebahagiaan, karena yang kaya adalah orang tuanya, bukan anaknya. Berbeda dengan pegawai negeri, meski keadaan pas-pasan tapi hasil jerih payah sendiri dan nyata.
Kali ini Vio berusaha menarik benang merah agar suaminya tidak selamanya bergantung di balik kekayaan orangtuanya. Kalaupun dia bekerja di sawah, ya supaya jelas hasilnya.
Benar dugaan Vio, saminya masih bekerja atas nama keluarga. Dia belum mendapat bagian apa-apa. Namun pantang bagi Vio untuk menuntut bagian hak suaminya. Ia memilih untuk melepaskan suaminya dari lingkaran tidak jelas agar bisa menjadi imam keluarga yang mandiri di atas kakinya sendiri.
Mampukah Vio mencapai tujuannya? (bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
