Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 13
www.google.com

Mahkota Palsu 13

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-20

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Cerita sebelumnya :

Uti menangis ketika Akung memintanya mengikhlaskan tabungan mereka untuk rencana naik haji digunakan untuk memenuhi permintaan putri sulungnya.

***

“Akung paham perasaan Uti, memang berat jika kita harus menggunakan uang tabungan itu. Tetapi Akung khawatir jika anak kita tidak kita bantu nanti malah melakukan hal yang lebih keliru. Akung takut nanti di akhirat perkara ini akan memberatkan kita,” Akung melingkarkan pelukannya ke pundak perempuan yang dalam pandangannya tampak tetap cantik meski keriput mulai membalut. Uti hanya mengangguk lemah sembari menghela napas panjang untuk meredakan air matanya.

“InshaAllah Uti ikhlas Kung, kita memang tidak punya pilihan. Semoga dengan jalan ini anak kita bisa menjadi lebih baik. Semoga Akung sehat dan panjang umur, bismillah …, nanti kita menabung lagi,” kalimat-kalimat Uti selalu menentramkan.

Akhirnya, Akung dan Uti harus merelakan tabungan mereka satu-satunya demi memenuhi permintaan Nela. Keputusan ini bukan untuk memenangkan keegoisan Nela melainkan lebih untuk mendekatkan Nela kepada mereka dan anak-anak agar Nela lebih bisa bertanggungjawab dan terkontrol dalam bergaul dengan siapapun, terlebih dengan status janda muda, keputusan berat ini justru untuk menaklukkan keegoisan Nela.

Akung memutuskan garasi di renovasi menjadi salon dan sayap kiri rumah menjadi rumah jahit. Akung harus memutar otak agar tak terlalu banyak biaya yang dikeluarkan untuk merenovasi rumahnya. Untung saja rumah akung memang sudah cukup besar dengan halaman yang luas, sehingga cukup leluasa untuk merenovasinya.

Rumah besar yang berbentuk huruf ‘L’ itu akhirnya terbagi dua, bagian depan menjadi ruang utama tempat Akung dan Uti beserta anak-anak, sementara bagian ‘L’ nya yang memanjang menjadi rumah jahit yang dilengkapi dengan dua kamar serta satu dapur dan kamar mandi untuk Nela. Sedangkan garasi di ujung paling barat, menjadi salon. Kini rumah itu tak lagi sepi.

Mau tidak mau akhirnya Nela menurut dengan keputusan orangtuanya. Ia menjalani kehidupan bersama orangtuanya seperti dulu lagi, tentu saja, ia juga mendapat pengawasan dari sang Ayah dalam setiap langkahnya meskipun pengawasan itu tidak seketat saat ia masih kanak-kanak. Saat ini, ia hanya mendapat pengawasan semestinya saja karena ia sudah cukup dewasa sebagai ibu dari dua orang anak.

Hasil jahitan Nela yang lumayan bagus di wilayah desa itu sebenarnya sudah mulai dikenal beberapa pelanggan, namun kebiasaan Nela yang masih sibuk berkumpul teman-temannya entah arisan atau perkumpulan apapun yang selalu menjadi alasannya agar bisa keluar rumah membuat para pelanggan yang tidak sabar tidak mau lagi berlangganan karena Nela kurang tepat waktu dalam menyelesaikan jahitannya, lagi pula ia sering tidak bisa ditemui.

Para pelanggan mulai kembali ke langganan lama mereka di kecamatan, yang meski agak jauh dari desa tetapi tidak perlu lama menunggu dan jelas kapan selesainya. Sementara salonnya, lebih sering Fatma yang melayani pelanggan jika ia kebetulan sedang di rumah jika hari Minggu atau hari libur lainnya. Meskipun Fatma tidak mengikuti kursus seperti kakaknya , namun ia bisa menyerap ilmu keterampilan memotong rambut dan merias dengan hanya melihat ketika ia dijadikan model oleh kakaknya.

Seperti itulah Fatma, selalu menjadi jalan keluar bagi Nela. Padahal Fatma tak lepas dari tugas-tugas perkuliahan yang sedang ia tempuh. Akan tetapi, hati perdulinya membuat ia mampu membagi waktu dengan baik demi keluarga yang ia sayangi, terlebih kakaknya yang tak pernah bisa berpikir dewasa. Sehingga dalam keseharian, kelihatan jika Fatma yang lebih bisa berpikir dewasa dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.

Fatma sangat menyayangi mbak Nela, demikian pula sebaliknya. Mbak Nela merasa lebih banyak bergantung kepada adiknya yang bisa ia andalkan untuk membantunya menemani anak-anak maupun dalam mencari jalan keluar beberapa permasalahan yang dihadapinya. Fatma sangat memaklumi kemampuan berpikir mbak Nela, ia anggap mungkin latar belakang pendidikan mbak Nela yang hanya lulusan SMA memang berbeda jauh dengannya yang sedang mengenyam bangku perkuliahan.

Meskipun tidak semua lulusan SMA seperti itu, karena banyak orang-orang yang bahkan tidak bersekolah tetapi memiliki karakter yang baik dan mampu persikap dewasa. Mbak Nela hanya segelintir orang dengan karakter seperti itu mungkin memang karena watak dasarnya yang begitu. Tak jarang Fatma memberi nasihat kepada kakaknya, seolah ia yang lebih tua.

“Mbak, siapa laki-laki yang sering mbak temui di depot sate dekat pasar? Aku rishi jika mbak menjadi bahan gunjingan orang kampung dan saudara-saudara,” Fatma tak dapat menahan lagi rasa penasaran akan laki-laki yang sering ditemui diam-diam oleh kakaknya. Siapakah dia? ( Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post