Cinta Semusim Bunga Tembakau (Tamat)
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 117
#menuju 365 hari
#TantanganGurusianaC
“Semangat Bu !” ucap Bu Yona dari balik helmnya. Ayupun hanya mengacungkan jempol. Bu Yonapun tersenyum yang bisa terlihat dari kaca spion. Ayu tak sanggup melihat kanan dan kiri. Semua jalan yang ia lalui adalah jalan penuh kenangan indah yang kini terasa menyiksa. Relung hatinya terasa perih oleh rasa bersalah dan takut kehilangan yang bercampur baur. Terbayang senda gurau Rendra dan kenangan-kenangan indah bersamanya.
“Bagaimana Bu?” sudah mempunyai kekuatan untuk berkata sebenarnya?” pertanyaan Bu Yona membuyarkan lamunan Ayu di tempat parkir.
“Bingung Bu,” jawab Ayu dengan senyum dipaksakan. Untung saja hari itu dia sedang bonceng kepada Bu Yona. Kalau tidak, dia pasti tidak akan punya tenaga untuk membawa motor pulang.
***
Adzan magrib berkumandang, matahari mulai temaram, hanya tersisa jingga merah redup di ujung beranda dapur yang menghadap ke selatan. Pergantian hari itu terasa teramat sunyi seperti pergantian perasaan yang akan ia alami, sepi tak bertepi ….
Menjelang malam, ketika semua kegiatan di dapur usai, Ayu masih bertahan dengan secangkir teh hangat, ia menunggu rembulan muncul. Nampak jelas bintang gemintang mulai berkelip, pertanda bulan masih belum purnama, hanya sesabit sinarnya. Namun tetap menjadi tempat baginya menitip rindu.
Berkali-kali dia menghela nafas. Dia memejamkan mata berpikir keras memilih kata paling indah agar tak menyakiti. Tetap berat baginya untuk mengakhiri semua, namun tetap harus diakhiri.
“Rendra, aku sangat mencintaimu, tak seujung kukupun aku meragukanmu. Kau adalah laki-laki dambaan dan aku bangga menjadi orang yang kau sayangi. Namun jalanmu bukan jalanku.
Aku tak akan sanggup menjalani hari tanpamu, namun aku harus belajar menempuh ini demi bahagiamu. Kutitip rindu dalam do’aku. Semoga segera kau temukan penggantiku.
Maafkan aku, tak mampu menaklukkan waktu untuk berterus terang kala itu.”
Demikian Ayu mengakhiri suratnya, airmatanyapun tak terbendung. Rindunya merindu, namun kini rindu itu terasa sakit bagai tersayat sembilu. Rindunya kini adalah rindu yang harus dia simpan bersama semua kenangan. Besok Ayu harus mengirim surat itu lewat Pos, ia harus mampu melakukannya, harus ….
****
Beberapa hari kemudian, Rendra kembali menelpon. Kali ini bukan pada jam biasanya, pasti dia telah menerima surat Ayu karena sepertinya ia buru-buru menelpon setelah membacanya.
Hari itu kebetulan Ayu masih di sekolah, pada jam istirahat kedua, salah seorang pegawai tata usaha memberitahunya kalau ada telpon dari seseorang.
“Pasti itu Rendra,” gumam Ayu dalam hatinya dan segera bergegas ke ruang TU untuk menerima telepon. Tak lama kemudian telepon kembali berdering, Ayu segera mengangkatnya.
“Hallo,” suara Ayu terdengar parau.
“Ya Hallo Adik. Apa-apaan kau ini?” Mengapa baru sekarang kau berkata seperti itu?” suara Rendra terdengar bergetar.
“Ma’afkan aku abang, sebenarnya aku ingin sampaikan sejak lama tapi aku takut menyakiti abang.” Kata Ayu menjelaskan dengan berderai air mata.
“Tapi tetap saja kau menyakitiku, Adik! Lalu apa arti semua itu? Apa arti kata cintamu? Apa arti kata rindumu? Apa arti yang telah kita lewati? Tega sekali kau Dik!” Tega kau berbohong padaku!” Kata-kata Rendra penuh kesedihan dan kekecewaan, ia terdengar sangat marah.
Ayu mendengarkan semua kalimat Rendra tanpa menyela, ia sengaja membiarkan kekasihnya meluapkan semua kesedihannya. Ayu merasakan kekecewaan Rendra, ia merasakan sakit yang sama persis dirasakan oleh pria pujaannya itu. Rendra tetap tidak mau menerima keputusan Ayu.
“Dik, aku sangat mencintai Adik, aku tak bisa berpisah dengan Adik.” Kata-kata Rendra terdengar parau.
“Aku juga sangat mencintai Abang, aku juga tak mampu berpisah dari Abang. Tapi Jalan kita berbeda, maafkan aku sayang ….” Ayu mengakiri kalimatnya dan langsung menutup telepon.
Telepon itu berdering lagi, namun Ayu sengaja berlari tak mau menerimanya lagi. Ayu tak sanggup berkata-kata apapun kecuali tersedu. Ayu berlari menuju Bu Yona, ia langsung memeluknya, tangisnyapun tumpah. Bu Yona membalas pelukan Ayu sambil menepuk punggungnya. Bu Yona berusaha menenangkan Ayu meskipun dia juga tak mampu menahan air mata merasakan kesediahan sahabatnya itu.
“Sudah Dik, yang sabar …, keputusan ini adalah yang terbaik daripada semakin berlarut-larut. Semakin lama, semakin kasihan kepada Rendra yang terus berharap padahal Adik tak bisa memenuhi semua itu. Relakan, ini untuk kebaikan Rendra juga.” Bu Yona menasehati Ayu dengan sepenuh hati.
“Iya, Bu. Terimakasih atas nasehatnya. Saya merasa lega meskipun sakit dan tak akan mudah bagi saya untuk melupakannya.” Ayu mengusap airmata sembari menghela nafas panjang.
Hari-hari berlalu, Ayu masih merasakan separuh hatinya hilang, tak jarang ia masih terjebak dalam lamunan kenangan manisnya bersama Rendra, kenangan yang ia simpan bersama rekah bunga tembakau yang disetiap musimnya selalu menghadirkan aroma cinta terindah tak terlupakan …, cinta memang tak selalu harus memiliki, tak ada sakit atau menyakiti. Cinta adalah bahagia ketika yang dicinta bahagia, semoga kau selalu bahagia Rendra ….
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
