Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cinta Semusim Bunga Tembakau (7)
www.google.com

Cinta Semusim Bunga Tembakau (7)

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 114

#menuju 365 hari

#TantanganGurusiana

“Sabar adikku sayang, kau pasti ku jemput, aku hanya butuh waktu untuk menjadi sesuatu di sini supaya aku punya modal kepantasan untuk melamarmu, bukankah itu yang kau sarankan untuk bisa melamarmu?” ucap Rendra penuh keyakinan.

“Semoga dalam waktu dekat aku sudah bisa menjadi pegawai di wilayah ini, omku menjanjikan tempat untukku.” Rendra menambahkan.

Mereka larut dalam obrolan yang tak terlalu lama, Rendra harus segera terbang.

“Selamat tinggal Adik, baik-baik di sana. Jika kau rindu, lihatlah bulan, rindu kita akan bertemu di sana. Abang akan selalu menghubungimu, selalu tunggu Abang ya sayang.” Kalimat Rendra terasa mengiris hatinya.

“Selamat jalan Abang, terimaksih atas semua cinta dan ketulusanmu. Semoga sukses, aku pasti merindukanmu.” Kalimat Ayu menentramkan hati Rendra. Meskipun sebenarnya Ayu ingin berkata lain.

”Selamat tinggal sayang, pergilah dan lupakan aku.” Demikian uacap Ayu dalam hatinya dengan air mata yang tak terbendung sejak tadi.

Ayu menutup telephon kemudian kembali larut dalam rasa kehilangan. Ayu berdo’a dalam hatinya semoga kekasihnya menemukan kekasih baru. Meskipun hal itu terasa sakit baginya, namun itu yang terbaik untuk Rendra juga untuk dirinya.

Sejak malam itu Ayu berjuang memerangi hatinya. Tak mudah menaklukkan hati yang penuh cinta. Kerongkongannya terasa kering, Ayupun bergegas untuk membuat teh hangat di dapur.

Ditemani secangkir teh hangat, Ayu duduk bersantai di beranda dapur sambil menatap langit. Purnama bertengger di punngung pegunungan yang nampak indah bagai siluet alam. Ayu menikmati pemandangan itu sembari meminum seteguk teh hangat untuk menenangkannya.

“Bulan, sampaikan rinduku untuknya, katakan bahwa dia adalah pria terbaik yang pernah hadir dalam hidupku. Katakan padanya aku ingin bersamanya, namun tak mungkin.

Bulan, sampaikan ma’afku padanya. Bulan, tunjukkan di sana akan banyak gadis yang lebih baik dan lebih pantas untuknya.” Bisik Ayu berbicara kepada bulan yang sedari tadi tenang mendengarkan. Perpisahan itu terasa amat memilukan.

***

Waktu terus bergulir. Tak terasa beberapa purnama berlalu. Surat-surat dari Rendra terus mengalir. Cerita cinta antara Ayu dan Rendra seolah tak bisa berakhir. Semua tetap mengalir bagai air.

Ada surat bu, dari Abang”, kata petugas Pos yang sudah sangat hafal dengan surat menyurat antara Ayu dan Rendra.

“Terimakasih Pak,” jawab Ayu yang siang itu sedang menjaga koperasi sekolah bersama Bu Yona sahabatnya.

“Cie …, si Abang rajin ya Bu nulis suratnya”, kata Bu Yona menggoda Ayu yang tersipu.

“Ndak tau Bu, saya sebenarnya bingung,” jawab Ayu.

“Lah kenapa, Bu?” tanya Bu Yona penasaran.

“Kapan-kapan saja Bu, saya ingin bercerita,” kata Ayu sambil berlalu membawa surat dari seberang.

“Okkkkkeee …! kata Bu Yona sambil tersenyum lebar memahami Ayu yang sudah pasti ingin segera membaca isi surat dari jauh. Ayu menuju meja kerjanya, membuka laci tempat ia menyimpan surat-surat Rendra yang entah sudah berapa banyak. Ayu mengambil gunting kecil kemudian mulai dengan hati-hati membuka surat yang baru ia terima.

Kalimat-kalimat Rendra selalu membuat Ayu meleleh. Ia tak pernah mampu lebur dalam rasa yang tak menentu. Tak kuasa menolak, tapi tak mungkin menjalaninya. ( Bersambung … )

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post