Mahkota Palsu 12
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-17
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Setelah pembicaraan panjang untuk menyadarkan Nela agar mau pulang bersama orang tua dan anak-anaknya, Akung kelihatan mengerutkan kening bertanda tidak lega. Uti bisa membaca raut muka Akung, laki-laki sepuh yang meskipun tampak tenang tetapi menyimpan beban pikiran yang mengganggunya.
Akung duduk di beranda rumah Nela yang menghadap ke jalan utama di desa itu. Akung melihat ke sekeliling lingkungan memang merupakan tempat strategis seumpama membuka usaha karena posisi rumah memang menguntungkan, di dekat sebuah perempatan jalan. Di kiri kanannya berdiri beberapa toko kelontong dan warung.
Akung kembali menghela napas dalam-dalam, hatinya mengakui pendapat dan keinginan Nela membuka usaha di tempat itu memang benar. Tetapi berat baginya untuk membiarkan putri sulungnya itu hidup sendiri sebgai janda muda, apalagi anak-anak lebih memilih bersama Akung dan Uti meski ke sekolah menjadi lebih jauh. Anak-anak lebih menikmati lingkungan bermain di lingkungan rumah akung dan uti yang lebih tenang.
“Kung …,” panggil Uti sembari membawakan secangkir kopi panas dan sepiring kecil pisang goreng. Akung yang sedang berdiri di tepi jalan menoleh ke arah istri setianya yang selalu telaten dan sabar mendampingi hidupnya. Kesetiaan wanita sepuh ini telah teruji semasa dahahu Akung harus berbulan-bulan bertugas sebagai tentara, Uti menjaga anak-anak dengan penuh kasih sayang dan rasa tanggungjawab. HIngga kini, rasa itu tak pernah berubah.
Akung kemudian duduk di samping Uti untuk menikmati kopi panas dan pisang goreng sembari mengobrol.
“Bagaimana hasil pembicaraan Akung dengan Nela tadi?” Uti memulai perbincangan.
“Entahlah, Ti …, bukankah sejak kecil dia selalu diajarkan rasa tanggungjawab dan kasih sayang? Mengapa setelah menikah dia berubah seperti ini ya? Cenderung egois dan kurang dalam memperhatikan anak-anak. Tadi dia bilang mau pulang asal dibuatkan rumah jahit dan salon. Dia ingin buka usaha untuk menambah penghasilannya, karena uang pensiun suaminya tidak cukup.” Jelas Akung.
“Memangnya Akung ada uang untuk membuatkan permintaan Nela?” tanya Uti prihatin karena Uti tau persis keuangan Akung. Meskipun ada tabungan, namun tabungan itu untuk biaya naik haji.
“Mau tidak mau harus kita buatkan Ti …,” jawab Akung sembali menyeruput kopinya.
“Uang dari mana Kung?” Uti resah.
“Hmmmm …, kita ikhlaskan tabungan haji ya Ti …,” ucap Akung berat, apalgi melihat Uti yang tertunduk. Akung paham dengan buliran bening di pipi keriput itu pertanda berat. Uti tidak menjawab apa-apa. Hanya terdiam bersama buliran bening yang tak mampu ia tahan.
Akankah Uti menyetujui rencana Akung? ( Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
