Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ijinkan Aku Mencium Surga di Kakimu (14)
www.google.com

Ijinkan Aku Mencium Surga di Kakimu (14)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 101 menuju 365 hari

#TantanganGurusiana

“Mas Pur punya uang berapa?” pertanyaan yang belum pernah terlontar dari mulut Vio meskipun pernikahan mereka telah hampir dua tahun. Bukan Vio tak ingin tahu, tapi ia ingin agar suaminya yang mengatakan itu.

Kali ini Vio membuang segala ego gengsinya, ia meyakinkan dirinya bahwa ia berhak mengetahui hasil jerih payah suaminya. Bukankah selama ini dia sudah tidak menuntut apa-apa? Sudah waktunya Vio tahu, demi bayi dalam kandungannya, ia harus mengalah untuk bertanya mungkin selama ini mas Pur merasa hal itu tidak penting disampaikan.

“Uang panen masih dipegang Bapak, Dik, semua hasil sawah masih dikelola Bapak. Anak-anaknya hanya mendapat beras yang cukup untuk dimakan sampai pada panen berikutnya.” Mas Pur mulai berterus terang.

“Hanya beras di lumbung itu milik kita, aku tidak berani cerita khawatir kamu kecewa, aku juga tidak berani keluar dari rumah ini karena khawatir aku tidak bisa memberi lebih dari yang kumampu,” mas Pur menjelaskan sambil tertunduk lesu.

“Mas, bukankah selama ini aku tidak pernah mempertanyakan hasil panen? Aku juga tidak pernah meminta yang menjadi hakku, selama aku mampu membiayai hidup kita dari gajiku aku tidak keberatan kan, Mas? Aku hanya ingin mas Pur lebih mandiri. Kita harus keluar dari sini, inshaAllah nanti pikiran mas Pur akan terbuka untuk mandiri lepas dari keadaan yang tidak jelas bagiku.” Vio meyakinkan suaminya dengan tatapan sedih.

“Berarti mas Pur tidak punya tabungan untuk kita?” desak Vio yang dijawab dengan gelengan kepala dan tarikan nafas panjang suaminya.

“Tidak apa-apa, Mas, masih ada jalan keluar. Aku hanya perlu persetujuan Mas Pur saja untuk melangkah. Selebihnya kita tata hidup kita dari nol. Kasihan anak kita, Mas Pur tidak bisa terus-terusan seperti ini. Bismillah, kita niatkan saja dan berdo’a semoga Allah memberi jalan kelaur terbaik. Jangan ragu untuk keluar dari lingkaran ini.” Pinta Vio sekaligus menyemangati suaminya.

****

Menjelang hari penggalian pondasi, Vio dan Mas Pur menemui ibu untuk meminta restu.

“Kok gak bilang-bilang kalau mau membangun rumah?” tanya ibu sengit.

“Ma’af, Bu, sengaja gak cerita, sebab pasti tidak diijinkan,” jawab Mas Pur pada ibunya.

“Kalian mau mebangun rumah di mana? Sebesar apa? Sudah mampu ?” Tanya ibunya dengan gaya yang sudah mendarah daging.

“Di lokasi kampung, lebih masuk dari jalan besar di dekat lokasi persawahan.” Jawab Mar Pur lagi.

“Itu loh Bu, di daerah yang banyak pohon bambunya,” sambung Vio. “Kalian mau membangun rumah di sarang hantu? Di tempat itu kan masih pingit? Masih jarang rumah, lagi pula ngapai sulit-sulit? Kalian kan wes enak tinggal nempati rumah bagus kok aneh-aneh mau mbangun rumah,” Ibu mulai ngomel

“Kami ingin mandiri, Bu?” ucap Vio membela suaminya. “Halah! Kamu pasti pengaruhi anakku supaya ikut pikiranmu yang aneh itu,” tuduhan mertuanya memang benar dan tidak alasan bagi Vio untuk membantah.

“Aku hanya pamit, Bu, perkara ibu gak setuju ya tidak apa-apa yang penting aku sudah ijin ke ibu, beri kesempatan aku dan istriku mandiri,” mas Pur terus menjelaskan niatnya meskipun sulit. Namu tetap harus dilakukan.

“Sejak turun temurun, sampai pada Bapakmu ya di situ ndak usah ruwet-ruwet, lagi pula punya modal berapa kalian berani membangun rumah?” Ibu tetap tidak bisa terima.

Tekad Vio dan suaminya sudah bulat, mereka terus melangkah meski tidak mendapat sambutan baik dari keluarga mas Pur. Beda dengan ayah-ibu Vio, mereka mendukung sepenuhnya dengan hati bahagia dengan rencana Vio untuk mandiri.

“Oalah, ini buka rumah tapi gubuk!” ketus ibunya ketika menyaksikan pembangunan rumah yang sudah mulai nampak pondasinya.

“Mana uangnya?” kata-kata mas Pur serasa tamparan bagi ibunya di depan para tukang yang sebagian besar masih kerabat-kerabatnya keluarga mantan suaminya.

“Kalau ibu menuntut aku membuat rumah besar, ya mana sumbangannya? Kenapa ibu tidak bersyukur melihat aku dan isttriku belajar mandiri. Jamgan khawatir, Bu, aku tidak meminta sepeserpun dari orang tua. Do’akan saja langkah kami. Ndak usah selalu maidhu (marah).” Mas Pur nampak kehilangan kesabaran, sementara Vio hanya mampu mencubit pinggang mas Pur agar tidak diperpanjang supaya ibunya tidak semakin marah, namun diabaikan. Begitulah percakapan selalu kandas dengan suasana tidak nyaman.

“Oh, jadi anakku sudah kaya? Sudah bisa sombog ke orang tua?” Ibunya berkacak pinggang. Mas Pur masih ingin menjawab namun ditahan Vio.

“Sudahlah Mas, bukannya mas sering menasehati aku supaya bersabar? Biarkan saja ibu memang sudah wataknya seperti itu,” kata Vio menenangkan suaminya.

“Aku ndak akan sudi nginjak gubuk kecil ini!” ujar ibunya sambil berlalu dengan motornya. Sementara para sanak saudara yang menyaksikan hanya mampu menahan nafas dengan kejadian itu. Semua hanya mampu terdiam tertegun.

“Yang sabar yo, Nduk, ibumu memang seperti itu wataknya, seng enom (muda) ngalah wae,” kata bude Sub menenangkan.

“Njih …, inshaAllah, Bude,” angguk Nia. Akankah ibunya tetap berkeras hati tidak mau mengakui mereka? (bersambung ,…)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post