Jalan Kenangan
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-32
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Di sepanjang jalan tanah berkerikil, debu berhamburan ketika motor bermerk Honda melaju di atasnya. Wayan dan Ana seolah tak terganggu dengan motor yang sesekali oleng menghidari gundukan pasir. Tawa renyah senda gurau mereka menjelmakan jalanan itu seindah jalan setapak penuh bunga di kiri kanan. Terik matahari tak terasa seolah sinar bulan di malam purnama. Wayan dan Ana sedang jatuh cinta.
Panah cinta melesat tepat di jantung mematikan logika keduanya. Tak ada celah bagi sedih yang bisa mengusik kebahagiaan mereka. Bagai Galih dan Ratna, mereka menempuh kuliah dengan penuh semangat dan suka cita, saling mendukung saling memahami dan saling menyemangati menuju wisuda bersama, tidak boleh ada yang tertinggal. Harus bersama, cinta tak memberi kesempatan bagi mereka untuk berpikir perbedaan.
Jalan berdebu telah tertutup aspal tanpa debu. Persawahan berganti perumahan. Ana menyusuri jalan itu perlahan, ia berhenti tepat di depan sebuah rumah yang tak asing baginya, sebuah rumah kost di mana Wayan selalu menyambut dengan tawa rekah siap berangkat kuliah bersama. Ana membuka kaca mobilnya dengan senyum terkulum rindu. “Cari siapa,Bu?” sebuah sapaan menyadarkannya dari lamunan duapuluh tahun silam. “Semoga kau juga bahagia, Wayan,” gumam Ana seraya mengangguk dan menutup kaca mobilnya, ia pun berlalu meninggalkan jalan penuh kengangan itu.
Balung, 30 Agustus 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan