Andai Kau Tau Rasaku
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 122
#menuju 365 hari
#TantanganGurusiana
Ketika lulus pengankatan sebagai PNS, usiaku masih duapuluh enam tahun. Sebagai guru muda, semangatku membara dan masih nampak sangat imut di hadapan siswa SMP yang menginjak remaja, tentu bukan hal yang mudah bagiku. Hampir setiap hari ada saja ulah siswa usil menguji kesabaranku. Sejak saat itu aku dikenal bahkan mungkin dikenang sebagai guru bahasa Inggris yang cerewet dan galak dalam menciptakan disiplin siswa. Namun, jika aku berjumpa dengan mereka yang saat ini rata-rata sudah berkeluarga, hampir semuanya masih mampu mengingat dengan baik dan sopan. Bahkan ada beberapa mantan siswa, termasuk yang ada di luar negeri masih sering inbox. Bahagia bercampur haru melihat mereka masih mampu mengingatku.
***
Seiring waktu, aku menjadi semakin tua dan tentu penampilanku berubah Namun masih banyak siswa yang mampu mengenaliku dengan baik. Oleh karena itu, aku merasa tidak canggung untuk menyapa mantan murid di manapun aku bertemu mereka. Sampai suatu ketika aku dalam antrian di kasir sebuah indomart, aku memperthatikannya yang sedang sibuk melayani pelanggan. Ia dulu pernah les bahasa Inggris ke rumah sehingga aku ingat betul padanya. Ketika giliranku tiba, akupun menyapa dengan riang, “Sudah lama bertugas di sini?” tanyaku seraya menyodorkan belanjaan. Dia hanya terdiam, “Siapa ya?” Wuih mak jleb rasanya. Sejak itu aku merasa ragu untuk mendahului menyapa mantan muridku.
***
Waktu terus berjalan, etika kesopanan dan keperdulian seoalah makin pudar. Kukira hanya aku yang mulai pelupa, ternyata banyak siswa yang mendadak jadi pelupa. Terbukti ketika aku bertemu mantan murid di sebuah warung bakso, Parasnya manis, bodynya seksi, rambutnya lurus kekinian, kulitnya mulus nampak hasil perawatan mahal, baju dan sepatunyapun nampak bukan pasaran. Dia duduk di posisi agak tersembunyi bersama seorang laki-laki yang jauh labih tua darinya. Aku berpikir itu pasti ayahnya atau bosnya, entahlah. Aku harus tau diri dan sengaja duduk agak menjauh karena dari tatapannya, aku merasakan ketidaknyamanan atas kehadiranku. Tatapan kami sering beradu dalam diam, Iapun segera berlalu seolah tak pernah mengenalku. Aku bangga merasa jauh lebih muda, buktinya, dia pikun aku nggak, hehehe ….
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
