Berdamai Dengan Corona
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 132
#menuju 365 hari
#TantanganGurusiana
Pada Akhir 2019, perhatian kita tertuju pada satu titik wilayah bernama Wuhan di Cina. Kita ngeri dengan wabah Corona yang menumbangkan banyak korban, namun kita semua dibuat berdecak kagum dengan pemberitaan tentang gerakan cepat pemerintah serta kepatuhan masyarakat di sana sehingga berhasil menaklukkan Corona dalam waktu dua minggu. Kita semua bernafas lega ketika barisan para medis mendapat penghormatan sedemikian rupa pada saat meninggalkan kota tersebut karena wabah telah usai.
Namun, kita terperangah karena nyatanya, Corona terus menyebar bahkan menjadi sangat dekat dengan kita. Duniapun gelisah ketika bumi mendadak sakit, seluruh negeri berjuang menumbangkan Covid-19. Berbagai cara dan kebijakan dilakukan, tak bisa dihindari, lockdown diberlakukan, hingga dunia mendadak sunyi. Tempat-tempat keramaian, aktivitas tempat ibadah, sekolah, universitas, transportasi darat, udara, dan laut terpaksa dibekukan.
Negara kitapun tak luput dari wabah ini, pemerintah mau tidak mau melakukan hal serupa untuk mengatasi pandemic ini. Sayangnya, pemahaman masyarakat terhadap pandemi corona sangat beragam. Ada kelompok yang patuh, ada yang acuh meremehkan, ada yang tidak paham sama sekali yang menganggap Corona tidak pernah ada.
Berita tentang Corona, baik berita yang benar maupun berita ‘hoax’ semakin sulit dibedakan, kebiasaan sebagian masyarakat kita yang dengan mudah membagi berita tanpa berpikir membuat keadaan semakin simpang siur. Informasi dari pemerintah dan protokol kesehatan kalah terhadap berita-berita yang tidak jelas asal-usulnya tapi berhasil membuat masyarakat percaya.
Semakin hari, jumlah korban terpapar semakin meningkat, anehnya, tetap tidak bisa menyadarkan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan yang diberlakukan pemerintah. Anjuran untuk diam di rumah diabaikan dengan alasan keterpaksaan karena harus mencari nafkah, tentu alasan ini bisa diterima meskipun sangat beresiko namun tak mungkin dicegah karena penyediaan kebutuhan pokok tidak ada yang menjamin sepenuhnya. Bantuan dari pemerintah dan para dermawan tidak bisa menjangkau masayarakat secara keseluruhan.
Akibatnya, pasar dan mall berjalan terus apalagi menjelang lebaran, banyak orang tetap berdesakan, keinginan berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan mengalahkan resiko terpapar. Banyak orang beraktifitas seperti biasa, sosial distancing, penggunaan masker, handsanitizer ataupun cuci tangan, bagi sebagian orang adalah keterpaksaan bukan kesadaran.
Apalagi lockdown, hanya menjadi istilah menyeramkan yang tetap saja dilanggar. Bahkan, ada kasus pasien positif terpapar corona yang dikarantina malah melarikan diri, ada pula yang dijemput paksa oleh keluarganya. Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar di wilayah-wilayah merah juga dilanggar, masih banyak masyarakat yang keluar masuk wilayah tersebut dengan cara menyelinap, mengambil waktu-waktu sepi penjagaan.
Harus bagaimana kita dengan keadaan itu? Mau marah-marah? kepada siapa? Diantara mereka yang melanggar dan tidak perduli dengan keadan ini, sebagiannya adalah saudara dekat di lingkungan kita sendiri. Tidak ada pilihan kecuali belajar berdamai dan bijak menjalani kehidupan di tengah pandemic ini.
Kita harus tetap patuh mengikuti protokol kesehatan oleh pemerintah. Sebisa mungkin tetap diam di rumah, berbelanja bisa dilakukan secara online. Bersilaturrohimpun bisa melalui online meskipun akan menuai protes dari saudara-saudara penganut “tidak ada Corona”. Jika terpaksa keluar maka jangan lupa mengenakan masker, hindari kontak fisik seperti bersalaman apalagi cium pipi atau kontak fisik yang lain. Tetap menjaga jarak dari orang lain.
Menyediakan tempat cuci tangan di dekat pintu gerbang rumah dan handsanitizer di ruang tamu. Memperingatkan tamu untuk mencuci tangan, jika tidak berhasil, maka tidak boleh sungkan mempersilahkannya menggunakan handsanitizer. Pada awalnya akan terasa aneh, bahkan menuai protes dari mereka yang tidak sepaham. Sekali lagi tidak apa-apa, tetap lakukan apa yang terbaik untuk kita dan keluarga kita. Lama-lama, mereka akan paham sendiri.
Berdiam diri di rumah bukan berarti terkurung dan tidak beraktifitas, karena dunia ada di genggaman. Sebagai guru dan seorang ibu, saya harus tetap belajar agar lebih mampu memanfaatkan kemudahan technology untuk tetap bisa maksimal dalam melaksanakan sebagian besar aktifitas meskipun harus dilaksanakan dari rumah.
Saya bisa belajar dalam rangka meningkatkat kompetensi diri sebagai guru melalui seminar-seminar online yang semakin marak ditawarkan. Tentu saja kegiatan ini menjadi menyenangkan karena bisa tetap bersama keluarga dan bisa berhemat biaya.
Sebagai ibu, saya mempunyai kesempatan memanfaatkan waktu secara maksimal dalam mendampingi si buah hati dalam melakukan aktifitas online, baik belajar maupun aktifitas media sosial lainnya. Browsing internet bersama buah hati sambil mengobrol tentu saja sangat menyenangkan.
Jenuh? Sudah pasti, karena melakukan aktifitas belajar mengajar memang terasa lebih asyik jika bisa bertatap muka langsung bersama siswa. Demikian pula dengan kegiatan lainnya, terasa jenuh berada di depan laptop dalam waktu lama karena aktifitas gerak menjadi sangat berkurang.
Sekali lagi kita perlu bijak, kita bisa melakukan kegiatan menarik bersama keluarga dengan sekedar berjalan-jalan pagi, bersepeda, berkebun atau bahkan memasak bersama menjadi hal lebih asyik yang akan memupus kebosanan.
Banyak hal yang bisa dilakukan dalam menghadapi pandemic yang kita tidak tahu kapan akan selesai mengingat kondisi masyarakat di lingkungan kita yang tidak mudah ditata. Kita tidak bisa terus bersembunyi di rumah, kita tidak perlu takut, tapi tetap menjaga diri dan waspada terhadap penyebaran covid-19 yang tak kasat mata.
Kita bisa beraktifitas di luar rumah jika benar-benar terpaksa dan tetap mengikuti protokol kesehatan adalah hal bijak untuk melindungi diri, keluarga, lingkungan dan bangsa. Membiasakan diri hidup bersih dan sehat serta jangan lupa bahagia dengan hati penuh syukur.
Semoga Virus Conona segera lenyap, semoga kita semua selamat dan selalu berada di dalam lindungan Allah SWT. Aamin Ya Robbal alaamin.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan