Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cinta Semusim Bunga Tembakau (6)
www.google.com

Cinta Semusim Bunga Tembakau (6)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 113

#menuju 365 hari

#TantanganGurusiana

“Berjuang bersamamu adalah pengalaman terindah yang tak terlupakan. Trimakasih Abang Narendra Daffin!”

Sengaja Ayu mencetak khusus untuk Rendra yang selama ini memberinya semangat dan bantuan tenaga serta waktu untuk menyelesaikan skripsi hingga mereka bisa wisuda bersama.

Acara wisuda telah usai, sesi potret-memotret pun usai, air mata Ayu tak berhenti membasahi pipinya. Dia tak banyak berkata, di hatinya berkecamuk rasa antara bahagia merasa dicintai oleh seseorang yang teramat baik, namun disisi lain Ayu merasa teramat pedih karena telah tiba waktu untuk melepaskan Rendra. Kali ini Ayu berusaha menguatkan diri untuk megutarakan hatinya.

“Abang, maafkan adik., Abang sudah terlampau baik kepada Adik juga kepada keluarga adik. Saat Abang pulang kampung, aku harap Abang tak usah berpikir untuk menjemput adik, sebab itu tak mungkin. Aku tak mungkin menempuh jalanmu. Aku do’akan Abang menemukan gadis lain yang lebih baik dariku.” Bibir Ayu bergetar dengan buliran bening yang tak berhasil ia hentikan..

”Dik, bukankah Abang mau menerima adik apa adanya termasuk menerima perbedaan kita? Sudahlah, adik pasti sedih juga cemburu, takut kehilangan karena Abang mau pergi, kan? Jangan khawatir, Abang akan telepon adik tiga kali sehari seperti minum obat. Hahaha …! Obat pengobat rindu buat gadis desa.” Gurauan Rendra memaksa Ayu tertawa meski berderai air mata.

***

“Kapan Nak Rendra pulang kampung?” tanya ibu Ayu.

“Masih satu minggu lagi Bu,” jawab Rendra sopan sambil bersalaman

“Terimakasih Nak Rendra, sudah sering mengantar Ayu pulang, semoga Allah membalas semua kebaikan Nak Rendra, Semoga sukses selalu.” Demikian kata bapak Ayu sambil menepuk bahu Rendra, mereka berjabat tangan erat sementara Ayu hanya menunduk.

Terlalu sakit baginya menyaksikan kedekatan itu, bagi Ayu momen itu adalah saat-saat terakhir yang tak akan pernah terulang, sementara bagi Rendra, semua ini seolah lampu hijau untuknya menjemput Ayu dikemudian hari.

Seminggu terasa amat cepat, waktu berpisah tiba. Rendra dan beberapa teman serta kerabat yang siap pulang kampung telah berkumpul di terminal pemberangkatan bus menuju bandara. Mereka siap menyongsong masa depan masing-masing, sudah pasti, Ayu menemui Rendra untuk hari perpisahan itu.

Ayu tak bisa banyak berkat, baginya hari itu adalah hari terakhir dia bisa melihat kekasihnya. Hari itu adalah hari untuk merelakan kekasihnya menempuh cita-cita hidupnya dan menemukan pasangan hidup yang sejalan dengan keyakinannya. Ayu harus rela meskipun itu bukan dirinya. Hati Ayu teramat perih, tapi dia harus tetap terlihat tenang, demi ketenangan keberangkatan Rendra.

Ayu membiarkan saja Rendra merangkul dirinya. Dia pun melingkarkan lengan ke pinggang Rendra dan menyandarkan kepalanya di dada Rendra. Sesekali dia memejamkan mata menghirup dalam-dalam aroma parfum yang ingin dia simpan dalam hatinya. Sudah pasti air matanya mengalir deras, mereka terlarut rasa dalam diam.

“Maafkan aku Abang, terimakasih atas semua cinta yang teramat indah, berangkatlah untuk raih cita-citamu.” Ucap Ayu dengan bibir bergetar. Ayu melepaskan pelukan Rendra yang seolah tak perduli banyak mata mencuri pandang kemesraan mereka.

“Adik yang sabar ya sayang, Abang tak akan lama,” jawab Rendra sambil mencium kedua tangan Ayu kemudian bergegas naik ke dalam bus yang hampir berangkat.

Gerimis semakin deras sederas air mata Ayu. Hujanpun turun, Ayu melipatkan tangannya kedinginan, melihat itu tentu saja Rendra tak tega, dia melepaskan jaket yang dipakainya, bergegas turun lalu menyelimutkan jaket itu ke pundak Ayu.

“Daaa …, Adik …! I Love you!” ucap Rendra sembari berlari dan bergelayut di pintu bus yang mulai melaju. Dia tetap ada di pintu melambaikan tangan pada Ayu hingga bus menghilang di ujung terminal.

Ayu hanya menghela nafas, dia kenakan jaket itu untuk melindunginya dari cuaca dingin akibat hujan. Ayupun bergegas pulang, Ayu berlari kecil mengejar angkot menuju terminal di batas desanya.

Seperti biasa akan butuh waktu lama menunggu angkot pedesaan. Ayu melirik jam tangannya yang berembun. Lalu mengusapnya agar bisa melihat jelas jam berapa saat itu. Sudah hampir jam tiga sore. Masih akan ada angkot terakhir yang akan mengangkut para kuli tembakau. ( Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post