Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Akhirnya Mulia
Oleh Hermin Agustini, M.Pd
SMPN 1 Balung. Jember
Enambelas kali panggilan tak terjawab dari Mas Kukuh sengaja Arina abaikan. Ia tahu kalau kakaknya menelephon pasti urusan minta uang.
“Hallo, ada apa Mas? Sudah kubilang, kali ini aku ndak bisa bantu lagi. Bulan kemarin aku sudah menjual kalungku untuk setor utang Mas ke rentenir, katanya itu yang terakhir. Sekarang apa lagi?” akhirnya Arina terpaksa menjawab telepon itu.
“Aku kecelakaan di Bali, dan orang yang aku tabrak meninggal, aku melarikan diri khawatir dikeroyok masa.” Jelas Mas Kukuh dengan suara gemetar.
“Innalillah …, sekarang Mas di mana?” tanya Arina hampir memekik kaget.
“Aku masih bersembunyi di Bali, tolong kirimi transport pulang ke Sidoarjo,” kalimat Mas Kukuh seperti itu terbiasa didengar Arina.
“Mbak Wiwik di mana Mas? Mengapa setiap kali Mas dalam kesulitan, dia tidak mau tau? Istri macam apa itu kok maunya hanya uang?”
“Sudahlah Dik, tolong Mas kali ini saja, sampai di rumah akan aku ceritakan semuanya,” jawab Mas Kukuh seperti biasa jika kepepet.
“Mas, bukan aku tidak mau membantu, tapi sebaiknya Mas menyerahkan diri. Resikoknya terlalu besar Mas, cobalah berpikir jernih. Mungkin ini teguran Allah, cobalah solat dan berpasrah Mas,” jawab Arina berlinang air mata.
Masalah besar ini membuat Arina segera menghubungi semua saudaranya untuk membantu kesulitan Mas Kukuh. Bukan hal yang mudah untuk meyakinkan para saudara, karena tingkah laku mas Kukuh yang selalu menuruti gaya hidup mewah istrinya seringkali menyeretnya ke jurang masalah.
Dengan amat sangat terpaksa, akhirnya empat bersaudara menyetujui untuk menjual seperempat bagian harta warisan orangtua satu-satunya. Cara kekeluargaan pun berhasil ditempuh dengan uang damai kepada pihak korban.
Mas Kukuh akhirnya bisa pulang ke Sidoarjo, namun masalah belum selesai, ternyata mbak Wiwik tidak mau lagi menerima Mas Kukuh sebagai suaminya. Ia memilih hidup bersama lelaki Bali sebagai wanita simpanan. Kali ini Mas Kukuh tersimpuh menangis sejadi-jadinya seperti balita kehilangan mainan kesayangan. Duapuluh tahun pernikahannya harus kandas setelah seluruh peluh, air mata, harga diri dan hatinya terkuras habis. Di saat ia terpuruk tak punya apa-apa, istri yang selalu ia bela meninggalkannya.
“Aku tak bisa hidup tanpamu, Jeng!” teriak mas Kukuh berkali-kali memohon kepada istrinya.melalui HP.
“Ma’af ya, jangan mengganggu aku lagi. Aku sudah menemukan laki-laki yang bisa memenuhi seluruh keinginanku, ndak kere sepertimu,” suara perempuan di ujung telepon membuat Mas Kukuh semakin hilang kendali, ia membenturkan kepalanya ke tembok, ia menangis meraung mengamuk tembok di hadapannya.
“Sudah Mas, istigfar …, istigfar!” ujar Agus adik ketiganya sambil memeluk mas Kukuh erat-erat, sementara mbak Ranti mengambilkan segelas air minum. Arini mengamankan HP mas Kukuh agar tidak dihubungi lagi oleh perempuan iblis yang nantinya akan kembali jika tau Mas Kukuh mempunyai pekerjaan mapan. Tabiat yang sejak lama diketahui seluruh saudara namun tidak bisa berbuat apa-apa karena Mas Kukuh terlampau mencintainya.
“Sudahlah, tidak perlu pikirkan perempuan itu lagi, sudah lama Adik dipermainkan, sudah cukup pengorbananmu untuk mempertahankan keluarga. Namun saat ini kamu harus bangkit. Cari pekerjaan baru,” mbak Ranti mencoba menenangkan Mas Kukuh yang sangat tidak percaya atas kenyataan pahit yang menimpanya.
Pukulan berat ini menyadarkan mas Kukuh. Ia mulai rajin salat dan bertaubat. Pelan tapi pasti, Mas Kukuh berubah menjadi sosok yang lebih baik, dengan pekerjaan sama yaitu menjadi sopir. Namun tidak seperti dulu, ia kini tak pernah lalai menunaikan salat wajib dan menunaikan puasa yang hampir duapuluh tahun ia abaikan. Ia pun menikah dengan seorang janda pemilik warung nasi yang kebetulan sudah naik haji.
Keseharian mereka penuh dengan ketaqwaan kepada Allah SWT hingga mas Kukuh merasa terlahir kembali sebagai kepala rumah tangga yang mendapat perlakuan sebagai mana mestinya. Kepada saudara dan keluarga mas Kukuh menjadi lebih dekat dan lebih perhatian. Tabiatnya yang arogan berangsur hilang.
“Mas dimana?” tanya Arini saat menelpon.
“Aku di perjalanan Dik, tapi masih mampir ke Masjid menunggu salat ashar,” jawab mas Kukuh.
“Alhamdulillah ya Mas, sekarang sudah bisa setenang ini,”
“Iya, aku bersyukur atas musibah yang menghempaskan Mas ke dalam duka dan kesedihan yang amat dalam namun mampu membuka hati Mas, sekarang Mas menangis mengingat duapuluh tahun menumpuk dosa, apakah masih bisa Mas menebus dosa besar yang lalu?” tanya Mas Kukuh terdengar bergetar.
“Percayalah Mas, Allah Maha Pengampun, jangan pernah berkecil hati untuk terus memohon pada-Nya. Pertolongan Allah adalah keniscayaan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
