Mahkota Palsu 14
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-21
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Cerita sebelumnya:
“Mbak, siapa laki-laki yang sering mbak temui di depot sate dekat pasar? Aku rishi jika mbak menjadi bahan gunjingan orang kampung dan saudara-saudara,” Fatma tak dapat menahan lagi rasa penasaran akan laki-laki yang sering ditemui secara diam-diam oleh kakaknya.
***
“Laki-laki mana? Aku ndak pernah ketemu-ketemu dengan laki-laki,” jawab Nela tanpa menoleh mencoba sembunyikan sesuatu dari adiknya, karena dia tau adiknya akan bicara panjang lebar jika ia mengatakan hal yang sejujurnya.
“Mbak, jangan mengelak seperti itu, orang-orang sudah banyak yang tau tentang hal ini. Kalau dia memang orang baik-baik, mengapa tidak disuruh datang ke rumah saja?” Fatma mulai menyelidik.
“Dia orang baik kok, kamu kenal dengan orang itu,” akhirnya mbak Nela mengatakan yang sebenarnya.
“Nah, apalagi kalau aku mengenalnya, kan lebih pantas jika bertemunya di rumah saja, mbak?”
“Dia Cuma mampir sebentar untuk ngajak mbak makan, dia orangnya sibuk, ndak punya waktu untuk ngobrol lama-lama,” jawab mbak Nela.
“Siapa sih, Mbak?” Fatma tetap penasaran.
“Mas Bram, kamu kenal dengan dia, kan? Orangnya baik sejak almarhum masih dinas,” Mbak Nela mulai membuka sosok laki-laki yang selama ini ia tutupi.
“Nah apalagi kalau orang seperti Mas Bram, kan ndak ada salahnya toh mbak diajak mampir ke sini?”
“Istrinya cemburuan!” ujar mbak Nela menyiratkan emosi.
“Kalau tau istrinya cemburuan kenapa mbak mau bertemu Pak Bram? Kan lebih tidak baik dalam pandangan orang mbak?”
“Dia hanya bersimpati dan merasa kasihan saja ke mbak sebagai istri sahabatnya yang sudah seperti saudara sendiri, ndak ada apa-apa antara mbak dan Mas Bram,” Mbak Nela menjelaskan.
“Mbak, jangan mencari-cari masalah, laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dan tidak ada urusan pekerjaan atau bisnis sering bertemu makan bersama di depot atau warung akan menimbulkan prasangka kurang baik, apalagi status mbak sebagai janda muda saat ini, pasti akan banyak orang menilai negative mbak,” Fatma mulai bicara panjang lebar.
“Halah, sudahlah, persetan dengan kata orang, aku sedih orang ndak tau, bisanya hanya menyalahkan saja. Biarkan saja apa kata orang yang penting aku dan Mas Bram tidak ada hubungan apa-apa,” ketus mbak Nela.
Fatma hanya menghela napas, kalimat-kalimat kakaknya sama sekali tidak ambil pusing dengan penilaian masyarakat. Dia selalu merasa benar.
“Makanya aku malas pindah ke sini bersama Akung-Uti karena di sini para tetangga sok ngurusi urusan orang lain. Tempatnya juga tidak strategis, buktinya usaha mbak ndak maju dan selalu sepi pelanggan,” gerutu Nela.
“Sebenarnya bukan begitu mbak, coba mbak gak sering keluar rumah, para pelanggan kan ndak kembali. Kalau menurut perkiraanku, saat ini mereka kembali ke langganan lama meski lebih jauh tapi orangnya selalu ada,” Fatma mencoba meluruskan jalan pikiran kakaknya.
“Jadi kamu juga menyalahkan mbak?” tanya Nela ketus.
“Kenyataannya kan begitu mbak ?” Fatma mulai kesal dan beranjak meninggalkan mbak Nela yang masih asyik dengan hapenya bukan mengerjakan jahitan para pelanggan yang telah lama meletakkan bahan kain agar dijahit menjadi baju. Dalam hati Fatma mulai bertanya-tanya seperti apa hungungan mbak Nela dengan Mas Bram dan mengapa mereka harus bertemu secara diam-diam? ( Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
