Ijinkan Aku Mencium Surga di Kakimu (15)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 103
#menuju 365 hari
#TantanganGurusiana
“Ya Allah, mengapa hati ibu sedemikan kerasnya? Mengapa tak ada celah sedikitpun untuk menerima kasih sayang kami untuknya? Tak adakah kesempatan bagi kami untuk mencium surga di kakinya?” gumam Vio tertunduk sembari mengusap perutnya yang mulai membesar.
Vio melipat bibirnya agar tak menangis meski gelembung bening mulai menyamarkan pandangannya.
“Istirahat saja, kasihan anak kita,” ucap mas Pur sembari menggayut tangan Vio menuju rumah bu Sub, bu denya untuk istirahat.
“Yo, wes, di sini saja nduk istirahat tidur-tiduran di kamar depan. Eman-eman bayimu jangan di bawa bersedih terus, perkara ibumu ndak usah dipikir, semua orang sudah paham dengan sikap dan wataknya yang seperti itu. Kita do’akan saja semoga Allah masih akan membukakan hatinya agar masih bisa merasakan kebaikan hingga ia bisa berbahagia.” Kata-kata budenya menentramkan.
“Aamiin Ya Robbal Alaamiin,” Vio mengusab airmata yang terlanjur meleleh di pipinya. Hari itu ia memilih istirahat di rumah bu de Sub daripada pulang ke rumah asal, bisa jadi malah bertemu ibu mertunya yang sedang emosi. Vio akan menjadi sasaran empuk kemarahan mertuanya lagi dan semakin tidak akan bisa.istirahat.
****
Hanya dalam waktu dua bulan rumah itu selesai. Dengan rasa syukur dan penuh sukacita, Vio dan suaminya akhirnya bisa menempati rumah baru, sebuah rumah mungil dengan halaman luas dan lingkungan sejuk nan asri menentramkan. Ayah-Ibu Vio juga semakin sering berkunjung dan menginap sembari menunggu kelahiran cucu mereka.
Banyak hikmah dari kemarahan dan keangkuhan ibu mertuanya, untuk sementara Vio merasa tenang bersama orangtuanya di rumah mungil itu sembari menunggu kelahiran sang buah hati. Hanya sesekali Vio berkunjung ke rumah ibu mertuanya untuk meluluhkan hatinya. Meski hampir bisa disebut tidak pernah berhasil, namun Vio selalu mengajak suaminya agar tak berputus asa meminta maaf pada ibunya.
Bagi Vio, seburuk apapun perlakuan ibu mertua terhadapnya, ia tetap seorang ibu yang telah sangat berjasa melahirkan dan membesarkan suaminya hingga kini menjadi pendamping hidup Vio, oleh karenanya Vio tetap meyakini untuk terus memperlakukan mertuanya dengan baik seperti memperlakukan orang tuanya sendiri. Meski tentu saja bukan hal yang mudah.
Seiring waktu, dengan menempati rumah sendiri, mas Pur nampak sebagai sesungguhnya imam keluarga. Dia tetap membantu mengelola sawah orang tuanya sembari membuka usaha lain untuk memenuhi tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga meski Vio tak pernah memintanya. Kehidupan mereke semakin mebaik sampai putra pertamanya lahir dengan cara bedah sesar.
“Memang Vio ndak betah sakit, memang terbiasa manja, sakit sedikit wes bikin ruwet sekampung, gaya kayak artis pake melahirkan secara sesar segala! Sukaannya kok hambur-hamburkan uang.” ucapan yang pasti terdengar menyakitkan, namun bagi Vio, itu sudah menjadi hal yang sangat biasa dan normal. Vio sudah memahami karakter mertuanya, dan menjadii lebih bijak mengahdapinya.
Vio mengambil hikmah saja dari semua tekanan itu, justru ia bersyukur dengan memiliki ibu mertua seperti itu, ia kini pandai mengolah masakan, ia pun cekatan dalam mengurus rumah tangga. Sebagai wanita karier, yang berperan sebagai istri sekaligus sebagai guru, Vio merasa mampu meyeimbangkan semua kegiatan dengan lebih baik.
Dengan tempaan dan tekanan ibu mertuanya, Vio lahir menjadi sosok ibu tangguh yang tak akan rela rumahnya dalam keadaan tidak rapi, dan tidak akan rela jika ia tidak melaksankan tugas dengan maksimal sebagai abdi Negara. Vio selalu berupaya sempurna sebagai menantu dan sebagai guru. Vio ingin cibiran mertuanya berubah menjadi senyuman. Semampunya, ia terus berusaha dan berdo’a.
Pengalaman dan keadaan menghadapi ibu mertuanya membuat Vio lebih bisa menimbang perasaan orang lain. Ia lebih bisa berempati merasakan perasaan orang lain. Iapun belajar tidak cengeng dalam menghadapi apapun, berbicara tegas dalam menyampaikan hal prinsip tetap ia utamakan.
Vio menyadarai sepenuhnya bahwa ia hanya wajib berupaya melakukan hal terbaik demi orangtuanya. Masalah perlakuan yang kurang baik yang ia terima, ia menyerahkan semua itu kepada Allah sang Maha tahu. Apalagi urusah hati, merubah tabiat dan watak mertuanya sudah tentu adalah urusan yang harus ia pasrahkan kepada Allah, sang pembolak-balik hati manusia.
“Ya Allah, ampuni segala dosa orangtua kami. Ampuni segala dosa mertua kami. Ampuni segala dosa kami. Ampuni segala dosa putra-putri kami. Ya Robb, sang pemilik hati, tetapkanlah hati kami dalam ikatan kasih sayang yang akan trus mendekatkan kami memperoleh ridhoMu agar kami kelak Engkau tempatkan bersama orang-orang yang beruntung di surgaMu. Aamiin Ya Robbal Alaamin ….”
Ketentraman hati bukan dari siapa-siapa. Ketentraman hati tidak bisa diharapkan dari siapapun bernama manusia. Ketentraman hati berada pada hati kita masing-masing, bagaimana mensyukuri atas segala yang Allah berikan. Apapun keadaannya, tetaplah berbuat baik dengan hati karena Allah Maha tahu hal terbaik untuk setiap makhluk ciptaanNya.
( Tamat )
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
