Mahkota Palsu 18
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-29
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Cerita sebelumya :
. Pada Minggu pagi itu Nela bersiap untuk berangkat keluar rumah dengan tujuan untuk acara merias manten, namun serasa janggal karena Nela tidak membawa peralatan rias. Pertanyaan-pertanyaan Fatma bisa dijawab dengan sangat logis dan meyakinkan. Tetapi Fatma merasa penasaran karena kali ini, ia merasa kalau kakak cantiknya itu sedang menyembunyikan sesuatu.
****
“Aku antar ya Mbak,” seru Fatma sembari buru-buru mengambil motor dan helm, ia tidak memperdulikan Nela, kakaknya yang tidak berkenan ia antar.
“Tapi mbak sudah pesan ojek, kan ndak enak …,” Nela masih mengelak.
“Siapa sih tukan ojeknya?” tanya Fatma.
“Pak Nunung, langganan mbak,” Nela menjawab sambil melongokkan kepalanya berharap pak Nunung segera datang. Di hatinya galau jika sampai Fatma yang mengantarkannya.
“Oh, biar adik yang urus pak Nunung nanti, ayok mbak aku antar, katanya tadi buru-buru?” Fatma terus berusaha agar ia dapat mengantar mbak Nela demi rasa penasaran hatinya. Akhirnya Nela berhasil ditaklukkan juga, dengan langkah berat ia menurut apa kata Fatma.
Sesampai di kecamatan, Nela turun dengan wajah yang kehilangan konsentrasi. Fatma sangat hafal dan bisa membaca kegalauan hati kakaknya itu.
“Kamu pulang aja, mbak nggak apa-apa di sini sendiri menunggu bu Retno,” kata Nela berusaha supaya adiknya pergi meninggalkannya sendiri. Sementara Fatma tidak kehabisan akal untuk tetap bertahan menemani kakaknya.
“Ndak apa-apa mbak, aku mau menunggui mbak sampai yang menjemput datang, lagian aku sudah kangen dengan bu Retno sudah lama tidak bertemu sejak tidak jadi model,” Fatma terus mencari alasan agar ia bisa bertahan menunggu sang penjemput mbaknya datang. Fatma bisa merasakan kekesalan mbaknya yang disembunyikan.
Beberapa saat kemudian berhenti sebuah mobil menghampiri Nela dan Fatma. Kaca mobil dibukan dan Fatma melihat bahwa Mas Bram yang menjemput mbaknya. Nela hampir salah tingkah namun tetap berusaha tenang.
“Loh, mana Bu Retno?” tanya Fatma penasaran.
“Bu Retno sudah berangkat lebih pagi sebab anggota keluarga pengantin yang harus dirian banyak,” jawab Nela buru-buru naik ke mobil Mas Bram lalu mereka berlalu. Fatma hanya bisa melambaikan tangan sambil berseru agar mbaknya hati-hati. Ia pun pulang dengan perasaan bingung, mengapa mbak Nela masih keluar dengan Mas Bram padahal sedang merencanakan pertunangan bersama mas Tiyok.
Fatma tak habis pikir, ia pulang dengan perasaan gundah. Haruskah ia sampaikan pada Akung peristiwa tadi pagi? Tetapi tak mungkin sebab Fatma khawatir kakaknya mendapat amarah dari Akung yang akhir-akhir ini memang menjadi lebih sering marah jika menghadapi Nela yang selalu mempunyai seribu macam alasan agar bisa meloloskan diri pergi dari rumah untuk urusan yang tidak jelas.
Fatma memilih untuk diam dan menunggu sampai mbak Nela pulang. Akan banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan pada Nela. Fatma diliputi rasa khawatir karena kakaknya berjalan berdua dengan seorang laki-laki yang berstatus suami orang. Fatma merasa sangat khawatir namun tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun karena ia harus tau persis apa yang sebenarnya terjadi antara mbak Nela dengan Mas Bram. Lagi pula Fatma tidak ingin kakaknya mendapat amarah besar dari Akung.
Hari menjelang siang, Fatma berusaha untuk tetap tenang dan tidak memikirkan kakaknya yang dia anggap telah cukup dewasa dan bisa bertanggungjawab atas semua tindakannya. Tak lama kemudian, hape Fatma berdering, panggilan dari Mbak Nela.
“Dek …, tolong segera temui mbak di rumah mbak Cicik, cepetan jemput mbak,” Nela menelpon sambil menangis.
“Ada apa mbak? Mbak kecelakaan?” pekik Fatma kaget.
“Kamu datang saja, nanti mbak jelaskan …,” tangis Nela menjadi. Tanpa berpikir panjang Fatma bergegas untuk menyusul kakak yang ia sayangi. Dia berpamitan pada Akung dan Uti bahwa kakaknya butuh dia jemput.
Apa yang sebenarnya dialami Nela? (Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan