Sepenggal Kisah di Balik Pentol Oleh Hermin Agustini Tantangan hari ke 102 Menuju 365
Sudah menjadi tradisi, belum lengkap rasanya hari raya tanpa kehadiran pentol. Sudah menjadi ritual tahunan, meski hari-hari biasa terkadang juga membuat adonan pentol sendiri, namun menjelang hari raya semakin menjadi momen yang tidak akan dilewatkan oleh emak-emak. Mungkin karena pegolahan pentol lebih simple sebagai suguhan cepat saji jika mendadak ada tamu.
Selain itu, menyimpan daging dalam bentuk pentol dirasa paling aman dan nyaman karena bahan bisa diolah menjadi berbagai macam hidangan dengan waktu relative cepat sehingga tidak ribet.
Hari ini akupun terlibat dalam antrian panjang, meski dalam hati sempat ragu namun berangkat juga ke penggilingan daging. Aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Namun ternyata antrian sudah mengular. Mau kembali tak munkin karena daging terlanjur aku cincang.
Di antrian itu nmapak dua orang ibu yang tidak ada dalam baris antrian, kudengar mereka sedang merayu pemilik penggilingan untuk mendahulukan mereka.
Akan tetapi suara mereka tak terdengar karena kalah dengan suara mesin, atau memang sengaja tak didengarkan oleh pemilik penggilingan yang memang disiplin melayani para pelanggan. Kedua orang itu sepertinya pelanggan baru sehingga tidak paham cara mengantri.
“Mbak, kalau ingin dilayani berdiri di sini, masuk ke dalam baris antrian,” kataku merasa perduli dan kasihan pada mereka.
"Aku wes mulai subuh mau mbak" dia bicara sambil melotot …,
“ya sudah silahkan disitu sampe sore,” batinku.
“Iya, meskipun sampe sore mbak disitu ya nggak dilayani, kita harus tertib dalam antrian mbak,” kucoba menjelaskan namun percuma. Mereka tetap dengan pendirian mereka.
Sekitar setengah jam berlalu, aku tetap menjaga jarak satu meter dari pengantri di depanku, tapi para emak dibelakangku mulai mepet mendesakku maju. Tiba-tiba kedua mbak tadi mengambil antrian di depanku.
“Loh, kalau mau mengantri ya di belakang saya, Mbak,” protesku.
“Ya ndak bisa! Aku sudah sejak subuh di sini, duluan aku daripada ibuk,” Mbak itu merasa benar.
“Makanya mbak dikasih tahu ngantri ndak ngantri,” kataku hampir marah. Tapi aku tahan, sayang dengan puasaku. Istigfar …, istigfar …, lalu kupersilahkan saja mereka menyela di depanku. Kukira antrian sudah tertib, ternyata ada satu lagi emak di sampingku yang bingung belum dapat nomor antrian.
“Kalau mau dapat nomor antrian, berbaris mbak, di sini di belakang barisan ini.” Kataku mencoba menjelaskan. Tapi mbak itu bukannya berterimaksih malah nyerobot antrian, ia berdiri di depanku.
“Loh, mbak kok di depan saya? Bukannya harus ngatri dulu?” aku memperingatkan dengan cara pura-pura tanya.
"Ya ndak, Mbak, wong aku masih motong daging tadi, aku mulai subuh sudah disini," jawabnya sewot.
"Tapi mbak ndak ngantri, ya sudahlah monggo silahkan di depan saya," kataku mengalah menghindari berdebat.
“Hmm …, sulitnya budaya antri.” Gumamku prihatin.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
