Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Mahkota Palsu 16

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-23

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Cerita sebelumya:

Akung meninggalkan Nela yang masih termangu bingung memikirkan kata-kata Akung yang serius mengingatkannya. Sebenarnya Nela masih lebih menikmati kebebasaanya sehingga bisa bergaul dengan siapapun yang ia mau. Namun ia paham betul bahwa Akung mulai tidak berkenan.

***

Nela mulai berpikir siapa yang akan ia jadikan pendamping hidupnya. Mas Bram memang baik dan lembut serta penuh perhatian, sebenarnya telah ada rasa sejak almarhum masih dinas. Antara Nela dan Mas Bram sering mencuri-curi kesempatan bersama di saat ada kepentingan ke kantor. Ketika suami Nela meninggal, kesempatan seolah terbuka lebar, apalagi Nela yang tampak menikmati setiap kebersamaan dengan Mas Bram. Namun sayang, mas Bram masih berstatus sebagai suami orang.

Sedangkan Pak Ibnu meskipun intens menemuinya dan sangat memperhatikan serta menjadi tempat curhat bagi Nela akan ditolak mentah-mentah oleh Akung dan Uti, selain masih ada hubungan family, ia juga suami orang. Tetapi bersama pak Ibnu, Nela merasa tenang dan nyaman.

Cerah pagi menghangatkan bumi, mengusir bulir embun di ujung dedaunan. Kicau burung prenjak di antara ranting pepohonan seolah menyapa warna warni bunga bougenvile di halaman luas yang teduh dan sejuk. Namun pemandangan seindah itu tak mampu menyjukkan pikiran Nela yang bingung. Suara prenjak berkicau serasa bising membuatnya semakin pening memikirkan laki-laki mana yang akan ia pilih sebagai pendamping hidupnya.

Tiba-tiba ringtone khusus di hape Nela berbunyi mengagetkannya. Tentu saja dia segera mengangkat telepon tersebut dengan senyum seolah semua beban pikirannya sirna. Seperti biasa, ia akan mencari tempat nyaman untuk menerima telepon tersebut karena Mas Tiyok pasti akan mengobrol lama.

“Mas, aku ditanya Bapak kapan aku mau menikah lagi,” kalimat Nela meluncur begitu saja tanpa dipikir apa akibatnya.

“Trus jawabanmu apa Jeng?” tanya Tiyok.

“AKu belum menjawab apa-apa sebab aku belum memutuskan untuk menikah lagi,” jawab Nela.

“Loh kenapa?” tanya Mas Tiyok.

“Menikah denganku saja ya?” Kalimat yang muncul juga tanpa dipikir. Antara Nela dan Tiyok sepertinya sama-sama betah saling mengumbar rayuan dan kata mesra yang sebenarnya bukan tulus dari hati masing-masing. Tiyok banyak membicarakan hal muluk-muluk, demikian juga Nela. Jika mereka mengobrol sering lupa waktu seolah telah terbang ke awan di langit ke tujuh.

Bagai raja dan ratu, mereka membicarakan rencana indah dalam buaian mimpi dunia maya yang bagi mereka nyata. Tiyok, duda beranak dua itu selalu membanggakan kekayaan dari hasil tambak yang kelak menjadi sumber masalah karena semua hanya bualan belaka.

“Aku ini bukan laki-laki pengecut yang Cuma bisa gombalin cewek,” kata Tiyok meluncur begitu saja.

“Kalau begitu buktikan saja, Mas …lamar aku ke orangtuaku,” Nela berbicara tanpa pikir panjang. Padahal ia belum bertanya kepada anak-anak apakah mau jika ia menikah lagi. Siapa pula sosok Tiyok sebenarnya. Entahlah, mereka berbicara tanpa ada beban, semua bebas mengalir.

Akankah Tiyok yang akan menjadi pilihan Nela? (Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post