Mahkota Palsu 11
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-16
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
“Apa yang kamu cari, Nela?” tanya Uti sembari duduk mendekati Nela di kasur. Sementara Yanti masih dalam pelukan mamanya. Uti tidak melanjutkan ucapannya, ia tidak ingin cucunya mendengar pembicaraan para orang tua yang tidak akan dipahaminya.
“Yanti ganti baju dulu ya? Sekalian makan siang,” Uti membimbing Yanti mengajaknya berganti baju dan makan siang. Tugas Akung untuk melanjutkan pembicaraan dengan mbak Nela.
“Ibumu benar, sebaiknya kamu pikirkan baik-baik keputusanmu untuk tinggal sendiri di saat menjanda seperti ini, padahal anak-anak hidup bersama kami. Apa kata orang nanti?” kalimat Akung prihatin.
“Kenapa Ayah memikirkan kata orang lain? Lagi pula anak-anak yang terlalu manja, mereka sendiri yang maunya tinggal bersama Akung dan Uti, tinggal di sini kan dekat dengan sekolah mereka ndak usah repot-repot antar jemput.”
“Jangan salahkan anak-anakmu!, mereka merasa nyaman bersama Akung dan Uti bukan karena kami memanjakan mereka, tapi karena kami memperhatikan mereka. Sekarang Ayah tanya, apa selama ini kamu memperhatikan anak-anak sepenuh waktumu? Selama suamimu sakit, kamu masih sibuk dengan dirimu dan kegiatan-kegiatanmu. Urusan anak-anak kamu serahkan adikmu Fatma,” suara Akung mulai bergetar menahan emosi pada anak sulungnya yang keras kepala itu.
“Tapi, Kung …,” kata Nela terputus.
“Jangan menyela, Ayah belum selesai bicara, tolong dengarkan baik-baik lalu kamu pikirkan,” Akung mulai geram.
“Kamu sebenarnya sibuk apa? Arisan? Ikut kursus rias pengantin? Mana hasilnya? Kenapa tidak kamu perhatikan saja anak-anakmu yang sudah mulai remaja? Lihat si Dewa, dia sekarang sering keluar malam bahkan menginap di rumah temannya sampai pagi. Pernahkah kamu sekali saja mengkhawatirkan anak-anakmu? Pernahkan kamju mencari keberadaan Dewa? Pernahkan kamu memperhatikan rasa kehilangan anak-anak ditinggal ayahnya? Pernahkah?” pertanyaan Akung yang bertubi-tubi membuat Nela hanya tertunduk karena kenyataannya memang demikian.
“Anak-anak tidak akan lepas dari kamu jika kamu bisa memberi kasih sayang dan perhatian utuh pada mereka, sudah waktunya kamu memikirkan masa depan anak-anakmu,” Akung menghela napas dalam-dalam menahan emosinya.
“Dulu aku belum sempat kuliah sudah sudah harus menikah, salahkah jika saat ini aku ingin menikmati kebebasanku untuk sekedar mengambil kursus keterampilan agar aku bisa punya penghasilan tambahan?” Nela mulai menangis.
“Jadi kamu menyalahkan Ayah dan Ibu atas keputusan menikahmu? Bukankah dulu kamu sendiri yang memilih menikah daripada kuliah? Sudahlah, bukan saatnya untuk mengungkit masa lalu dan saling menyalahkan. Saat ini, anak-anakmu lebih penting” Kata Akung dengan suara yang sengaja direndahkan agar emosinya tertahan.
“Pulang ke rumah lebih terhormat daripada kamu sendiri di sini, apalagi anak-anakmu sangat butuh perhatianmu, Nela!”
“Aku mau pulang kalau dibuatkan rumah jahit dan salon,” Nela melancarkan tuntutan seperti anak kecil. Begitulah dia, selalu memikirkan apa yang dia mau. Apakah orangtuanya akan menuruti semua permintaan itu? ( Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
