Mahkota Palsu 15
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-22
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Cerita sebelumya:
Fatma mulai kesal dan beranjak meninggalkan mbak Nela yang masih asyik dengan hapenya bukan mengerjakan jahitan para pelanggan yang telah lama meletakkan bahan kain agar dijahit menjadi baju. Dalam hati Fatma mulai bertanya-tanya seperti apa hungungan mbak Nela dengan Mas Bram dan mengapa mereka harus bertemu secara diam-diam?
***
Fatma tidak habis pikir mengapa mbak Nela seperti itu, setahunya mbaknya sering menerima telephon dari seorang duda beranak dua dari kota Gresik, bahkan mereka sangat intens dalam komunikasi meskipun lewat telpon. Tak jarang Fatma mendapati mbaknya berbincang berjam-jam dengan Mas Tiyok, panggilan akrab laki-laki itu.
Belum lagi ada tetangga yang menjadi pelanggan tetap, Pak Ibnu yang masih punya hubungan family sering datang mengobrol ke rumah jahit ketika mbak Nela di rumah, padahal ibu-ibu pelanggan yang lain tidak begitu. Pak Ibnu biasa membawa bahan banyak agar dia bisa sering bertemu mbak Nela, dari tatapan mata dan cara mengobrolnya kelihatan agak aneh. Pak Ibnu terlalu sering menemui mbak Nela, padahal dia sudah beristri.
Akung dan Uti mulai risau, sehingga merasa perlu menanyakan hal serius kepada mbak Nela. Akung mulai sering menyapa tamu-tamu mbak Nela yang membuat mbak Nela merasa kurang nyaman.
“Aku bukan anak kecil lagi, Kung, aku ndak enak jika diawasi seperti anak remaja. Aku bisa menjaga diri Kung,” Ucap mbak Nela merajuk seperti anak kecil.
“Ayah paham jika kamu memang sudah bisa bertanggungjawan pada dirimu sendiri, tetapi sebagai orang tua, Ayah merasa perlu tau dengan siapa saat ini Nela bergaul. Ayah melihat diantara para tamu mengapa lebih banyak tamu laki-laki daripada perempuannya? Apalagi si Ibnu, bukankah lebih baik istrinya yang mengantar bahan daripada dia sendiri yang kesini dan berlama-lama denganmu?” Akung mulai mengungkap keresahan hatinya.
“Aku ndak ada hubungan apa-apa dengan Pak Ibnu, dia hanya pelanggan sama dengan yang lain,”
“Iya, Ayah paham, tapi tetap saja kuranga baik di pandangan orang lain dan para tetangga degan kibiasaanmu ini, Nel?” sahut Akung.
“Mengapa harus selalu rishi dan tidak enak dengan pandangan orang? Apakah mereka perduli jika aku ndak punya uang belanja? Apa mereka bisa mencukupi kebutuhanku?” cerocos Nela memprotes.
“Astagfirullah …, Nela jaga uacapanmu!” seru Akung.
“Ndak pantas kamu berbicara seperti itu. Kita hidup tidak sendirian, kita ada di lingkungan masyarakat dan saudara-saudara yang masih saling perduli satu dengan yang lain. Sudah sewajarnya jika kebiasaanmu ini mengundang tanya dan prasangka yang negative apalagi kini statusmu janda muda,” sambung Akung panjang lebar sementara Nela hanya menunduk kesal. Tak tampak diwajahnya rasa bersalah.
“Jika kamu memang berkehendak berkeluarga lagi, Ayah dan Ibu tidak akan menghalangi dengan satu syarat penting, jagan suami orang. Perhatikan baik-baik latar belakangnya, dan yang terutama harus sayang dengan anak-anakmu,” Akung mengakhiri kalimatnya sambil berlalu meninggalkan Nela yang entah apa yang sedang ia pikirkan. Apa ia ingin bersuami lagi? ( Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
