Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ijinkan Aku Mencium Surga di Kakimu (part 9)
www.google.com

Ijinkan Aku Mencium Surga di Kakimu (part 9)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 108

#TantanganGurusiana

Vio membenamkan wajahnya ke bantal. Dia memilih masuk kamar dan mengis sejadi-jadinya. Vio merasa terhempas ke titik terendah. Kata-kata ibu mertuanya bahwa ia tidak cocok untuk putranya selalu terngiang di telinganya. Dan setiap kali itu terjadi, serasa perih dihatinya.

“Ayahku benar, keluarga ini memang tak cocok untukku. Aku bisa melepaskannya jika aku tak mampu, toh aku tidak merasakan mas Pur sebagai suami bisa membelaku. Tidak ada yang perlu dipertahankan di sini. Aku sudah sangat berupaya, tapi tetap saja nol di mata mereka.” Vio berbicara dengan hatinya sendiri, hal yang paling nyaman daripada berbicara dengan suaminya yang hanya akan menambah kekecewaan hatinya.

Sungguh damai dalam kegersangan hati yang sempurna, itulah yang dirasakan Vio saat ini. Cinta yang ia pupuk dan mulai bersemi selalu pupus di ujung lidah ibu mertuanya. Vio yang berkeyakinan bahwa cinta akan terbalas cinta pupus sudah. Vio yang sangat yakin bahwa perhatian dan kasih sayang pada suami dan keluarga besarnya akan mempersatukan hati mereke yang beku juga telah pupus.

Vio kehabisan tenaga, ia merasa seluruh badannya menjadi tak berotot dan lunglai. Tak ada yang ia inginkan kecuali memeluk ibunya. Ia rindu berbasah-basah dan tertawa lepas menagkap ikan di kolam bersama ayahnya. Dia rindu bau masakan di dapur ibunya. Dia benar-benar rindu udara pagi yang sejuk di halaman yang penuh bunga-bunga segar dengan embun berkilau diterpa matahari pagi.

Vio jatuh sakit, badannya demam namun ia menolak diperiksakan ke dokter.

“Ma’afkan aku, Dik Viona. Aku bukan tidak mau membelamu, aku bukan tidak mau bicara dengan ibu. Tapi sejak dulu ibu ya seperti itu, percuma kita debat juga percuma kita menjelaskan apapun. Hati ibu keras Dik, kamu hanya akan sakit sendiri kalau menghiraukan kata-kata ibu. Biarkan saja apa maunya.” Kata mas Pur sambil mengompres Vio.

“Kita ke dokter ya?” rayu Mas Pur sekali lagi. Vio menggeleng, hanya air matamya yang tak pernah berhenti meski ia memejamkan mata. Bibirnya tak mampu lagi berbicara. Vio tak punya kekuatan, batinnya sangat lelah.

Mas Pur nampak sibuk melayani Vio termasuk membuatkan the hangat dan membuatkannya bubur. Namun VIo makin lemah malah mulai mual dan muntah. Sakitnya makin parah. Akhirnya mas Pur memanggil mantri kesehatan untuk memeriksa Vio. Hasilnya, Vio diperkirakan tifus dan harus dirujuk ke rumah sakit untuk opname.

Namun Vio tetap menolak, dia meminta untuk pulang saja.

“Bagaimana kata ayah dan ibu jika aku mengantarmu pulang di saat sakit seperti ini? Beliau akan menganggapku laki-laki tak bertanggungjawab.” Mas Pur menyampaikan kekhawatirannya sambil terus mengompres Vio yang tak berkata apapun selain menangis.

“Baiklah, kita pulang. Aku siap-siap dulu.” Kata mas Pur akhirnya mengalah. Vio pun mengangguk pelan, ia sangat senang akhirnya akan pulang. Dalam kondisi seperti ini, Vio merasakan bahwa suaminya ternyata penuh kasih sayang dan perhatian. Mas Pur membopong Vio ke mobilnya, meskipun sebenarnya Vio masih kuat berjalan.

“Loh, Vio sakit? Sejak kapan? Kok ndak ke dokter saja?” tanya mbak Tiwuk sambil membantu membukakan pintu mobil.

“Dik Vio minta dirawat di rumahnya,” jawab mas Pur mewakili Vio yang langsung memeluk bantal yang telah disediakan suaminya.

“Kamu nginep Pur?” tanya mbak Tiwuk lagi. Sebenarnya pertanyaan itu tidak tepat sama sekali. Apa iya, mas Pur hanya mengantar Vio ke rumahnya lalu pulang? Apalagi Vio dalam kondisi sakit.

Seperti biasa mas Pur hanya diam jika ada kata-kata dari siapapun yang tidak cocok di hatinya. Dia bukan tipe orang yang suka berdebat atau menjelaskan perbedaan isi hatinya. Semua sudah paham jika mas Pur diam berarti ada yang tidak cocok.

Vio juga sebenarnya paham dengan sifat suaminya, tapi karena Vio memang ingin diperhatikan bahkan dimanjakan, maka ia lebih sering mempertanyakan perasaan sayang mas Pur terhadapnya. Pertanyaan –pertanyaan Vio dianggap nggak penting, dan sering mas Pur tidak menjawab. Mas Pur memang bukan tipe perayu, dia mencintai Vio dengan cara yang sangat sederhana. Melalui sikap dan perbuatan sudah cukup banginya untuk menunjukkan semuanya.

Sepanjang perjalan pulang, mas Pur sering mengusap kening Vio.

“Ke rumah sakit saja ya Dik, nanti ayah dan ibu aku kabari kalau adik sudah di rumah sakit,” kata mas Pur khawatir karena Vio semakin demam. Vio tetap menjawab hanya dengan menggelengkan kepala. Ia nampak sangat keberatan jika tidak dipulangkan ke rumah orangtuanya.

Kali ini mas Pur dibuat benar-benar mengalah. Sesekali mobil harus dipinggirkan karena Vio mual.

“Kamu benar-benar ndak apa-apa, Dik?” tanya mas Pur mulai khawatir.

“Ndak apa-apa, aku ingin cepat sampai ke rumah ” jawab Vio lemah.

“Iya, sebentar lagi kita sampai, tahan dulu mualnya ya Dik?” kata mas Pur seraya melajukan mobilnya dengan lebih cepat.

( Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post