Sebaiknya Sopan
Oleh Hermin Agustini
Tantangan hari ke – 128
#menuju 365 hari
#TantanganGurusiana
Hari ini aku ke sekolah untuk mengerjakan tugas yang tidak bisa dikerjakan di rumah. Aku hadir terlalu pagi, maka akupun menuju perpustakaan untuk menemui beberapa orang guru yang juga bearda di sana. Rupanya hari ini juga ada jadwal pengembalian buku dari siswa kelas delapan.
“Loh, bukunya kok belum disampul?” tanya petugas perpustakaan.
“Lupa, Bu, jawab siswa yang mengembalikan buku tanpa merasa bersalah atu menyesal. Ia hanya membayar pengganti sampul sebesar seribu rupiah tanpa repot menyampul buku yang selama satu tahun ia gunakan dengan gratis.
Sementara itu, Bu Sonya, salah seorang wali kelas delapan menunjukkan percakapan whatsapp dari orangtua siswa yang dengan nada kurang santun mengatakan kalau buku yang dipinjam putranya memang sudah dalam kondisi rusak, sehingga dia merasa keberatan jika harus mengembalikan buku dalam kondisi baik.
“Ma’af, Bu, buku yang dipinjamkan ke anak saya sudah dalam kondisi ‘nyunyut’ (bahasa Jawa, yang artinya rusak berat), Jadi saya keberatan anak saya harus membetulkan buku ke percetakan sampai menghabiskan biaya banyak,” tulisnya.
Tak puas dengan jawaban bu Sonya, maka orangtua murid itu menelpon masih penasaran meski telah dijelaskan bahwa jika ada buku yang rusak, maka siswa tersebut cukup meminta tolong petugas percetakan koperasi sekolah untuk memperbaikannya dengan biaya yang tak sampai sepuluh ribu rupiah. Jika menghilangkan buku, ya wajib mengganti dengan buku yang sama. Hal ini sudah disampaikan pada awal pelajaran baru kepada seluruh orangtua dan wali murid.
Sebagai guru, sekaligus sebagai orang tua, aku bertaya dalam hati, apakah ibu itu tidak menyadari jika putranya telah memanfaatkan buku pinjaman dari perpustakaan itu secara gratis selama satu tahun. Jika kondisi buku dianggap rusak parah, mengapa ibu itu tidak segera mengembalikannya ke perpustakaan di awal waktu? Bukankah jarak rumah ke sekolah sudah cukup dekat dengan sistem zona?
Jika ibu itu merasa keberatan dengan buku yang disebut rusak parah itu, mengapa dia tidak membelikan buku baru untuk putranya? Padahal, hampir semua guru mengenalnya sebagai orang yang mampu untuk membelikan buku putranya.
Ibu itu tidak menyadari bahwa ia telah sangat kejam pada putranya. Dia memberikan contoh tidak baik dengan berbicara tidak santun bahkan cenderung menyalahkan pihak sekolah, yaitu guru. Padahal, kekurangsantunan terhadap guru adalah adab yang kurang baik yang akan menjadi salah satu penyebab ketidak barokahan ilmu pada putranya.
Semoga kelak, putra ibu ini menjadi pria yang sopan sehingga ia mengerti bahwa sikap ibunya keliru. Tetapi jika kelak putra ibu ini tidak mengerti sopan santun bahkan menjadi lebih arogan dari ibunya, semoga si ibu tidak selalu menyalahkan orang lain, karena dia sendiri yang telah menginstal perilaku putranya, dan dia sendiri yang telah menutup kebarokahan ilmu untuk putranya. Semoga aku bisa selalu memberi contoh terbaik untuk anakku juga siswaku. Aamiin ....
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
