Mahkota Palsu (2)
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-7
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Pelajaran usai, Fatma masih duduk lesu di bangku guru, langkahnya serasa berat menuju ruang guru. Matanya sembab, ia ingin menangis puas tersedu namun tertahan karena masih banyak bapak-ibu guru yang lain. Fatma memasuki ruang guru tanpa sapa cerianya seperti biasa. Dia tertunduk lesu dan segera menuju bangkunya untuk segera menelungkupkan wajah di meja kerja. Ia menutup wajah dengan jilbabnya. Hanya isak kecil yang membuat bahunya sesekali terguncang.
Bu Lestari, guru senior tempatnya mengadu sebagai sahabat yang telah seperti ibunya sendiri itu langsung paham jika Fatma sedang ada masalah dengan saudara-saudaranya. Maka ia pun mendekatinya, “Sudah istigfar…,” selalu itu yang pertama kali ia ucapkan setiap kali menenangkan Fatma.
Fatma hanya mengguk tanpa menatap Bu Lestari karena khawatir tangisnya menjadi. Fatma berusaha menenangkan dirinya dengan menarik nafas dalam-dalam dan mengucap istigfar sebanyak ia mampu. Pikirannya kembali pada kenangan betapa ia adalah saudara paling dekat dengan Mbak Nela yang terpaut duabelas tahun lebih tua daripadanya. Maklum, karena setelah mbak Nela, ada Mas Rahmad sebagai kakak nomor dua, Fatma lalu Agus sebagai anak ragil.
Fatma sangat dekat dengan kakak perempuannya, demikian juga dengan mbak Nela sangat sayang pada Fatma sejak Fatma kecil, karena memang mbak Nela yang selalu menemai Fatma sebagai saudara tertua yang harus bertanggungjawab pada adik-adiknya.
Sejak remaja sampai mbak Nela menikah, kedekatan dua saudara itu tetap lekat. Ke mana-mana Fatma selalu ikut dengan mbak yang sangat ia sayangi. Meski tak pernah dimanjakan, namun Fatma selalu merasa nyaman berada di dekat mbak Nela. Apalagi suami mbak Nela adalah orang yang sangat pengertian dan perhatian pada semua anggota keluarga mbak Nela. Sehingga Fatma malah seperti anak sulung keluarga mbak Nela.
Mbak Nela yang cantik dan selalu berpenampilan menarik memang selalu banyak berteman terutama dengan para bapak-bapak bahkan teman sekantor Mas Priyo suaminya. Mbak Nela seperti menikmati dipuja-puja karena selain kecantikannya, mbak Nela memang pandai memasak dan terampil sehingga semakin terkenal dikalangan masyarakat. Mbak Nela seolah bagai primadona kecamatan waktu itu.
Mbak Nela sangat tersanjung dengan pujian-pujian meski dari lelaki yang hanya sekedar menggodanya. Namun Mas Priyo adalah suami yang sangat sabar dan tidak pernah cemburu dengan tabiat mbak Nela. Si Fatma yang masih berusia delapan tahun juga belum paham dengan kebiasaan berteman mbak Nela yang terlalu bebas bagi perempuan yang sudah menikah. Mas Priyo selalu berpikir positif dan selalu memanjakan apapun yang menjadi keinginan mbak Nela.
Keluarga mbak Nela yang dikaruniai dua orang anak, si Dewa dan Si Yanti, membuat keluarga mereka semakin nampak bahagia. Bukan karena mbak Nela yang bisa berperan sebagai istri yang baik, namun karena Mas Prio yang bisa meutup semua kekurangan mbak Nela yang hobby berdandan dan shopping baju baru demi penampilannya.
Semua melihat kebahagiaan rumah tangga mbak Nela. Demikian pula si Fatma merasakan betapa Mas Prio sangat memanjakan Mbaknya yang ia sayangi itu. Fatma belum memahami apa sebenarnya yang terjadi. Fatma hanya paham betapa mas Prio sangat menyayangi mbak Nela.
Suatu ketika, mbak Nela dengan santainya berfoto mesra dengan laki-laki teman sekantor mas Prio di sebuah acara, namun dengan sigap Mas Prio mengambil camera dan turut memotret momen itu demi menutupi rasa malunya dan untuk tetap menghormati istrinya agar tak terkesan salah di mata orang lain. Mas Prio sangat melindungi mbak Nela yang sering sembrono dalam bergaul.
Tahun berganti, hingga Fatma dewasa dan memahami apa sebenarnya yang terjadi antara mbak Nela dan Mas Prio. Fatma sering mendapi Mbak Nela tetap asyik dengan hapenya, sementara Mas Prio sendiri di kamarnya. Bahkan mbak Nela tampak sedang asyik menelpon ntah siapa suara laki-laki di ujung sana yang dari raut wajah mbak Nela sedang tersipu menikmati rayuan gombal.
Fatma mulai sering mendapat curhat dari Mas Prio. Fatma hanya bisa menjadi pendengar yang baik tanpa bisa berbuat apa-apa. Fatma hanya prihatin melihat mas Prio yang begitu sabar menghadapi mbak Nela yang meskipun manja pada suaminya, ia pun bisa manja pada siapapun yang merayunya.
Fatma mulai bisa menilai kehidupan rumahtangga mbak Nela. Fatma pun sesekali berupaya mengingatkan mbak Nela supaya bisa lebih menjaga hati Mas Prio. Namun mbak Nela selalu mengelak, ia selalu mengatakan bahwa semua yang akrab dengannya adalah teman baik bagai saudara. Begitulah mbak Nela, selalu ada alasan untuk membenarkan tindakannya.
Fatma mulai bisa melihat bahwa sebenarnya mas Prio tertekan dengan kebiasaan mbak Nela, namun demi kehirmatan dan demi anak-anak, Mas prio selalu menutupi kesalahan istrinya. Mas Prio selalu membela mbak Nela sebesar apapun kekeliruannya. Hal ini menjadikan mbak Nela serasa mendapat restu dan semakin manja semaunya bertindak asal ia senang. Namun tak ada manusia super, Mas Prio akhirnya jatuh sakit.
Apakah mbak Nela merawat mas Prio dengan baik? (Bersambung)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
