Mati Gaya
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 107
#menuju 365 hari
#TantanganGurusiana
Suasan lebaran kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pada pelaksanaan salat Idul Fitri semua jam’ah diwajibkan memakai masker dan disarankan tidak usah bersalaman. Disarankan pula jika mengucapkan ma’af dan selamat idul Fitri bisa dilakukan dari jarak satu meter. Selebihnya kami langsung pulang.
Di setiap halaman telah tersedia bak dengan kran lengkap dengan sabun dan handuk kecil. Demikian pula di rumahku. Anakku tak lupa menyediakan handsanitizer yang segera ia semprotkan ke tangan setelah bersalaman dengan tamu.
Di saat kami harus keluar rumah untuk bersilaturrohiem ke para tetangga dan saudara, kami melihat situasi terlebih dahulu, yang pintunya ditutup apalagi di gembok berarti tidak menerima tamu. Jika pintu di buka berarti mau menerima tamu. Kamipun mengikuti aturan cuci tangan sebelum masuk rumah tersebut.
Pada hari pertama lebaran, semua berjalan sesuai harapan. Pada hari ke dua mulai ada yang lalai. Apalagi pada saat ada saudara jauh dari kampung sebelah.
“Wadoh! Harus cuci tangan dulu ini?” pertanyaan yang sungguh tidak bisa kami jawab, sak repotan alias bingung juga mau ngejawab apa, hanya bisa tersenyum berharap saudara itu mau mencuci tangan.
“Ndak ada Corona! Ndak usah takut, wes pasrah pada yang Maha Kuasa. Corona ndak berani datang ke sini. Itu hanya berlaku untuk orang-orang yang malas mandi!” Omelnya sambil masuk rumah dengan suara lantang membahana.
“Walah …, Pak De!, silahkan duduk, ma’af lahir batin nggeh Pak De,” ucap suamiku sambil menyalami pak De dengan hanya menyentuhkan ujung jari ke jari pak de, alias tidak mencium tangan seperti biasa. Kami semua melakukan hal yang sama satu sama lain selama pandemic ini. Tidak hanya pada pak de atau bu de, tapi pada semuanya. Kami juga tidak saling cium pipi kiri kanan.
“Kok gak nyayang? Sini cium tangan Uti!” ucap bu De sambil mengulurkan tangannya kepada anakku yang nampak hanya berdiri tidak beranjak. Aku melihat raut wajah anakku yang tidak berkenan dengan kehadiran pak De dan bu De yang agak arogan itu.
“Ndak apa-apa, Nak, salim ke mbah Uti, ndak usah sayang pipi wes ndak apa-apa, cium tangan saja,” kataku sambil mengedipkan sebelah mata agar anakku nurut.
Pak de dan Bu de memang tipe-tipe yang tidak suka dengan keteraturan sebuah tatanan alias perusak kenyamanan demi kenyamanan ala mereka. Tak ada logika yang bisa melogikakan pemikiran mereka.
Siapapun bisa mati gaya jika bertemu dengan Pak de dan Bu De, mereka punya cara dan prinsip sendiri yang selalu memaksa orang lain menerima meski berat hati demi menghormati yang lebih sepuh, apalagi pada suasana lebaran.
Hmmm …, semoga saja hanya ada dua orang yang seperti itu, yaitu pak de dan bu deku. JIka semua orang atau sebagian kecil orang saja yang seperti itu, sudah akan cukup ampuh untuk menguatkan penyebaran Virus Corona.
Seperti yang saat ini terjadi di sekitar kita, pemerintah sepertinya mulai mati gaya dengan orang-orang model pak de dan bu deku itu. Mungkin pak de dan budeku adalah orang-orang yang ketinggalan berita di televisi atau memang orang jadul yang tidak punya android. Aku mulai mencari cara bagaimana supaya sedikit bisa mencerahkan pemikiran gelap mereka.
‘Ngapunten (ma’af), Pak De, Bu De, kalau memang tidak ada virus Corona kenapa diberitakan di televisi kalau banyak orang meninggal akibat virus itu ya? Bahkan kabar semalam menyebutkan pak dokter yang buka praktek di dekat rumah Pak De sudah positif. Rumah tempatnya praktek sudah tutupan sejak tiga hari ini ya Pak De?” Aku berharap dengan pertanyaanku itu pak deku melunak.
“Ah masak? Bukannya pak Dokter biasa mudik?” tanya pak De.
“Ndak Pak De, pak dokter harus dirawat di ruang isolasi di rumah sakit tempatnya bertugas,” jawabku sambil menyuguhkan secangkir kopi panas kesukaan pak de yang mulai terdiam sambil mengambil sebatang rokok dari sakunya.
Dari sikap pak de itu, aku mulai bisa mengambil kesimpulan kecil, munkin pak de dan bude memang kudate alias kurang update sehingga tidak paham dengan situasi yang terjadi saat ini. Ditambah sikap arogannya yang sulit menerima masukan membuat mereka benar-benar terkurung dalam prinsip pribadi yang keliru.
Sosialisasi yang dilakukan memang sudah cukup banyak baik melalui media masa, media sosial bahkan yang dilakukan oleh pihak berwenang langsung ke masyarakat luas. Namun masih banyak yang tidak paham dan acuh. Mungkin memang diperlukan kesabaran semua pihak untuk terus saling mengingatkan.
Aku sendiri, bukan maksud sok tau, aku hanya mencoba memjelaskan demi keselamatan keluarga, saudara, tetangga dan handai taulan, aku berupaya untuk terus memahamkan keluarga-keluarga dekatku bahkan pada tukang sayur langgananku dan pada emak-emak yang biasa belanja bersama di depan rumah. Selalu aku kabarkan pada mereka berita terkini yang aku tahu.
Semoga mereka yang paham, akan saling memahamkan yang lain sehingga akan semakin banyak orang yang paham akan bahaya virus Corona beserta cara pencegahannya.
Aku memang tak bisa melakukan hal lebih bermanfaat dari ini untuk membantu para medis yang sedang berjuang, tapi setidaknya aku berupaya memahamkan lingkunganku agar tak menambah beban mereka.
Semoga semakin hari semakin banyak orang yang paham dan saling mengingatkan sehingga pakai masker, cuci tangan dan tidak bersalaman pada yang lebih tua tidak dianggap ngelamak atau ngelunjak.
Kalau setelah diingatkan tetap tidak mau ya sudahlah, asal jangan menganggap orang yang berdisiplin menjaga diri sebagai orang yang lebay apalagi marah-marah kepada pengguna masker. Harusnya, orang-orang yang berdisiplin itulah yang marah-marah pada yang lalai …, tapi ini terbalik, yaitulah mati gaya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
