Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Guru Sepenuh Hati
www.google.com

Guru Sepenuh Hati

Oleh Hermin Agustini

Tantangan hari ke – 135

#menuju 365 hari

#TantanganGurusiana

 

“Kamu yakin tidak ikut rombongan untuk menjamin pelulusan ujian PNS?” tanya sahabatku melalui telepon.

“Aku tidak punya uang sebanyak yang diminta, jangankan sebanyak itu, untuk transporku pulang pergi ke sekolah saja pas-pasan,” jawabku menolak halus ajakannya untuk membayar sejumlah uang pada calo yang mengaku bisa menjamin pelulusan peserta. Selain memang tidak mempunyai uang sebanyak yang dipersyaratkan, orangtuaku selalu mewanti-wanti agar aku tidak tergiur apapapun yang diurus oleh calo.

Ayahku menekankan bahwa kesuksesan tidak bisa diraih secara instant melaikan harus dengan segenap upaya dan do’a bahkan peluh serta air mata, jika aku ditakdirkan lulus dalam ujian PNS pertama ini, berarti Allah memberi tanggungjawab yang wajib aku emban sepenuh jiwa dan raga karena kelak akan kupertanggungjwabkan. Namun jika aku gagal, itupun adalah keputusan terbaik yang harus aku terima dengan tetap bersyukur, karena aku diberi kesempatan untuk belajar lebih baik hingga pantas lulus dalam ujian PNS tersebut.

“Bukan maksudku melemahkan semangatmu, tapi apa ndak eman dengan uang sebanyak itu? kan mending buat modal untuk membuka toko kelontong?” tanyaku pada Ema sahabatku agar dia berpikir ulang dengan keputusannya.

“Aku dan beberapa teman kita yakin, sebab sudah banyak yang sukses, kabarnya, dia punya dukungan dari salah seorang penguasa di kantor pusat. Jika peserta tidak lulus maka uang akan dikembalikan, sayang jika kesempatan baik ini tidak digunakan?” jelas Ema penuh keyakinan.

“Iya juga sih …,” anggukku pelan tak mampu berkomentar apa-apalagi selain berdo’a agar sahabatku tak menyesal nantinya.

Sahabatku dan beberapa orang lain nampak sibuk dengan penuh keyakinan mengurus kelengkapan berkas sebagai salah satu syarat lulus. Sementara aku pasrah dengan apapun hasil yang akan aku terima, itung-itung aku masih baru delapan bulan lulus dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

“Kita besok liat pengumuman bersama ya?” kata Ema penuh semangat dari seberang telepon.

“Ibuku sedang sakit, sepertinya aku nitip saja ya? Nanti sore kuantarkan nomor pesertaku ke rumahmu,”

“Oke, semoga ibu cepat sehat,” do’a Ema menutup telepon.

Akupun beraktifitas seperti biasa, meskipun jujur, aku ingin lulus ujian PNS waktu itu, sebab akan menjadi kebanggaan sekaligus akan menjadi jalan keluar kerumitan ekonomi keluargaku. Namun harapanku tak terlalu menggebu, bisa jadi upaya Ema memang benar, harus ada penguasa yang menjamin kelulusan, tanpa itu, maka mustahil.

“Ah, sudahlah,” gumamku menenangkan hatiku yang mulai goyah. Aku harus tetap yakin, biarlah mereka meminta bantuan kepada yang berkuasa, aku meminta bantuan pada Yang Maha Kuasa.

            Hari beranjak siang, kabar yang kunanti tak kunjung tiba. Tiap kali ada telepon berdering aku berlari, berharap Ema memberi kabar apapun itu. Aku berpikir bahwa Ema dan kawan-kawan telah lulus dan sibuk sehingga tak sempat mengabariku. Semakin siang, hatiku semakin ciut, aku mengira masih belum beruntung.

            “Kriiiiing …! Telepon berdering pada jam dubelas kurang sepuluh, ku kira Ema, ternyata bukan. Telepon itu dari istri kepala sekolahku yang juga ikut ujian. Beliau lulus dan mengabarkan bahwa namaku juga tertera di papan pengumuman.

            “Alhamdulillahirobbil alaamiiin …, pekikku penuh haru hingga tak terasa buliran bening meluncur di sudut bibirku yang tak berhenti bersyukur.

            “Bu, aku lulus ujian PNS!” Pelukku pada ibu yang sakit. Berita gembira itu membuat seisi rumah bahagia. Ibuku berangsur sehat, Ayahku nampak berbinar dalam wibawanya yang tenang. Beliau kembali menasehatiku bahwa semua yang aku raih bukan suatu kesuksesan jika aku belum mampu memantaskan diri sebagai guru yang digugu dan ditiru, beliau berkata, ”Jadilah guru sepenuh hati, atau tidak sama sekali,” 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post