Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Bersalaman dengan Guru

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-31

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Apa kabar pembaca, kali ini saya kembali tergelitik oleh sebuah persitiwa yang memberi dorongan kuat agar saya segera menuliskannya. Peristiwa yang saya alami sebenarnya bukan pertama kali tapi telah sering kali sejak saya mendapat julukan sebagai guru.

Pada awal mula saya menjadi guru di tahun 1998, kala itu saya tidak merasa heran jika para siswa bersalaman dengan saya masih ragu-ragu untuk mencium tangan. Saya merasa sangat maklum karena usia saya masih sangat muda, yaitu duapuluh lima tahun.

Seiring perjalanan waktu, usia saya tentu semakin bertambah dan siswa yang saya hadapi sama, yaitu usia SMP. Saya menjadi sedikit galau ketika mendapati siswa bersalaman dan mencium tangan guru dengan cara yang menurut saya aneh bahkan terkesan tidak ikhlas. Bukan berarti saya ingin murid saya mencium tangan saya, karena bagi saya sebenarnya tidak berpengaruh apakah siswa mencium tangan atau tidak. Apalagi di masa pandemic corona seperti ini, maka tidak disalami atau dicium tangan malah lebih baik.

Lah, trus mengapa merasa galau? Tentu saja, saya sebagai guru merasa risau melihat fenomena cara bersalaman yang menurut saya malah terkesan terpaksa atau tidak ikhlas. Mengapa saya sebut tidak ikhlas? Karena saya sendiri jika bersalaman dengan guru, baik beliau pernah mengajar langsung maupun tidak, pada saat saya bersekolah, maka saya mencium tangan beliau dengan sopan dan memang benar-benar mencium tangan guru bukan seolah-olah mencium tangan guru. Cara itu saya lakukan dengan keyakinan akan mendapat kebarokahan ilmu dari sang guru.

Ayah saya pernah menasehati agar dalam hidup kita menghormati Bhepak, Bhebuk, guru, Ratoh ( bahasa Madura yang artinya, ayah-ibu, guru dan pemimpin ). Kepada semuanya, kita wajib menghormati dan beradap sopan santun.

Kepada ayah dan ibu, kita wajib menghormati karena beliaulah yang telah melahirkan dan membesarkan kita dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ridho Allah ada pada keduanya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis yang artinya :

Dari Abdullah bin Umar r.a. berkata, Rasulullah saw, bersabda : “Keridhoan Allah itu di dalam keridhoan orang tua dan kemarahan Allah itu di dalam kemarahan orang tua.” (HR. al-Tirmidzi )

Hadis tersebut memberi seruan agar selain menghormati, kita juga perlu mendapat kerelaan atau ridho dari kedua orang tua kita.

Siapa orang tua kita? Ayah saya mengisahkan, bahwa yang dimaksud orang tua adalah beliau yang telah melahirkan dan mengasuh kita di rumah. Dan pada saat kita menempuh pendidikan, maka yang berperan sebagai orang tua kita adalah bapak dan ibu guru yang membimbing kita dalam memperoleh ilmu. Guru berperan penting dalam mendidik kita. Guru memiliki tugas yang sangat mulia, yaitu selain sebagai, guru juga berperan sebagai pendidik, baik guru di sekolah maupun di luar sekolah.

Sekelumit kisah yang saya pahami dari Ayah, tetap menjadi inspirasi bagi saya untuk tetap bersopan santun dan beradab baik kepada orang tua, guru dan pemimpin di manapun saya berada dengan harapan, apa yang saya lakukan bisa memberi teladan kepada anak-anak saya, juga kepada siswa saya.

Semoga seiring kemajuan jaman tidak akan menggerus adab sopan santun agar kita, anak-anak kita, dan generasi penerus yang akan datang tetap menjadi pribadi dengan budi pekerti luhur. Aamiin …

Balung, 29 Agustus 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post