Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cinta Semusim Bunga Tembakau 8
www.google.com

Cinta Semusim Bunga Tembakau 8

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 116

#menuju 365 hari

#TantanganGurusiana

Ayu menghela nafas panjang, ia tak ingin melukai hati Rendra, tapi tak mungkin pula ia hidup bersamanya yang berbeda keyakinan. Ayu tak mungkin mengecewakan orangtuanya. apalagi jika harus dibawa ke tempat yang jauh, ayah-ibunya pasti akan berat melepas Ayu.

Ayu melipat surat itu, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop, meletakkannya bersama surat-surat Rendra lainnya. Laci itu kembali ia kunci. Ayu hanya terdiam, termenung dalam kekalutan pikiran yang tak menentu. Ia tertunduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Ya Allah, kenapa rasanya menjadi semakin rumit seperti ini? Harusnya aku bahagia dengan orang yag aku cintai. Tapi mengapa aku harus sedih ya Robbi?” gumam Ayu dalam hati disertai helaan nafas panjang dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kisah cinta yang indah ini adalah rasa sakit yang pilu.

“Ini harus segera di akhiri,” bisiknya dalam hati. Ayu mencoba berpikir logis dan mencoba tegar dengan bergegas ke luar ruangan. Ia ingin masuk kelas bersama anak-anak, tetapi ia sedang tidak ada jadwal masuk kelas di jam ke lima hari itu.

“Hayooooo …? habis nerima surat kok malah galau, ada apa Dik?” tanya Bu Yona menyambut kehadiran Ayu yang nampak lesu.

“Ya itulah Bu, ceritanya panjang, nanti saja ya sepulang sekolah saya mau curhat. Saya ikut ke kost-an Bu Yona,” jawab Ayu.

“Oke, atau kita sekalian jalan-jalan ke kota ya? Aku juga ingin refresing.” Kata bu Yona bersemangat.

“Makan bakso sayur ya, Bu,” ajak Ayu.

“Oke!” sahut bu Yona.

“Saya pulang dulu Bu, pamit Ayah sama ibuk dulu,” lanjut Ayu.

“Oke, kalo gitu saya ikut ke rumah Ayu, nanti kita berangkat pakai motorku saja. Pulangnya gampang, besok pagi bisa berangkat bareng,” lanjut Bu Yona.

“Siap Bu, berarti saya sekalian bawa baju dinas untuk besok.” Sahut Ayu girang. Begitulah keakraban mereka yang biasa menghabiskan waktu bersama. Dan orangtua Ayu sudah terbiasa dengan kebersamaan mereka. Bapak dan Ibu Ayu tidak keberatan jika Ayu pamit bermalam di rumah bu Yona atau sebaliknya.

“Bu, saya bingung dengan hubungan saya dan pacar saya,” ucap Ayu membuka percakapan saat mereka sedang menunggu hidangan bakso.

“Kenapa Dik?” tanya Bu Yona yang memang belum pernah tahu permasalahan yang dihadapi Ayu karena untuk satu masalah ini, Ayu memang tertutup.

“Pacar saya sebenarnya berbeda keyakinan Bu Rin,” jawab Ayu sambil tertunduk.

“Haaaaa …??? Yang benar Bu!” respon Bu Yona terbelalak.

“Tapi mengapa berlangsung sampai selama ini?” Pertanyaan bu Yona bertubi-tubi tidak percaya. Setahunya, hubungan antara Ayu dan pacarnya lancar-lancar saja meski terpisah jarak yang jauh.

“Ya itulah Bu, yang membuat saya bingung. Dari sejak awal saya ingin menjelaskan. Tapi selalu tidak mampu, saya selalu kalah dengan perasaan saya sendiri Bu. Dia terlalu baik, saat kuliah dia selalu ada untuk saya. Dia banyak mensupport kesulitan saya, Bu,” kisah Ayu.

“Apa pacar Ayu tahu kalau Ayu beda keyakinan dengannya?” tanya Bu Yona.

“Dia tahu sejak awal, dia sama sekali tidak masalah. Bahkan Orang tuanya sudah tahu dan bisa menerima saya sebagai muslim.” Kata Ayu sambil menghela Nafas.

“Lah, Ayu sendiri bagaiman?” tanya Bu Yona terus.

“Ya tidak mungkin lah, Bu …, berat bagi saya menjelaskan pada orang tua apalagi menjalaninya.

“Hal ini apa sudah pernah dijelaskan?” tanya Bu Yona berusaha menacari akar permasalahan.

“Belum, Bu,” jawab Ayu tertunduk.

“Loh, justru hal inilah yang amat penting untuk diketahui pacar Bu Ayu.” Ucap Bu Yona menegaskan.

“Dik Ayu juga tidak bisa terus-menerus seperti ini, menjalin hubungan yang tidak punya masa depan. Semakin lama Ayu tidak berterus terang, berarti semakin dalam adik menyakiti dia.” Tutur bu Yona melanjutkan nasihatnya.

Air mata Ayu tak mampu lagi ia tahan. Baginya, akan terlalu menyakitkan untuk berterus terang. Dia selalu tidak tega pada perasaan Rendra, ia tidak tega menyakiti hati Rendra. Ayu merasa tidak mampu menghancurkan impian-impian Rendra. Tapi mau tidak mau, dia harus mampu mengatakan yang sebenarnya.

“Sudahlah Dik, Ayu harus kuat mengatakan sejujurnya meskipun hal ini memang tidak akan mudah. Relakan saja meskipun sakit dan menyakiti, daripada semakin lama semakin tidak berarti. Relakan ya Dik, ini yang terbaik untuk Rendra juga Adik.” Kalimat bu Yona kembali menasehati.

Malam itu Ayu semakin gelisah. Dia memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Malam semakin larut, namun Ayu belum juga lelap. Dia bergegas mengambil air wudhu’, dia hendak bersujud kehadapan Sang Penguat Hati untuk menenangkan hatinya, ia harus merelakan melepas kekasihnya,meskipun hatinya akan sakit, demikian pula dengan hati Rendra. Tapi bagaimanapun juga, keputusan harus segera diambil. (Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post